UniqMag
PASANG IKLAN

Pegabdian 'Abadi' Seorang Sunarip, Menjadi PTT di Jember Selama 25 Tahun Lebih

berita terkini
Sunarip (63) Warga Dusun Ruju-ruju Desa Sumbersalk, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember PTT SDN Sumber Salak 4
inf

JEMBER, (suarajatimpost.com) - Bagi sebagaian orang, mengabdi kepada instansi pemerintah menjadi sukwan (Pegawai Tidak Tetap) PTT tentu memiliki harapan untuk bisa diangkat menjadi (Pegawai Negeri Sipil) PNS untuk pengabdiannya.

Tapi tidak bagi Sunarip (63) Warga Dusun Juhrojuh, Desa Sumbersalak, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember Jawa Timur.  

Kendati umurnya sudah melebihi 60 tahun lebih, dirinya masih tetap semangat mengabdi sebagai tukang sapu dan bersih-bersih di Sekolah Dasar Negeri Sumbersalak 4 desa setempat .

Profesi ini, dia lakoni sejak tahun 1990 pada masa orde baru hingga detik ini, masih tetap mengabdi menjadi pesuruh.

Hal itu bisa dibuktikan, dengan Surat Tugas menggunakan kertas lama, yang dikeluarkan oleh seorang kepada sekolah bernama Marsahe pada tanggal 20 Mei 1990 kala itu.

Sejak itu, dirinya sudah meniatkan diri mengabdi kepada negara, meskipun hanya menjadi pegawai tidak tetap di struktur kepegawaian paling bawah.

Diakuinya, gaji pertama yang dia terima kala itu, hanya Rp 25.000 setiap bulannya. Namun, tetap saja dijalani. Maklum saja, hanya ijzah setara SMP yang dia sodorkan saat melamar.

“Waktu itu saya masih belum punya anak, sekarang sudah punya cucu. Dulu hanya digaji Rp 50.000 kadang ya diberi sayur dan kelapa oleh warga. Kalau dihitung sampai hari ini 28 tahun saya mengabdi,” jelas Sunarip, sambil menunjukan secarik bukti kertas.

Kata Sunarip, seangkatan dengannya kebanyakan sudah banyak yang terjaring PNS. Karena setiap pendataan seperti K2 selalu dimasukan.

“Pada waktu pendataan K2 saya tidak dimasukan. Katanya, faktor usia karena tidak bisa menjadi PNS. Anehnya, ada juga yang usianya melebihi kok bisa masuk. Biarlah, saya pasrah pada nasib, jadi PNS atau tidak saya memilih tetap mengabdi di sekolah ini sampai akhir hayat saya, mungkin ini sudah menjadi nasib saya,” jelasnya dengan memelas.

Beruntung, walaupun sudah tidak ada harapan menjadi PNS, dirinya masih menyempatkan diri beternak sapi dan kerja sampingan sepulang sekolah. Hingga akhirnya, mampu menyekolahkan anaknya sampai bangku kuliah.

“Ke dua sanak saya nantinya yang akan melanjutkan perjuangan saya sekolah ini. Yang satu tercatat sebagai K2 lulusan D2 PGSD. Dan yang satunya lagi masih kuliah di Al-Qodiri, pengabdiannya sudah lebih 10 tahun, yang satunya 6 tahun,” paparnya.

Namun sayang, keberuntungan rupanya kembali tidak berpihak kepada ke dua putranya. Pada saat Bupati Jember memanggil tenaga honorer ke duanya pulang dengan tangan hampa.

“Mungkin karena S1 nya belum keluar. Mungkin ini sudah nasib keluarga saya, selamanya menjadi abdi negara, saya hanya bisa menghela nafas ketika yang mengabdi baru saja dapat SK sedangkan anak saya yang sudah sepuh tahun lebih belum apa- apa,” ucapnya.

Sunarip mengatakan, kedua anaknya hampir saja putus asa mau alih profesi. Setelah disadarkan dan dijelaskan bahwa hidup didunia ini hanya perjalanan bukan tujuan akhir.

“Kalau saya ikhlas pengabdian saya tidak dihargai. Saya ikhlas saya tidak menjadi PNS. Tapi minimal hargai perjuangan anak saya, yang sampai saat ini masih belum apa-apa. yang didapatkan hanya NUPTK dan SK kepala sekolah dan gajipun masih belum jelas,” paparnya.

Menurut Sunarip, anak tertuanya mengabdi sepuluh tahun lebih memegang kelas. Tapi sayang, sejak ada peraturan baru (ada pembagian target jam mengajar), dirinya digantikan dan tidak lagi pegang kelas lagi.

“Ijazah anak saya yang K2 lulusan D2 PGSD. Tapi mengapa, yang mengabdi lama harus digeser karena kuliahnya belum selesai,” ungkapnya.

Dirinya berharap, Bupati Jember bisa memberikan ruang kepada kedua putranya untuk bisa tetap mengabdi untuk melanjutkan perjuangannya.

“Saya ingin sekali ketemu bupati, menyampaikan uneg-uneg saya. Ini saya Ibu Bupati faida, sukwan pinggiran, apakah anak saya yang sudah mengabdi puluhan tahun harus juga terpinggirkan gara-gara belum selesai S1?, “ ungkapnya sembari air matanya menetes.

Sementara Budi Gunawan, M.Pd, salah seorang pemerhati dunia pendidikan Kabupaten Jember, mengaku sangat terenyuh dengan cerita Sunarip.

Menurutnya, apa yang terjadi kepadanya, merupakan pelajaran bagi para pemimpin di tingkat lembaga, untuk benar-benar memperhatikan nasib bawahan.

“Pemerintah wajib hukumnya memberikan penghargaan kepada beliAu. Walaupun tidak mejadi seorang PNS . Minimal, ada reward dan perhatian. Jangan sampai ada lagi Sunarip lain ke depannya, hanya karena tidak diikutkan pendataan,” pintanya.

Pria yang berprofesi sebagai kepala sekolah di Sekolah Negeri Ajung 2 ini berharap, Bupati Jember untuk bisa memberikan ruang untuk bia menemuinya.

“Salut pada pak Sunarip, saya betul betul salut. Inilah pengabdian yang sesungguhnya, inilah seorang inspirasi abdi negara yang benar-benar mengabdi, dan rela melanjutkan pengabdiannya walaupun yang diharap tidak bisa lagi didapatkan,” tukas Budi.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Arifin Angwa
inf
Berita Sebelumnya Perahu yang Nyaris Karam di Sumenep Ternyata Mengangkut 34 Orang
Berita Selanjutnya Sidang Pembobol Situs Mabes Polri Ditunda

Komentar Anda