UniqMag
cukai

Terkait Persoalan Yayasan Akbar Jember, Sejumlah Pengasuh Pondok Pesantren Resah

berita terkini
K.Abdur Rohman Luthfi Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum
Tarsun

JEMBER,(suarajatimpost.com) - Sejumlah Pengasuh Pondok Pesantren mengaku resah terkait persoalan yang menimpa Yayasan Akbar di Umbulsari sampai melibatkan wali murid meluruk ketua Yayasan lantaran siswa mengaku dipukul.

Seperti yang diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren KH.Abdur Rohman Luthfi (37) Suren Ledokombo. Menurutnya, persoalan yang terjadi antara Ketua Yayasan dengan salah satu murid yang ada di tempat tersebut tidak harus berbuntut panjang dan harus di selesaikan secara kekeluargaan.

"Harusnya islah (damai) ini sebetulnya bukan persoalan yang harus di besar-besarkan, ini persoalan antara guru dengan murid," jelasnya saat ditemui di kediamannya, Jumat,(16/12).

Almumni Pondok Pesantren Bata-Bata Madura ini menyadari bahwa penegakan hukum pada saat ini tidak sama dengan jaman dahulu. Tetapi, dirinya meminta persoalan tersebut supaya dilihat dari kacamata luas.

"Waktu saya mengaji dulu, kalau saya salah dipukul pakai apapun saya nerima. Karena orang tua sudah memasrahkan penuh, kalau saya mengadu waktu itu bukan dibela, tetapi saya malah ditambahi dipukul, saya santri mas harus manut pada guru, kalau melawan jangan mengharap ilmu barokah," tegasnya.

Menurutnya, ajaran yang ada dalam Pesantren seperti yang ada dalam kitab ta'lim Muta'alim seakan-akan sudah banyak tidak digunakan oleh para santri, sehingga santri terkesan melawan kepada Kyainya.

Senada dengan hal itu Pengsuh Pesantren Nurul Yaqin Sumberpakem Sumberjambe Husnul Yaqin,S.Pd.I (34)  juga ikut angkat bicara, menurutnya selama ini para Kyai khususnya yang berlatar belakang pendidikan salaf banyak yang belum paham terkait penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).

"Jangan menyalahkan kyainya secara mutlak, kita harus objektif melihat persoalan itu, mendidik anak untuk menjadi baik itu tidak mudah. Kalau tidak percaya boleh para orang tua yang tidak terima mencoba,” sindirnya.

Kyai muda ini meminta pemerintah untuk bisa memberikan pendidikan dan pemahaman hukum terkait batasan-batasan yang boleh dan tidak, sehingga para Pengasuh paham dengan aturan yang berlaku pada jaman ini.

“Perlu ada sosialisasi, karena tak semua Pengasuh Pondok Pesantren paham tentang hukum pemerintahan dan Ham, dan ingat tanpa perjuangan para Guru Bangsa kita bukanlah apa-apa,” katanya.

Alumni Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo ini berharap kepada Pemerintah Kabupaten Jember khususnya dan wakil rakyat di DPR untuk bisa menerbitkan Perda khusus pendidikan non formal.

“Sementara yang saya tau Kepres untuk perlindungan guru di pendidikan formal, sekarang untuk non formal bagaimana, diakui atau tidak lembaga tertua di Indonesia ini pertama kali ada ya Pondok Pesantren, silahkan buka kembali sejarah, jangan sampai lupa sejarah,” pintanya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua Yayasan Akbar di Desa Gunusari, Kecamatan Umbulsari di luruk wali murid karena tidak terima anaknya dipukul.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya 'Adudul' Tradisi Warisan Budaya Suku Madura Yang Ditinggalkan
Berita Selanjutnya Gara-gara Ludah, Tiga Orang Diamankan Polres Sumenep

Komentar Anda