UniqMag
cukai

Sang Difabel Jember Pantang Menyerah Walaupun Tak Dilirik Pemerintah

berita terkini
Ahmad Fauzi (25) warga Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono dengan kondisi cacat fisik dengan susah payah membetulkan hasil karya ukiran di bengkelnya
Tarsun

JEMBER,(suarajatompost.com) - Terlihat seorang pemuda mengenakan kaos oblong hijau, dengan celana pendek orange. Tongkat crack terbuat dari kayu selalu ada di sampingnya.

Tampak gigih merunduk fokus seperti mengerjakan sesuatu, hanya tertumpu pada satu kaki, karena cacat fisik sejak lahir dirinya tetap beraktifitas demi sebuah mimpi.

Dengan keterbatasan tak membuat dirinya putus asa, ia sadar apa yang menjadi kekurangannya semata-mata adalah anugerah Tuhan yang harus ia terima.

Ahmad fauzi namanya, tinggal di Desa Sukosari, Kecamatan Sukowono, Kabupaten Jember, pas di seberang Kantor Desa.

Di tempat ukuran 3 x 4 meter yang terbuat dari bambu sekuat tenaga mengadu rejeki dengan segala kreatifitas dan kemampuan yang dimiliki 

Diusianya yang ke 25 tahun ia mampu membuka lapangan usaha sendiri bengkel tambal ban, dengan bermodal awal Rp.150.000 yang dikumpulkan dari hasil jual sangkar burung.

Selain juga mempunyai kemampuan bengkel, Fauzi juga memiliki talenta membuat kurungan dan berbagai jenis ukiran kayu. 

Pantas saja, berbagai jenis model kurungan sesuai pesanan menggantung di tempatnya. Semua buah hasil karyanya selama menunggu orang tembel ban.

Bukti kegigihannya bisa dilihat dari tumpukan dokumen penting yang dimiliki, secarik ijazah SMK berhasil dikantongi. Menunjukan kalau dirinya tak mau kalah dengan manusia normal fisik lainnya.

Tak muluk-muluk, Fauzi hanya mempunyai keinginan modal usaha yang cukup, untuk membeli peralatan bengkel dan mengembangkan keterampilan di dunia seni ukir.

"Modal saya yang sangat terbatas, saya hany ingin sekali mempunyai alat bengkel lengkap dan mengembangkan seni ukir saya, harapannya saya ingin membuka lapangan kerja," katanya sambil air matanya berkaca-kaca.

Penghasilannya tak menentu, tergantung banyaknya sepeda kempes melintas didepan begkelnya. Kadang sehari tak ada sama sekali namun dirinya tetap tersenyum.

"Semua rejeki sudah diatur, kalau bengkel sepi kadang kurungan saya laku, kadang saya dikasih lebih, mungkin ini hanya bagian saya, harus disyukuri," tuturnya dengan nada menyentuh.

Ditengah gaung proggram Bupati Jember dengan gelegar Ibu Dhuafanya, dengan rencana menyelenggarakan hari difabel internasional pada tanggal 2 Desember 2016 tak ada pengaruh sedikitpun baginya.

Saat ditanya, dirinya malah mengaku tidak tau apa-apa dan tidak pernah didata, apalagi mendapatkan bantuan baik dari desa maupun dari Dinas Sosial.

"Semua masyarakat di sini tau saya kondisi saya seperti ini, mungkin saya tidak masuk kategori. Mungkin kurang miskin sehingga kurang layak mendapatkan, biar sudah mas cacat fisik yang saya alami ini sudah menjadi bagian saya," ucapnya.

Kondisi kaki Fauzi tidak ada dari paha sampai kaki, tak jarang para pelanggannya merasa perihatin dan iba dengan kondisi fisik yang dialami Fauzi.

Ketika membuka ban, dirinya harus berjuang susah payah seperti membaringkan badan layaknya orang tidur saat bangun kembali terlihat susah, akibatnya harus merelakan badannya kotor dan basah kuyup karena banjirnya keringat.

"Fauzi disini dikenal sebagai seorang anak yang kuat, mandiri dan gigih sekalipun kondisi kakinya seperti itu, banyak orang yang berlangganan padanya karena kondisinya seperti itu, kadang uang kembalinya saya suruh ambil, tidak tega," aku H.Mudasir warga sekitar.

Ahmad Fauzi adalah salah satu contoh dari ratusan difabel di Kabupaten Jember yang masih luput dari perhatian.

Darinya kita bisa belajar bagaimana menjadi orang sabar dan mampu menghadirkan rasa syukur walaupun dalam kondisi kekurangan baik fisik maupun materi.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Fani Wulandari
ad
Berita Sebelumnya Teluk Ijo Banyuwangi Sebagai Wahana Traveling
Berita Selanjutnya Gara-gara Ludah, Tiga Orang Diamankan Polres Sumenep

Komentar Anda