UniqMag
spece

Wiji Fitriyani Pengidap ODGJ Doyan Nyemil Jemarinya, Dirujuk ke RSJ Menur

berita terkini
Wiji mendapatkan perawatan dari dinsos prop jatim
Berita 1

KEDIRI, (suarajatimpost.com) - Setelah dilakukan peninjauan oleh Dinsos Kabupaten Kediri. Ternyata penyakit yang dialami warga Dusun Tambak, RT 02 RW 07, Desa Ngadi Kecamatan Mojo, seperti yang sempat viral di Medsos adalah gangguan jiwa dan gangrene yang disebabkan oleh bakteri clostridium perfringens, sehingga penderitannya mengalami kematian jaringan, menyebabkan makan jari jemarinya sendiri tanpa merasa sakit (kanibal).

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur langsung terjun ke lokasi di mana warga yang mengalami penyakit langka tersebut, dengan berkunjung dan mendatangi rumah Fitriyani yang tinggal bersama neneknya bernama Jirah di Dusun Tambak, Ngadi Kecamatan Mojo diharapkan dapat memperoleh data yang lebih valid karna informasi selama ini banyak yang simpang siur. 

Sidak dilakukan, Sabtu (20/4) sekira pukul 13.20 WIB, Kadinsos Provinsi yang didampingi Kadinsos Kabupaten Kediri, Sugeng Waluyo, Camat serta kepala UPTD Pukesmas mendatangi rumahnya.

Dari keterangan Kadinsos Provinsi Jatim, Dr Sukesi Apt MARS, mengenai keadaan Wiji Fitriyani yang sempat viral di Medsos menjelaskan, bahwa berita yang beredar di Medsos itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Dari hasil pengecekan tim media dan sidak di lapangan Fitriyani tidak mengalami kelaparan, namun mengidap penyakit gangguan jiwa.

Ia juga menjelaskan, kalau dimedsos Wiji Firtiyani (28) jari yang putus dikarenakan dimakan sendiri, Kadinsos menuturkan tidak seperti itu, ia mengalami penyakit ganggrene (diabetes) yang menyerang jari jemari kaki dan tangan yang mengakibatkan saraf mati rasa. Selama ini sudah dalam perawatan dan pantauan petugas Puskesmas Ngadi.

Kadinsos juga menyampaikan, tentang gancarnya informasi yang berkembang yang menyebut jika bersangkutan telah memakan jarinya sendiri hingga peristiwa ini kemudian menjadi viral di Medsos.

"Bukan perilaku kanibal, terlalu berlebihan itu. Karena dia ini berhalusisani, karena dia punya gangguan jiwa, bukan perilaku kanibal," tegasnya.

Dinas Provinsi Jawa Timur, akhirnya memutuskan untuk membawa Wiji Fitriani pasien penderita gangguan jiwa ke Rumah Sakit Menur Surabaya. Ragil dari empat bersaudara ini dibawah menggunakan mobil Ambulance dijemput dari rumahnya di dusun Tambak, Desa Ngadi, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri Sabtu (20/04) sore. Wiji Fitriani dibawah ke RSJ Menur Surabaya setelah mendapat persetujuan dari neneknya Jirah (73). 

Semula petugas sempat memberi saran kepada Jirah, agar cucunya ini diijinkan untuk dibawah ke rumah sakit agar mendapatkan  perawatan maksimal di sana. Jirah awalnya merasa keberatan, namun karena diberikan saran dan pengarahan demi kebaikan cucunya, ia akhirnya mengijinkan.

Menurut keterangan Dr sukesi Apt MARS Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, salah satu pertimbangan pihaknya membawa Wiji Fitriani ke RSJ Menur Surabaya, agar gadis protolan sekolah Maderasah Ibtidaiyah kelas tiga ini mendapatkan pelayanan sekaligus perawatan medis secara maksimal.

Selain pengobatan medis kejiwaan, Wiji Fitriani juga akan mendapatkan perawatan tulang terkait luka ditangan dan kakinya yang sudah membusuk akibat infeksi. 

"Ini Fitri kita bawah ke RSJ Menur Surabaya, sampai dia sembuh gangguan jiawanya. Terus setelah di RSJ Menur nanti kita kordinasikan, dengan RSUD Dr Soetmomo nanti akan dilakukan rawat gabung. Dr spesialis tulang di RSUD Dr Soetomo akan merawat Fitri juga di RSJ Menur," katanya. 

Karena sebelumnya memiliki riwayat medis tiga kali pernah dirawat di RSJ Lawang Malang Jawa Timur, dapat disimpulkan jika sakit jiwa yang dialami bersangkutan termasuk kategori sefromenia atau halusinasi.

"Ada dua anak kecil yang menyuruh dia menggesek gesek tubuhnya, digigit tulangnya. Itu kan tulangnya sudah gangrene ya, seperti diabet semakin lama merentek (menjalar). Kalau putus (jarinya) karena gangren (membusuk). Digigit mungkin gatal ya," tuturnya

Agar lebih fokus pada penyembuhan yang bersangkutan, sementara waktu ini nenek Jirah tidak diijinkan untuk ikut di rumah sakit. Semua keperluan biaya perawatan di rumah sakit nantinya akan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

"Saya diperintah oleh ibu Gubernur untuk mengurusi ini, nanti kalau ada kesulitan saya lapor ke Gubernur," pungkasnya.

Reporter : Romin
Editor : Krisdiantoro
Berita 2
Berita Sebelumnya Begini Misteri Pulau Baru di Gili Raja Sumenep
Berita Selanjutnya Hendak Curi Motor, Pria Asal Lumajang Diringkus Polisi

Komentar Anda