UniqMag
ad

Muhamad Warga Jember Bertahan Hidup Dengan Menjual Sapu Lidi

berita terkini
Muhamad warga desa Lembengan Kecamatan Ledokombo Kabupaten Jember saat menjajakan sapu lidi (3/06) Foto : Maz Imam
ad

JEMBER - Terlihat seorang bapak tua dengan siaga memanggul beberapa ikat sapu lidi, dengan diikat tali karet ban, memakai baju lengan panjang berwarna putih, dipadukan dengan kopyah hitam dengan kombinasi kuning sudah mulai lusuh.

Celana pendek berwarna kuning sudah terlihat terkoyak mulai lepas dari jahitannya, tas hitam dengan motif kuning emas yang biasa dipakai ibu rumah tangga, dengan percaya diri disanggul, entah apa isi di dalamnya.

Tatapannya lirih namun bersahabat, seakan penuh harap, menggambarkan kesabaran dan ketulusan dalam menjalani hidup, keriput dan garis kerut mulai terlihat menandakan kalau dirinya sudah memasuki usia senja. 

Badannya yang mulai membungkuk mengisyaratkan beratnya perjuangan dan beban yang harus dia pikul. Tak muluk -muluk, mimpi terliarnya hanya ingin membetulkan rumah yang ia tempati dan mempunyai tabungan, dari sisa balanja dia kumpulkan demi masa depan.

Muhamad warga sekitar memanggilnya, dia lahir sekitar tahun 50 an, lima tahun setelah bangsa ini merdeka, karena saat ditanya dia juga lupa tanggal berapa lahir, karena KTP yang seharusnya disimpan, entah kesingsal kemana, ya, rabo kliwon itu saja ingatnya.

Dia tinggal bersama istri tercinta di sebuah gubuk tua yang sudah kurang layak ditempati, di Dusun Klonceng Utara, Desa Lembengan, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember. Bapak tua ini dikenal oleh warga sebagai sesosok peramah dan ringan tangan.

Untuk makan, satu hari cukup setengah kilo sekali masak, maklum saja, dia hanya tinggal bersama sang istri tercinta. Dari situlah sangat menjalani hidup pantang menyerah karena dia sadar harus betul-betulempersiapkan masa depan karena dia tak punya keturunan

Profesi yang dia lakoni sebagai penjual sapu lidi keliling, sudah lebih 5 tahun. Tak banyak hasil yang dia peroleh, 1000 Rupiah saja per satu ikat, sekali jalan dia membawa 15 ikat. Itupun tak tentu, kadang bisa habis kadang juga tersisa.

Muhamad harus menempuh puluhan kilometer menawarkan barang dagangannya hanya demi ingin menyambung hidup dan mimpi yang harus dia raih, bahkan, dia harus berjalan kaki disepanjang jalan aspal menuju pasar Kalisat, Sukowono dan Sempolan. agar apa yang dia jajakan bisa laku. 

Ditambah kondisi fisik berjalan kurang normal, akibat terjatuh, namun semangat dan kegigihannya untuk keluarga, mampu mengalahkan kekurangan fisik. Baginya tak ada alasan untuk tidak bisa bekerja.

"Tak tentu cong, kalau ada rejeki bisa habis semua, kalau tak ada rejeki mungkin hanya satu saja, hari ini baru laku 2, semoga di bulan ramadhan ini kita sama-sama diberikan rejeki yang barokah, sehingga kita bisa merayakan har raya," tuturnya memelas sambil sesekali mengusap keringat yang mulai turun.

Diceritakan Muhamad, kalau dirinya sudah terbiasa menempuh puluhan kilometer dengan perut kosong, seperti sebelum bulan Ramadhan, walaupun letih dan haus karena kepanasan tanpa alas kaki, dirinya mengaku masih tetap berpuasa, alasannya itu adalah wasiat orang tuanya.

"Almarhum titip pesan sama saya sebelum meninggal, tak ada alasan untuk tidak berpuasa, bukankah manusia hidup didunia ini hanya mondok saja, rugi sendiri cong kalau tidak puasa," katanya dengan nada terbata-bata.

Bahasa yang kurang begitu jelas, maklum saja dirinya mengaku tidak lulus SD,"Saya tak sempat sekolah karena dulu waktu kecil membantu orang tua, mencari nafkah," tambahnya.

Diakui Muhamad, sapu lidi yang dia jual hanya mencari hasil, karena dirinya tak punya pohon kelapa sendiri, ditambah dirinya jatuh dari pohon kelapa sehingga sampai saat ini dirinya mengaku trauma, karena sampai saat ini kondisi kaki kurang sempurna.

Keperihatinan juga disampaikan oleh Haji Malik (67) salah satu toko masyarakat setempat, dikatakannya kalau kondisi Muhammad memang betul-betul miskin, dan kesehariannya juga tidak menentu.

"Muhamad penjual sapu lidi warga disini, tak tega melihat kondisi ekonominya, dari mana mas dia makan mas, sawah gak ada, untuk bekerja saja kondisi fisiknya juga tak memungkinkan," jelasnya.

Tak banyak keinginannya dalam bulan suci ini, hanya ingin sama seperti tetangga yang lain, saat merayakan Idul fitri, "Tak ada persiapan apa-apa, jangankan daging, kue pun tak ada, baju saya tidak kepikiran asal suci dibuat sholat cukup. Yang terpenting puasa tuntas," jelasnya sambil sesekali menawarkan sapu lidinya kepada orang yang lewat.

Muhamad adalah saah satu potret kemiskinan bangsa dari ribuan warga miskin lainnya, dari Muhamad kita bisa bisa belajar hikmah, bagaimana menjadi orang yang sabar dan kokoh menjalani hidup.

Dan yang terpenting bagaimana senantiasa mampu menghadirkan rasa syukur dengan berbagi, karena diluar sana masih terdapat ribuan saudara kita yang kelaparan. Belajar dari Muhamad bagaimana mempunyai prinsip untuk tetap menjalankan kewajiban dengan kondisi apapun.(*) 

Reporter : Imam Khairon
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Pemkab Bondowoso Akan Melindungi Lahan Dan Tanaman Singkong
Berita Selanjutnya Bekas Makam Pahlawan Letnan Nidin Di Situbondo 20 Tahun Tak Dikunjungi

Komentar Anda