UniqMag
ad

‘Tangisan Perempuan' di Jalur Gumitir Jember Banyuwangi

berita terkini
Sunni (70) warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, saat menjadi 'Awe-awe' di jalur hutan Gumitir Jember Banyuwangi
ad

JEMBER, (suarajatimpost,.com) - Seorang nenek tua yang bernama Sunni (70) warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, mengaku setiap hari harus berjalan kaki menuju jalan Gumitir, untuk sekedar menjadi ‘awe-Awe’ atau menyapa pengendara yang lewat dengan isyarat tangan dipinggir jalan hutan yang dilalui kendaraan.

Di sekitar jalan pemancar TVRI dirinya menunggu belas kasihan pengemudi yang lewat, Sunni sesekali melambaikan tangan dan menyapa pengendara, hampir separuh waktunya dalam sehari dihabiskan hanya duduk diatas batu di pinggir jalan.

Tak sedikitpun rasa takut nyawanya terancam, apabila ada kendaraan yang lalai melewati bahu jalan tak membuatnya gentar.  Demi menunggu lemparan receh dari pengemudi yang lalu lalang melintas takia hiraukan.

Isu ‘Pasar Misterius’ yang di bicarakan masyarakat tak membuatnya takut, walupun malam hari dirinya tetap merasa biasa.

Baca : 'Pasar Misterius' di Jalur Gumitir Jember Banyuwangi

“Tak tentu nak, kadang 10 ribu, kadang hanya dapat makanan, tergantung rejeki , yang penting ibu sudah berusaha, suami saya sudah meninggal, anak saya satu-satunya mengalami cacat mata tidak bisa melihat, terpaksa saya kerja seperti ini, katanya sembari menangis mengusap air matanya.

Profesi yang menantang resiko tersebut harus dia lakoni seorang diri, demi menyambung hidup mencari nafakah mau tidak mau harus dia lakukan, beruntung, beras dari pemerintah dia dapat bagian, walaupun harus menebus.

“Untung Ibu dapat beras dari pemerintah, itupun turunnya tak tentu, saya juga harus mencari uang untuk menebusnya, kalau ibu nunggu bantuan itu, mungkin ibu mati kelaparan, ya harus bekerja seperti ini, mau bekerja kebun tenaga ibu sudah tua,” tuturnya dengan nada terbata-bata.

Keriput di wajah sudah jelas terlihat, langkah kaki saat berjalan sudah tak lagi sempurna. Namun, semangat untuk bekerja dan berusaha masih berapi –api, walau kondisi tubuhnya sangat tidak memungkinkan.

Ibu satu orang anak ini mengaku pernah hampir tertabrak bis saat mengambil uang receh, namun nasib baik masih berpihak padanya.

“Waktu itu saya mengejar uang 500 rupiah yang dilempar salah satu pengendara sepeda motor, saking kesusunya saya  tidak melihat bus dari arah timmur, beruntung sopir busnya baik, langsung rem mendadak, semua menjerit nak, kurang 1 meter membentur saya,” katanya.

Sambil tersedu-sedu menangis ibu tua ini berpesan kepada penulis, agar selalu ingat dan mau berbagi kepada sesama, khususnya masyarakat miskin yang kelaparan.

“Ibu mendoakan agar dirimu kelak apabila sudah sukses, tolong ingat fakir miskin dan kesusahan ya nak, walaupun hanya 500 rupiah, itu sangatlah berharga, dan jangan sampai sombong dengan kekayaan dan jabatan yang kamu emban, karena esok akan dimintai pertanggungjawaban,” katanya.

Tak banyak harapan ibu berambut putih ini, hanya  mencari rejeki halal untuk sangu ibadah, “Ibu hanya ingin masuk surga bersama anak saya yang buta itu, di dunia kami susah barang kali di akhirat kami bahagia,” tuturnya sembari sesekali mengusap air matanya.

Ibu Sunni salah satu potret kemiskinan Kabupaten Jember dari ribuan masyarakat yang kehidupannya sangat jauh dari kata layak, dari sesosok permempuan ini kita bisa belajar untuk selalu ingat kepada saudara yang mengalami kemiskinan dan kelaparan.

Reporter : Imam Khairon
Editor :
ad
Berita Sebelumnya Begini Sejarah Penamaan Air Terjun 'Damar Wulan' Jember
Berita Selanjutnya Korem Dhirotsaha Jaya Madiun Peringati Harkitnas ke 109

Komentar Anda