UniqMag
Diknas Jombang

Ada Fenomena Alam di Bawah Jembatan Suramadu, Apa Itu?

berita terkini
Warganet saat mengabadikan foto fenomena alam di bawah jembatan Suramadu
Berita 1

SURABAYA, (suarajatimpost.com) - Hari ini ada berita terkait video viral di sosial media. Yaitu berita tentang fenomena air laut terpisah di bawah Jembatan Suramadu. Fenomena ini menjadi tontonan warga, kemudian ada yang merekamnya dan mensharenya ke akun sosial media. Salah satunya adalah dishare oleh akun facebook Mohammad Fahrizal. Info tersebut dilansir oleh bonsaibiker.com

Publisher di web tersebut yang bernama bonsaibiker, ia menjelaskan, fenomena alam air laut terpisah di Suramadu, kejadian seperti ini memang bisa dijelaskan secara ilmiah. Jadi cukup simpel, bahwa penyebabnya adalah pertemuan dua arus air laut yang berbeda kadar garamnya.

“Kemungkinan yang satu yang warna butek, masih baru bercampur dengan air tawar dari darat atau dari sebab lainnya, dan yang satunya adalah yang sudah murni air laut. Jadi keduanya terpisah seperti yang nampak dalam fenomena tersebut,” ucapnya pada artikel tersebut. Rabu, (20/3/2019).

Tak hanya itu, tulisan akun bonsai tersebut menjelaskan, Air laut terpisah disebut dalam Al-qur’an, fenomena air laut terpisah ini memang disebut dalam Q.S. Ar-Rahman:19-20 yang berbunyi, “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.”

“Yang disebut dalam Al-Qur’an adalah bertepatan dengan fenomena yang terjadi pada arus Selat Gibraltar yang tak menyatu. Hal ini diketahui bahwa di laut ini memang sangat besar arus di bagian bawahnya,” terangnya.

Sebabnya yaitu perbedaan suhu, kadar garam, dan kerapatan air (density)nya. Sementara itu air laut di Laut Tengah (Mediterania) memiliki kerapatan dan kadar garam yang lebih tinggi dari air laut yang ada di Samudera Atlantik. 

“Sifat air dipahami bahwa akan bergerak dari kerapatan tinggi ke daerah dengan kerapatan air yang lebih rendah. Nah arus di selat Gibraltar bergerak ke barat, menuju Samudera Atlantik,” tambahnya.

Selanjutnya, masih dengan Bonsai, ternyata air ini tidak bercampur dengan air di Samudera Atlantik. Jadi saat air laut dari Laut Tengah menuju Samudera Atlantik, keduanya tidak bercampur bak ada sekat yang memisahkan. 

“Jadi keduanya memang mempunyai karakteristik yang berbeda. Mulai dari suhu air, kadar garam, hingga kerapatan air (density) air, semuanya berbeda. Maka saat kedua air itu bertemu di Selat Gibraltar, karakter air dari masing-masing laut tidak berubah. Jadi tetap tak menyatu,” tutupnya.

Reporter : Arianto
Editor : Krisdiantoro
Berita 2
Berita Sebelumnya Begini Misteri Pulau Baru di Gili Raja Sumenep
Berita Selanjutnya Dinas PMD Probolinggo Gelar Sosialisasi APBDes 2019

Komentar Anda