UniqMag
ad

Nenek Renta Ini Ungkap Soal Babat Alas Pariopo Situbondo 

berita terkini
Nyi Hati bersama anaknya Sarwiya
ad

SITUBONDO, (suarajatimpost.com) - Meski upacara adat Pojhian Hodo yaitu upacara untuk memohon turunnya hujan yang dilaksanakan masyarakat Pariopo, Asembagus-Situbondo secara turun temurun berlangsung setiap tahun, nenek berusia lebih dari 100 tahun ini tidak pernah hadir. Pasalnya, kondisi fisik yang tidak memungkinkan.

Siapakah nenek tersebut? Ia adalah keponakan Ju' Modhi', perintis Pojhian Hodo. Nenek tersebut bernama Nyi Hati alias Bu'Madhi.

Ia satu-satunya narasumber yang masih ada yang melihat langsung aktifitas Ju'Modhi'.

Ditemui suarajatimpost.com pada Senin (30/10) sore, Nyi Hati mengisahkan jika Modhi', pamannya kabur dari penjara Hindia Belanda dengan membobol atap genteng.

"Ada sekitar 15 orang yang kabur saat itu.
Beliau (Modhi', red) datang membuka hutan di sini lalu tinggal di sini," terang Nyi Hati.

Ditambahkan jika pembabat hutan tidak hanya satu. Para pembabat hutan itu mulai mengkapling tempat tinggal masing-masing.

Lebih jauh Nyi Hati menyebut jika saudara kandung Modhi' adalah Kadir, Inna dan Rukmi.

"Saya adalah anak dari Kadir.Ibu saya bernama Jamiya," tegas Nyi Hati.

Menurut Agung Hariyanto, aktivis budaya lokal, dimungkinkan ketokohan Ju' Modhi' diakui di masanya.

"Sampai ada asumsi, Ju' Modhi' sebagai pembabat hutan awal. Yang benar bersama-sama Ju' Eni', Ju' Sembang dan juga Ju' Hayap. Tapi kita menduga Ju' Modhi' adalah pelopornya," kata Agung.

Sementara itu, Ke Absu, cicit langsung Ju'Modhi'yang berusia hampir 80 tahunan menyatakan bahwa ia menikah dengan cucu Ju' Hayap, salah satu pembabat alas juga.

"Keturunan para pembabat alas di sini dinikahkan agar semakin dekat," ucap Ke Absu.

Faktanya, masyarakat Pariopo memegang teguh adatnya hingga kini.

"Pokoknya, dengan kekerabatan ini kita makin dekat dan kompak melaksanakan adat istiadat ini," pungkas Ke Absu, yang menjabat sebagai Ketua Komunitas Adat Pariopo.

Berdasarkan informasi yang dihimpun suarajatimpost.com, tetua adat yang masih eksis di antaranya adalah Nyi Sarwiyah, yaitu anak dari Nyi Hati. Ia dikenal sebagai penentu jadwal dimulainya rangkaian upacara adat Pojhian Hodo.Tahun 2017 ini dimulai pada 3 November 2017 dari Ghunong Masali dan Sombher. Berikutnya dilanjutkan komunitas adat.

Reporter : Irwan Rakhday
Editor : Winzani
ad
Berita Sebelumnya Ribuan Guru Berharap Bupati Jember Tepati Janji 
Berita Selanjutnya Puting Beliung 'Ngamuk', Puluhan Rumah Warga Sumenep Hancur

Komentar Anda