UniqMag
Perum Bojonegoro

Miris, Pensiunan PNS Asal Jember Ini Tak Ada Tempat untuk Pulang

berita terkini
Sunarto (67) warga Dusun Krajan Desa Cumedak Kecamatan Sumberjambe Jember.
inf

JEMBER, (suarajatimpost.com) - Miris, mungkin inilah kata yang pantas untuk seorang abdi negera bernama Sunarto (67) warga Dusun Krajan Desa Cumedak Kecamatan Sumberjambe Jember.

Dia bersama keluarga, tinggal di rumah sangat sederhana, di belakang SDN Cumedak 02 (tanah milik sekolah tidak produktif) yang terbuat dari bambu berlantaikan tanah.

Maklum saja, dirinya semasa bertugas gaji yang diperoleh harus menghidupi dan menyekolahkan 5 orang anaknya karena dia adalah tulang punggung keluarga.

Gaji seorang penjaga tidak cukup memang, satu-satunya jalan adalah menggadaikan SK pengangkatan kepada Bank dengan cara potong gaji setiap bulan.

Ya. Hanya cara itu yang bisa dia lakukan untuk bisa membantu kesulitannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kini, diusianya yang mulai memasuki senja, semua gaji pensiunnya nyaris tak tersisa. Hanya Rp 150.000 saja yang ditunggu setiap bulannya.

Bahkan, gaji 13 yang diharapnya turun per satu tahun sekali, sudah diamprakan pinjaman kemudian dibayarkan setelah cair.

Sayang dia tidak bisa menikmati masa tua layaknya pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) lainnya menikmati gaji pensiunannya secara utuh.

Jangankan sawah atau ladang sebagai aset  keluarga, sejengkal tanah pun untuk pulang saja dia tidak punya. Habis semua gajinya terpotong untuk bayar angsuran.

Bapak kelahiran 1946 ini, memilih tetap bertahan di tanah kas sekolah besebelahan dengan kuburan.Dimana dia pernah berdinas sebagai penjaga pada waktu itu.

Kendati harus menahan rasa malu, karena perlakuan sang kepala sekolah sebelumnya, pernah menyuruhnya untuk cepat angkat kaki pindah rumah. Padahal, kondisinya sangat tidak memungkinkan.

"Saya mengabdi puluhan tahun kepada pemerintah. Saya hanya numpang sementara. Saya tidak tau harus pulang kemana. Andai saya punya tanah, saya akan pindah sekarang juga," ujarnya sambil meneteskan air mata.

Tidak hanya itu, dirinya mengaku pernah dipanggil oleh pihak sekolah ke dalam kantor. Lagi-lagi, disuruh pergi.

Ya, hanya pasrah saja. Karena tidak ada pilihan lain. Sebagai gantinya agar tidak malu, meskipun tanpa dibayar dan tidak disuruh dirinya membantu menjagakan keamanan sekolah dan sekali-kali membantu membersihkan.

"Saya tinggal di sini tidak gratis numpang ke sekolah. Saya listrik bayar sendiri, air juga bayar sendiri," ucapnya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, dirinya bersama 2 orang anak dan cucunya harus kerja keras mencari kayu bakar, ranting kering untuk kemudian dia jual kepada tetangga.

"Anak saya ada yang sudah berkeluarga jauh ada yang masih tinggal sama saya. Kerja apa saja, yang penting bisa beli beras. Sekarang banyak yang tidak mau beli kayu bakar sudah pindah ke gas," ujar Sunarto sembari tersenyum kecil.

Anehnya, tanah kas sekolah yang ada masih sangat luas dan terkesan dibiarkan tertidur tak termanfaatkan, jika ditanami dan dikelola akan menghasilkan bisa dimakan. 

"Masa saya, banyak tanaman buah di sini, sayur, ubi-ubian, pisang. Jadi enak guru-guru tinggal metik," jelasnya.

Namun sayang, sekarang dirinya bukan lagi penjaga aktif seperti sebelumnya. Sehingga dirinya tidak berani untuk mengelola.

"Saya tidak berani menanami takut dimarahi apalagi sudah ada penjaganya. Dulu, masa saya banyak sayur dan buah di sini. Banyak pohon mindi, sekarang habis terpotong," bebernya.

Pria yang mulai memasuki usia senja ini hanya berharap, pemerintah masih bisa memberikan ijin untuk tinggal di tempat tersebut sampai anak-anaknya bisa membelikan pekarangan untuk dirinya pindah.

Salah seorang tetangganya, Khoiron (35) mengaku perihatin dengan kondisi Sunarto dan keluarganya.

"Benar-benar kasihan melihat perjalanan hidupnya. Harusnya pemerintah memberikan penghargaan, bagaimanapun dia pernah mengabdi puluhan tahun," pintanya.

Kata Khairon, selayaknya pemerintah memberikan penghargaan kepada penjuangnya kendati tidak harus dengan uang.

"Ijinkan dia tinggal di tempat yang tidak produktif itu karena tidak ada lagi untuk tempat pulang. Apalagi itu lahan tidak termanfaatkan suruh garap untuk biaya makan," harapnya.

Sunarto adalah salah satu contoh, dari sekian banyak Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kurang beruntung di masa tuanya.

Sunarto hanya berharap, pemerintah masih bisa memberikan kesempatan untuk sekedar tinggal selama dirinya masih belum mampu membeli tanah 

Semoga pemangku kebijakan bisa melihat dengan hati untuk bisa tergerak membantu meringankan beban hidupnya.

 

Reporter : Imam Khairon
Editor :
inf
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Kasdim 0720/Rembang Tinjau Langsung Lokasi TMMD

Komentar Anda