UniqMag
ad

Produksi Kopi Jatim Meningkat, Areal Lahan Terus Diperluas

berita terkini
Ilustrasi kopi
ad

SURABAYA, (suarajatimpost.com) - Data Kementerian Perdagangan RI mencatat realisasi ekspor kopi hingga september tahun 2016 ini mencapai US$650,2 juta atau sekitar Rp 8,7 triliun, hal tersebut menunjukkan jika kopi produksi Indonesia makin menjadi primadona di pasar global. dan Indonesia menjadi salah satu penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.

Di dalam negeri sendiri, minuman kopi sudah menjadi salah satu gaya hidup berbagai kalangan sehingga membantu naiknya kebutuhan kopi tanah air. Hingga berita ini diturunkan tercatat produksi kopi dalam negeri selalu mengalami kenaikan tiap tahun, seperti dikutip dari indonesia-investments.com dari tahun 2014 sebesar 711.513 ton, tahun 2015 sebesar 550.000 ton. sementara tahun 2016 ini data yang masuk produksi kopi menyentuh angka 650.000 ton.

Pada saat ini, perkebunan kopi Indonesia mencakup total wilayah kira-kira 1,24 juta hektar, 933 hektar perkebunan robusta dan 307 hektar perkebunan arabika. Lebih dari 90% dari total perkebunan dibudidayakan oleh para petani skala kecil.

Sedangkan daerah yang berkontribusi dalam produksi kopi tersebut salah satunya adalah Jawa timur. Provinsi paling ujung Jawa ini mencatat produksi kopi di tahun 2016 mengalami kenaikan hingga 67.000 ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 65.000 ton.

Meski Jawa timur bukan sebagai daerah penyuplai terbesar produksi kopi nasional, Pemerintah Jawa timur melalui Dinas perkebunan Jawa timur (Disbun Jatim) akan memperluas 2.000 hektare (ha) lahan produksi kopi pada 2017. Perluasan lahan ini dilakukan di lahan dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut (mdpl), untuk menghasilkan produksi yang bagus.

Seperti yang disampaikan M. Syamsul Arifien selaku Kepala Disbun Jatim bulan lalu bahwa peningkatan ini karena banyaknya permintaan kopi oleh masyarakat Jatim. Perluasan lahan lebih banyak untuk kopi jenis arabika. Lahannya tersebar di beberapa daerah di Jatim, di antaranya Probolinggo, Jember, Pasuruan, Bondowoso, dan Situbondo.

Selain memperluas lahan, rehab areal lahan tanam kopi robusta juga dilakukan seluas 200 ha. Dengan pengembangan lahan kopi yang sudah berjalan ini, diharapkan tahun-tahun berikutnya, jumlah areal lahan tanam kopi terus bertambah. Sehingga jumlah produksi juga akan bertambah.

Menurut Samsul, produksi kopi Jatim sejauh ini untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan luar negeri. Namun untuk permintaan dari dalam negeri didominasi oleh sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim. Permintaan ini seiring dengan tumbuhnya sektor UMKM yang menggunakan kopi sebagai bahan jualannya. Baik itu warung kopi, kafe, maupun restoran khusus kopi.

Saat ini, kata dia, ada sekitar 61 merek milik masyarakat Jatim yang mampu mengolah kopi, lalu mengemas sendiri untuk dijual ke pasar. Di antaranya Kopi Kapiten asal Pasuruan, Kopi Kayumas asal Situbondo, dan Kopi Ijen Raung asal Bondowoso.

Harga kopi di pasar domestik saat ini cukup bagus. Harga kopi mentah di kisaran Rp22.000 hingga Rp25.000 per kg. Untuk kopi robusta dan arabika, harganya sebesar Rp50.000 hingga Rp100.000 per kg. Sementara harga kopi yang sudah diolah menjadi kopi roasting, sebesar Rp90.000 per kg untuk kopi jenis robusta, dan Rp150.000 hingga Rp200.000 per kg untuk kopi jenis arabika.(Adv)

Reporter : Mokhamad Dofir
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya 'Adudul' Tradisi Warisan Budaya Suku Madura Yang Ditinggalkan
Berita Selanjutnya Relawan Sahabat Peduli Rakyat Pamekasan Kunjungi Kakek Senneng

Komentar Anda