UniqMag
Perum Bojonegoro

Wanita Renta di Surabaya Ini Terus Pertahankan Kerajinan Topeng Kertas

berita terkini
Ibu Kartini saat memproses Topeng Kertas
ad

SURABAYA, (suarajatimpost.com) - Topeng merupakan budaya Indonesia dari leluhur yang telah tiada. Kerajinan handmade topeng Indonesia saat ini hampir punah. 

Tetapi tidak dalam Sanubari Kartini (67), pengrajin topeng Surabaya yang dengan gigihnya berkeinginan untuk tetap melestarikan budaya topeng Indonesia. 

Usianya memang renta, tetapi kelincahan tangan dan semangat menghidupi keluarga masih bersarang dalam benak wanita berkeriput tersebut. Setelah suami berpulang pada Februari silam, ia memutuskan untuk tetap meneruskan pembuatan topeng. 

“Dulu kampung ini terkenal dengan produksi topengnya. Tetapi sekarang sudah punah, untuk itu saya ingin gencarkan lagi seperti apa kampung kita dulu,” ungkapnya. 

Sembari menempelkan kertas pada cetakan topeng, ia mengutarakan bagaimana keras usahanya untuk membeli kertas di daerah Stasiun Semut seharga Rp.3000,- per kilo, menggunting, melakukan proses penempelan, mengeringkan serta mencetak sepuluh bahkan lebih karya tangannya dalam sehari. Hal tersebut membuat ia harus menyewa jasa pijat untuk memulihkan kondisi tubuh.

“Saya difasilitasi pemerintah mengajarkan pembuatan dasar topeng di balai pemuda untuk anak SD, tapi tidak boleh dijual karena bayaran saya dari pemerintah,” ujarnya sambil menggunting kertas.    

Pembuatan topengnya tersebut tidak mengikuti harga pabrik saat ini. Ia menjual satu koding berisi 200 buah topeng dengan harga Rp.10.000,- per biji untuk didistribusikan ke pasar-pasar di Porong, Krian, dan Mojosari. Lain halnya dengan eceran, harga yang dipatok sebesar Rp.5000,- dengan mendatangi rumahnya langsung. 

“Untuk sekarang produk saya fullface wajah manusia, kera, naga, macan, dan barbie bed,” terangnya. 

Selama pengerjaan, ia dibantu oleh anakn serta cucunya. Terkadang Kartini bagian mencetak, anaknya menggunting helai kertasnya. Bahkan sesekali ia mengerjakan sendiri, saat sang anak masih sibuk mengurus rumah tangga. 

Ibu jebolan SGTK (sekarang SMP) tersebut mengaku sangat bergantung pada cuaca untuk produksi. Dirinya lebih bersyukur ketika hari panas dan terik dapat menjemur hasil tempelannya. Pernah beberapa kali ia telah mencetak tetapi cuaca mendung, dan ia terpaksa harus menunda pengiriman.  
Usaha yang Dilirik Oleh Pihak Asing

“Waktu itu menjelang tahun 2000, saya bekerja sama dengan seseorang dari Australia untuk membuat beberapa koding topeng buat dikirim langsung ke sana,” ujarnya sambil mengubah posisi duduk. 

Ia mengisahkan nikmatnya bekerja untuk orang dari luar Indonesia. Pihak Australia sangat disiplin waktu dalam bekerja. 

Misalkan pengiriman sudah tepat waktu, Kartini akan mendapatkan bonus lima persen diakhir bulan. Tetapi jika pengiriman terlambat, pembayaran juga terlambat atau bahkan tidak dibayar sama sekali.

Wanita yang telah memiliki cucu ini juga sempat ditawarkan untuk berangkat langsung ke Negeri Kangguru tersebut demi memudahkan proses distribusi. Tawaran tersebut ia tolak, dengan dalih ia ingin mengembangkan usaha handmade dinegaranya dulu. 

Tak hanya itu, Ia juga mengisahkan bagaimana dosen Austria pernah mengunjunginya. 

“Waktu itu dosen sama mahasiswanya datang langsung dari Austria minta diajarin buat topeng,” ujarnya terkekeh. 

Wanita nasrani tersebut berharap agar kerja kerasnya melestarikan budaya topeng ini akan dilihat masyarakat Indonesia. 

“Setidaknya ini budaya dari waktu ke waktu semoga ya tetap ada sampai kapanpun,” tutupnya. (N/F: Dewid)

Reporter : Redaksi
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Hati-hati Lowongan PT KAI Hoax

Komentar Anda