UniqMag
Perum Bojonegoro

Menelusuri Jejak Kadipaten Balumbung di Situbondo

berita terkini
Para pegiat sejarah tapal kuda di Situs Melek yang diduga titik pusat Kadipaten Balumbung.
inf

SITUBONDO, (suarajatimpost.com) - Siang itu, Ahad (29/7/2018) Rumah Sejarah Balumbung di Kecamatan Asembagus, sebuah bilik bambu tempat penyimpanan benda purbakala ramai dikunjungi para pegiat sejarah. 

Lebih dari 20 orang hadir melakukan pendokumentasian sejumlah artefak dari masa klasik.

"Silahkan masuk dan berfoto-foto," sambut Iwenk Lametan,  Kordinator Relawan Budaya Balumbung.

Para tamu yang tak lain juga warganet komunitas dan lembaga pegiat sejarah tapal kuda yang tergabung dalam DANG ACARYA (Dewan Perjuangan dan Advokasi Cagar Budaya) tampak antusias mengobservasi koleksi langka itu.

Sejumlah barang kuno antara lain, fragmen keramik dan terakota, umpak, bata merah, tempayan, pipisan, bakalan arca dan lain-lain terjajar rapi di atas rak kayu sederhana. Itu adalah artefak dari srjumlah titik situs. Namun lebih dari 80 persen adalah artefak temuan dari situs Melek.

Iwenk mengaku kehadiran DANG ACARYA membawa semangat baru bagi pergerakan wacana sejarah tapal kuda.

"Hari ini kita  melakukan progres penelusuran sejarah khususnya Balumbung, atau yang kita sebut dari masa klasik. Di Situs Melek sama sekali tidak pernah ditemukan artefak atau pun fragmen dari masa Kolonial.
Apa artinya ? Artinya, struktur yang terpendam di dalam tanah lebih dari 2 meter ini tidak pernah ditemukan oleh peneliti masa kolonial. Kita meyakini ini dari masa klasik. Dan berdasarkan peta kuno, di sini  diduga merupakan titik wilayah Kadipaten Balumbung.
Berikutnya, saat Balumbung hilang, muncul nama Prasada dan Sidapurna," terang Iwenk.

Usai mengobservasi 'musium mini' itu, para pegiat sejarah melakukan diskusi di Balumbung homestay yang  terletak di utara Taman Kota Asembagus.

Berikutnya, mereka melakukan penjelajahan. Kegiatan yang diikuti sejumlah elemen komunitas dari Jember dan Lumajang itu melibatkan para pegiat sejarah dan penulis buku sejarah. Penelusuran sejarah Kadipaten Balumbung dalam lini masa Majapahit itu memang dipusatkan di Kecamatan Banyuputih.

Pertama, tim melakukan observasi ke Situs Banyuputih yang terdapat prasasti Widoropasar. Prasasti yang berangka tahun 1377 caka atau 1455 Masehi itu disinyalir merupakan prasasti yang dibuat pada masa akhir kerajaan Majapahit.

Seusai dari Situs Banyuputih, tim bergerak ke Situs Melek, Dusun Krajan, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih.

Di Situs Melek, tim melakukan pendokumentasian serta menganalisa sejumlah artefak dan struktur bata.

Elemen yang terlibat antara lain,
Bhattara Saptaprabhu, Jember. Kemudian 
Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit (MPPM) Timur, Lumajang, 
LSM Wirabhumi, Situbondo, 
Relawan Budaya Balumbung, Situbondo, Komunitas PRASADA serta
Tim PP ODCB (Percepatan Penetapan Obyek Diduga Cagar Budaya) Situbondo.
 
Sementara itu Ketua Umum DANG ACARYA, Mansur Hidayat mengatakan perlu diadakan seminar Situs Melek.

"Ini penting kita gelar, agar penanganan terhadap Situs Melek makin diseriusi," kata Mansur.

Para pegiat sejarah tapal kuda di Situs Melek yang diduga titik pusat Kadipaten Balumbung.

Reporter : Irwan Rakhday
Editor : Ananda Putri
inf
Berita Sebelumnya Amazing, Pemkab Blitar Kenalkan Kopi Khas Blitar dengan Festival
Berita Selanjutnya Masalah Akte Kelahiran, Sutiaji: Kami akan koordinasi dengan RT/RW

Komentar Anda