UniqMag
Perum Bojonegoro

Kisah ‘Mbah Jagung’ Jember, Usia Senja, 8 Tahun Tinggal di Trotoar

berita terkini
Sringah dan Poniran saat ditemui di lapaknya di Jalan Raya Semboro-Umbulsari
inf

JEMBER, (suarajatimpost.com) - Di bawah sinar senja, sepasang kekasih lanjut usia, yang biasa disapa ‘Mbah Jagung’ menjalani rutinitas hariannya. Mereka menjajakan jagung bakar di sebuah lapak sederhana. Tanpa dinding dan hanya beratap plastik. Lapak itu berdiri di atas trotoar jalan raya Semboro-Umbulsari, Kabupaten Jember.

Gigihnya ‘Mbah Jagung’ dalam mengais rezeki diakui oleh masyarakat lingkungan sekitar. Bahkan, meski hingga larut malam, mereka masih saja sibuk dan membiarkan tubuh rentanya dihempas ganasnya angin malam.

Nama asli mereka adalah Poniran dan Sringah. Usia keduanya terpaut 20 tahun. Sang kakek berusia 88 tahun. Sedangkan si nenek 68 tahun. Mereka asal Desa Jatisongo Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember.

Dengan usia senjanya, mereka masih bersemangat mencari pundi-pundi rupiah dengan berjualan jagung bakar di tengah keramaian jalanan Kecamatan Semboro. "Saya buka dari jam lima sore sampai tengah malam," kata Sringah, saat ditemui di lapaknya, Selasa, (13/3).

Sore itu, Sringah mengisahkan kehidupannya. Mereka berjualan jagung bakar selama 10 tahun. Dulu, mereka setiap hari pulang ke rumahnya di Desa Jatisongo. Jaraknya sekitar 10 kilometer dari tempatnya berjualan.

Namun, belakangan kesehatan Poniran tak lagi mendukung. Pulang pergi semakin sulit dilakukan. "Kalau pulang, kami harus bayar ojek. Sejak suami saya sakit, sudah delapan tahun kami tinggal di trotoar ini. Terkadang jika kangen, baru rumah kami pulang," tuturnya.

Dulu Poniran menghidupi keenam anaknya dengan menjadi buruh tani dan pekerja serabutan. Kini, anak-anaknya sudah berumah tangga dan memiliki rumah sendiri. Poniran dan Sringah enggan merepotkan anak-anaknya. Mereka memilih hidup sendiri dengan dagangan jagung bakar itu.

"Syukur Alhamdulillah, mereka sekarang hidup layak dengan keluarganya. Saya dan suami sering dipaksa untuk tinggal bersama mereka, tapi memang kemauan kami seperti ini," tutur nenek tujuh cucu ini, seraya mengusap tetesan air mata.

Setiap hari, dagangan kakek dan nenek ini laris manis. Mereka mampu menghabiskan jagung bakarnya antara 50 sampai 65 biji yang dibelinya dari pengepul. "Namanya juga dagangan. Kadang ramai. Kadang sepi. Kalau ada yang grudug-grudug (pembeli yang datang di waktu yang sama). Mereka belinya tidak sedikit. Kalau pas lagi sepi, ya tidak sampai jual 20 biji perhari," sebut Sringah.

Terkadang, di beberapa malam, tubuh mereka basah kuyup akibat guyuran hujan. Dinginnya angin malam juga sering menyengat tulang-belulang yang sudah payah digerogoti usia. Mbah Jagung pantang menyerah mendapatkan rezeki yang halal.

"Meski sudah tua, kami tidak ingin merepotkan anak-anak. Apalagi orang lain. Dari hasil berjualan jagung bakar ini memang tidak seberapa, untungnya hanya Rp 1.000 per biji. Tetapi hasilnya cukup untuk menyambung hidup. Dan halal," ucapnya.

Poniran dan istrinya menjajakan tiap potong jagung bakarnya seharga Rp 2.000. Jagung bakarnya memiliki tiga rasa; manis, pedas, dan asin pedas. Setiap hari, Sringah disibukkan dengan tungku nya untuk membakar jagung. Sementara sang suami hanya duduk setia menemani.

"Dulu bapak yang ngipas (urusan perapian). Tetapi karena sakit, sekarang saya semua yang menggantikan perannya," kata Sringah masih penuh semangat.

Reporter : Puji SN
Editor : Zidan Wijaya
inf
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Angka Stunting Tinggi, Dinkes dan Desa Jampit Bondowoso Jemput Bola Melalui Pos Gizi

Komentar Anda