UniqMag
Diknas Jombang

Antara Paksaan dan Kemauan Sendiri

berita terkini
Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Achyat Daroini
Berita 1

PONOROGO, (suarajatimpost.com) - Masalah adalah kesenjangan antara suatu yang diharapkan dengan suatu kenyataan. Masalah pada hakikatnya tidak pernah berdiri sendiri atau terisolasi dengan faktor-faktor lainya. 

Dewasa ini permasalahan atau krisis kepemimpinan melanda dunia. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran dari goal pemimpin dan kepemimpinan yang jelas. 

Untuk menjadi pemimpin tidak bisa dibentuk secara instan, karakter pemimpin dibentuk melalui proses yang panjang dan teladan dari tokoh. 

Tantangan terbesar saat ini untuk membentuk karakter pemimpin adalah pergeseran budaya dan perkembangan teknologi. Pergeseran budaya yang dimaksud adalah etika, moral, akhlak yang dulu diagungkan-agungkan sekarang hanya sebatas narasi tanpa makna.

Bagaimana seharusnya mahasiswa memposisikan diri di dunia kemahasiswaan dan perguruan tinggi? Pertanyaan ini mungkin sangat mendasar sekali mengingat fungsi mahasiswa sebagai agent of chage, agent social control, dan agent iron stock. 

Mahasiswa menjadi hal yang sangat fundamental bagi negara, tiada hal yang lebih penting dari pada proses pendidikan, lalu bagaiamana mahasiswa untuk bisa menarik dan menjadi primadona dalam kalangan masyarakat?

Dalam proses pembelajaran mahasiswa di bekali ilmu-ilmu dasar guna menompang hidup di kemudian hari, tetapi hal itu sangat di sayangkan ketika pengajar menyampaiklan hal yang tidak seharusnya di sampaikan. 

Semisal berkampanye di dalam kampus, memberikan pengarahan yang tidak sewajarnya, dst. Mugkin bagi kalangan mahasiswa kupu-kupu itu hal yang tabu ketika membicarakan seperti itu. Tapi, beda lagi dengan mahasiswa yang mengaungkan moncong idealismenya.

Untuk memperbaiki kepincangan di atas, jelaslah kaum intelektual (mahasiswa) harus mampu dan berani mengadakan koreksi atas moralitas yang mereka hayati selama ini. 

Mereka tidak boleh bersikap masa bodoh terhadap kerusakan berat yang ditimbulkan dalam sikap dan pandangan hidup mereka yang ada.

Dalam hitungan jari hasil pemilu akan diumumkan, lantas bagaimana mahasiswa mengawal demokarasi tahun ini? Demokrasi pada intinya hanya satu, suara terbanyak oleh rakyat itu sendiri sesuai dengan prinsipnya, dari rakyat oleh rakyat, untuk rakyat. 

Sehingga menentukan pemimpin bukan hanya sekedar pilihan semata, tetapi bagaimana menentukan seorang pemimpin berdasarkan track record, prestasi, kecakapan, dan kemampuan sebagai pemimpin.

Ini hanyalah imajinasi dari mahasiswa hukum yang mempunyai cita-cita berdemokrasilah sesuai dengan jalannya. Terimakasih.

Oleh : Achyat Daroini - Mahasiswa Hukum Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Reporter : Arianto
Editor : Krisdiantoro
Berita 2
Berita Sebelumnya Koordinator PPIP Sidoarjo Ajak Masyarakat Percaya Netralitas KPU dan Bawaslu
Berita Selanjutnya DLH Probolinggo Adakan Pembinaan Tanaman MPTS

Komentar Anda