UniqMag
Perum Bojonegoro

Di Jember, Ada Nenek Buta Tinggal dengan Anaknya Penderita Gangguan Jiwa

berita terkini
Munirah, orang tua renta asal Jember
inf
JEMBER, (suarajatimpost.com) - Bertahun-tahun Nenek Munirah yang diperkirakan berumur 80 tahun, telah mengalami gangguan (buta) karena selama dia hidup lebih banyak menikmati kekurangan dan kemiskinan. 
 
Dia tinggal di rumah sangat sederhana di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember dengan kondisi sangat memperihatinkan.
 
Tempat tidur sehari-hari yang dia tempati lusuh tak terlihat lagi warnanya. Semua terlihat kotor bercampur debu seperti tak ada yang merawat. 
 
Ditemani anak semata wayang bernama Muhamad Syamsuri (50) yang sampai saat ini diketahui memiliki ganguan jiwa (stres) entah apa yang menjadi penyebabnya.
 
Di sisa umurnya itu, Nenek Munirah hanya mampu bertahan hidup di atas pembaringan yang terbuat dari bambu yang sudah tidak karuan bentuknya. Pasrah, tidak bisa melakukan pekerjaan apa-apa.
 
Anehnya, walau kondisinya kadang hilang ingatan, sang anak ini masih tetap bisa merawat ibunya walaupun itu terbatas. 
 
Tak jelas, dari mana makanan setiap hari yang dia dapat. Ya, hanya mengandalkan belas kasihan tetangga, itupun juga belum pasti.
 
Hanya tempat air yang terlihat kotor berada di samping pembaringan ibu tersebut, seakan menjadi barang paling istimewa di ruagan itu. 
 
Kendati banyak pejabat dan pelancong hilir mudik melalui  jalan itu, tidak semua mengetahui, jika ada seorang nenek hidup dengan serba kekurangan dan keterbatasan membutuhkan bantuan.
 
“Dia (Syamsuri) stres setelah pinangannya ditolak. Sampai sekarang belum menikah, masih membujang,” kata tetangga Munirah, Jumaliyah, saat ditemui sejumlah media, Rabu siang (25/4).
 
Menurut Jumaliyah, suami Munirah meninggal sekitar 10 tahun lalu. Sejak sang suami meninggal, Munirah harus banting tulang untuk menghidupi dirinya dan anak laki-lakinya.
 
“Dulunya Mbah itu jualan sapu, telur dan sayuran. Jualannya di pasar. Beliau jalan jauh dari rumahnya untuk berjualan itu,” kata Jumaliyah.
 
Namun seiring berjalannya waktu dan kondisinya yang mulai sakit-sakitan, Munirah kemudian tak lagi berjualan di pasar. Apalagi kondisi penglihatannya juga mulai terganggu.
 
“Akhirnya ya diam di rumah. Apalagi penglihatannya mulai terganggu. Lebih banyak berbaring saja di ranjang,” sambungnya.
 
Kondisi ini membuat sejumlah tetangga prihatin. Mereka pun kerap kali mengirim bantuan makanan untuk Munirah dan anaknya.
 
“Saudaranya juga kadang mengirim makanan,” tambah Jumaliyah. “Namun terkadang, jika anaknya sedang kumat, saat tetangga mengantar makanan ke rumahnya tidak dibukakan pintu. Tetangga hanya bisa maklum, karena juga tidak bisa membantu kondisi yang dialami mbah itu,” imbuhnya.
 
Mohamad Samsuri, penderita tuna netra
Mohamad Syamsuri, Putra Muniroh yang mengalami stres
Wanita itu berharap, ada kepedulian pemerintah terhadap kondisi Munirah dan putranya. Sebab kehidupan ibu dan anak itu memang sangat memprihatinkan.
 
“Dulu waktu dekat rumahnya ada selep (penggilingan, red) padi, masih sering dapat bantuan dari pemilik selep. Tapi sekarang selepnya sudah tutup,” ujar Jumaliyah.
 
“Dulu pernah dapat bantuan, rumahnya diperbaiki dengan ditembok bagian depan, sekitar tahun 2006 lalu. Tapi sekarang, belum ada bantuan apa-apa. Hanya mengharap belas kasih dari warga atau orang yang datang ke rumahnya,” tuturnya.
 
Sementara itu, Munirah sendiri sulit menjawab ketika diwawancarai wartawan. Wanita inii lebih banyak diam ketika diajukan sejumlah pertanyaan. 
 
Kata warga sekitar, hal itu disebabkan penyakit pikun yang dialami pada saat ini.
 
“Coba sampeyan kalau punya ibu seperti saya, sudah seharusnya dirawat, meskipun susah saat sakit dan buang air. Tapi tetap harus kita rawat dan dijaga, karena bakti kita sebagai seorang anak,” nyeletuk Syamsuri sembari berlalu.
 
Lengkap sudah penderitaan keluarga nenek Munirah ini. Semoga pemerintah bisa memberikan solusi dan menjamin kehidupan munirah karena itu adalah hak warga miskin karena sudah dijamin oleh undang-undang.
 
Sementara Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jember, saat dihubungi lewat pesan singkat  masih belum ada jawaban. (Ata/mam)
 
 
Reporter : Imam Khairon
Editor : Ananda Putri
inf
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Sambut Hari Anak Nasional, SAGA Tekankan Pentingnya Gawat Darurat Anak

Komentar Anda