UniqMag

'Adudul' Tradisi Warisan Budaya Suku Madura Yang Ditinggalkan

berita terkini
Salah satu kegiatan proses 'Adudul' saat prosesi pernikahan salah seorang keturunan suku Madura (Foto: Nitizen)
ad

JEMBER,(suarajatimpost.com) - Bagi masyarakat keturunan etnik suku Madura yang berdiam di wilayah Kabupaten Jember, Bondowoso, Probolinggo,dan Lumajang, setiap punya hajat pernikahan tentu tidak akan lepas dari kebiasaan 'Adudul'.

'Adudul' bisa diartikan suatu proses membuat sejenis kue, pengerjaannya dilakukan secara bersama-sama, dengan cara mengajak tetangga dan sanak keluarga untuk membuatnya.

'Adudul' merupakan bentuk kata kerja dari kata dasar yaitu 'Dudul' yang berarti sebutan sejenis kue. Sehingga, 'Adudul' bisa diartikan suatu kegiatan proses membuat kue 'Dudul'.

Cara pembuatannya juga tidak rumit, cukup menyediakan bahan -bahan seperti kelapa, gula aren, dan tepung padi dan ketan.

Biasanya, sebelum pembuatan 'Dudul' kaum laki-laki secara bermai-ramai bersama mengupas kelapa, yang dilanjutkan dengan membuat tungku yang terbuat dari pangkal pohon kelapa.

Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan tempat memasak, terbuat dari batang pisang, yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai tungku. Dengan menggunakan kayu bakar kering tujuannya agar jika matang menghasilkan aroma yang khas.

Kaum ibu rumah tangga dengan guyub memarut secara kompak sampai menjadi santan. Ada juga tim lain yang bertugas menyiapkan bejana atau wajan besar.

Menurut cerita, jaman dulu membeli tepung agak sulit, karena padi dan ketan harus ditumbuk menggunakan alat bernama 'Gentong' yang artinya penumbuk, sedangkan 'Ronjengan' tempat menumbuknya yang terbuat dari kayu.

Bentuknya persegi empat memanjang. Pabila selesai menumbuk dilanjutkan dengan "Agutta' yang artinya menabuh lesung secara bersama-sama dipimpinn oleh salah seorang tokoh adat.

Ratusan pasang mata menyaksikan prosesi acara tersebut. Dari kepiawaian kaum hawa ini mampu menghasilkan sebuah irama sambil melagukan syair. Tak heran, banyak tenaga yang diperlukan sejumlah 80 sampai 150 orang.

Seiring waktu, mesin penggiling mulai ada. Bahkan, mencari tepung dijaman sekarang sangat mudah, cukup datang ke pasar dan toko sudah bisa didapatkan.

Dari situlah pengolahan kue dudul dimulai, dengan mengaduk santan yang didukung proses pengapian yang bagus untuk memperoleh hasil maksimal, adonan harus terus diaduk.

Apabila sudah cukup panas dan mendidih, gula aren dimasukan berikut tepung. Menggunakan alat yang terbuat dari kayu panjang yang di bentuk sedemikian rupa diaduk secara terus menerus agar tidak lengket, sekira 2 jam adonan akan berubah warna menjadi cokelat.

Pada proses pengadukan, membutuhkan tenaga yang sehat. Kalau tidak, hasilnya tidak akan bagus dan cenderung menjadi gosong.

Bagi sebagaian warga, lebih cenderung menggunakan tenaga kaum adam, karena dinilai lebih kuat saat masakan mulai mengental.

Jika matang, kue ini akan berbah menjadi punel. berarti masakan ini sudah matang dan bisa dinikmati. Penyajiannya bisa dihidangkan waktu hangat atau dingin. Rasanya memiliki citra rasa khas dan tidak membosankan.

Bahkan, menurut cerita, kue ini mampu bertahan sampai 3 minggu tanpa menggunakan bahan pengawet.

Bagi masyarakat Madura, 'Adudul' merupakan bagian yang tak terpisahkan dan sudah melekat menjadi adat kebiasaan yang sudah ada sejak turun temurun.

Tak heran, jika sampai saat ini kegiatan tradisi ’Adudul’ masih tetap bertahan dan tetap ada serta sudah menjadi bagian rangkaian tak terpisahkan jika prosesi pernikahan.

Biasanya, bagi masyarakat yang mampu, setelah 'Adudul' ini selesai, langsung dilanjutkan dengan menyembelihan sapi. Sehingga, pihak tuan rumah yang memiliki hajat sangat terbantu dengan tradisi ini.

Namun, bagi sebagian masyarakat moderen, 'Adudul' perlahan-lahan sudah mulai ditinggalkan. Khususnya bagi masyarakat perkotaan, dengan alasan dan penghematan, sehingga digantikan dengan kue instan.

Menurut salah seorang budayawan, Irwan Rakhday(40) ‘Adudul’ bukan hanya kegiatan memasak kue, tetapi memilki nilai dan makna, lebih kepada menanamkan sikap kekompakan dan kekeluargaan.

“Ada makna yang terkandung yang tersirat di dalamnya, mengajarkan bagaimana rasa kekeluargaan kekompakan," katanya.

Menurutnya, tradisi ini perlu tetap ada dan dilestarikan karena mengandung nilai histori yang tak akan bisa dilepaskan dengan peradaban suku Madura sendiri.

“Coba bayangkan, jika ada perselisihan diantara sesama saudara, pasti nantinya akan rukun kembali pada saat ada saudaranya yang punya hajat acara pernikahan. Salah satunya bertemu pada saat ‘Adudul’, disinilah nilai filosofis yang terkandung,” kata Irwan.

Aktivis budaya kelahiran Situbondo ini meminta kepada para generasi muda untuk tidak gengsi, dan tetap belajar mencintai dan melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan nenek moyang. Tujuannya agar tidak punah.

Bagi Irwan, budaya Indonesia merupakan khasanah yang tidak mungkin ada di negara lain sehingga dirinya merasa wajib untuk mempertahankan.

“Kalau generasi mudanya sudah merasa gengsi, ini yang repot. Makanya kami dari para pecinta budaya sejarah di Tapal Kuda akan berusaha melestarikan budaya ini khususnya tradisi ‘Adudul”, padahal bangsa lain ingin belajar kepada kita,” ujarnya.

Tradisi ‘Adudul’ adalah sebagian kecil dari ribuan tradisi yang memilki nilai dan makna yang sangat dalam. Diakui atau tidak, saat ini keberadaan tradisi ini mulai terkikis dan perlahan-lahan mulai ditinggalkan.

Jika anda penasaran, silahkan datang lebih awal jika ada kegiatan di daerah pedesaan khususnya di kawasan Kabupaten Jember bagian utara, Bondowoso, Lumajang, dan Situbondo.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Teluk Ijo Banyuwangi Sebagai Wahana Traveling
Berita Selanjutnya Permintaan Warga Klakah Lumajang Untuk Nonton Film G30S-PKI Terus Bergulir

Komentar Anda