UniqMag
Perum Bojonegoro

Jejalkan Semangat Usaha Lewat Jajanan Khas Jarak Dolly Surabaya

berita terkini
R.R. Dwi Prihatin Yuliastuti Susanto saat menunkkan hasilnya
inf

SURABAYA, (suarajatimpost.com) - Setiap orang mempunyai benih kesuksesan yang akan ditanam dituai hasilnya. Kesuksesan yang berbuah manis tidak pernah luput dari proses yang panjang dan berliku. 

R.R. Dwi Prihatin Yuliastuti Susanto, seseorang yang berhasil mengembangkan benih kesuksesan dengan berjualan kerupuk Samijali di eks-lokalisasi Jarak.

Kisah bisnis wanita kelahiran Surabaya ini merupakan produsen dari kerupuk olahan rumah. Usaha yang dibangun April 2015 ini telah berhasil menyita perhatian masyarakat khususnya warga kota pahlawan. Nama bisnis kerupuk Samijali karena terinspirasi dari nama bang “Jali” yakni hasil singkatan kata Samiler Jarak-Doly, Nama jajanannya. 

Sosok yang akrab di sapa Bu Dwi ini mengikuti program pelatihan UKM yang dijalankan pemerintah khusus daerah Jarak. 

“Konsepnya makanan ringan, sama samiler tipis bulat belinya di Sidoarjo,” tutur wanita berkerudung tersebut. 

Delapan orang pekerjanya membeli samiler masing-masing dengan harga Rp.500,-. Adonan bulat tersebut kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bentuk sebelum akhirnya dijemur dan dikumpulkan dirumah bu Dwi. Tidak sampai situ, proses penjemuran sebelum produksi kembali dilakukan dua hari pasca dikumpulkan. Setelah benar-benar kering, kemudian digoreng di Balai RT.

“Kita juga Insyaallah jaga mutu dalam arti kita tidak pake minyak curah,” ungkapnya. 

Bumbu yang digunakan kebanyakan dibeli di toko kue terdekat. Dia juga menuturkan bahwa dirinya tidak memberikan toleransi bagi barang yang expired. Dwi mengaku tidak ingin bermain-main dengan dagangannya. 

Begitu satu bungkus kerupuk ketahuan sudah kadaluarsa, ia langsung membuangnya walaupun jika dibuka masih enak rasanya bila dikonsumsi. 

Bisnisnya bisa dibilang mendapat banyak bantuan berbagai elemen. 

“Pas itu diajak mahasiswa dan dosen dari ITS buat pameran sekalian promosi di event mereka. Jadi mereka mengerjakan tugas, saya juga berjualan disana, saling membantu istilahnya,” ungkapnya. 

Dengan bantuan Pemerintah pula, dagangan yang menjadi mata pencahariannya ini disuplai ke Balai Kota, Siola, dan beberapa warung di Surabaya.
Ketika memasuki fase proses pengerjaan, penyandang nama Raden ini dibantu oleh tetangga-tetangga yang juga mempunyai usaha sendiri. 

Ia mengatakan bahwa ada orang khusus untuk perbendaharaan dan pembukuan, sedangkan penjual dan pengantar produk dibantu oleh kakak kandungnya yang mendapat julukan “orang lapangan”. 

Ibu kelahiran tahun 1973 ini mengaku sangat ingin mempunyai rumah produksi sendiri untuk bekerja bersama rekannya. Selama proses pembuatan kerupuk, Dwi mengaku selalu mengerjakan dirumah dan di Balai Rt lantaran belum menemukan tempat dan biaya yang kurang mencukupi. Ia juga mengakui bisnisnya ini tumbuh lantaran lokalisasi Doly ditutup oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. 

Dirinya mengakui yang disukai dari usaha ini yakni jika ia menjual kepada pembeli warung ataupun toko- toko mall, selalu dibeli dengan harga yang ia patok. 

“Nggak pernah ada misalnya ‘Bu saya beli Rp.12.500,- dari ibu’ itu gak ada mas,” menurutnya.

ia justru menginginkan adanya bisnis UKM yang bersaing secara sehat. Lulusan SMEA PGRI Surabaya tersebut menuturkan banyak sekali stigma negatif soal UKM, baik itu yang usahanya tidak laris maupun kondisi bisnis yang tidak menentu. 
Samijali memiliki rasa yang bermacam dan ukuran yang berbeda. 

Pilihan rasanya meliputi keju, balado, original, sapi panggang dan sebagainya. Ukuran ia buat menjadi tiga, yakni ukuran silver dengan harga Rp.15.000,- medium Rp.12.000,- dan small seharga Rp.10.000,-. 

Pemesanan pun tidak dapat di prediksi jumlah totalnya. Sebulan, Dwi dapat mencakup omset sebesar Rp. 300.000,- hingga Rp.400.000,-.

“Kalau untuk para pekerja tergantung dapetnya saya perbulan mas, kalau saya dapat 400, anggota yang lain dapet 300, kalau saya dapat 300, yang lain dapat 200,” ungkapnya.

“Kendala kita pasti cuaca. Pernah ada mahasiswa yang berkunjung kesini dan menawarkan bantuan dalam produksi. Saya cuman minta gimana cara pengeringan dan penyimpanan tanpa harus menggunakan matahari,” ungkap Dwi. 

Baik pada proses pembuatan maupun pengemasan, dirinya selalu bergantung pada weather. Sekali kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dia terpaksa tidak produksi pada hari itu.

Wanita 46 tahun tu berharap untuk kedepan bisnisnya mengalami kemajuan walaupun perlahan. Selain itu ia ingin menghilangkan stigma negatif soal UKM di masyarakat Surabaya, agar masyarakat dapat menjadi lebih kreatif dan produktif dalam bidang bisnis dan usaha.(N/F:Dewid)

Reporter : Redaksi
Editor : Ismi Fausiah
inf
Berita Sebelumnya KPU Jombang Adakan Bimtek dan Simulasi Pada PPK se-Kabupaten
Berita Selanjutnya Belum Dilantik, Bupati Jombang Terpilih, Sudah 'Diwarning'

Komentar Anda