UniqMag
ad

PT. Asuransi Jasindo : Realisasi Asuransi Tani Padi di Jember Hanya 0,3 Persen

berita terkini
Kepala PT. Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Cabang Jember Belly Seftiar

JEMBER,(suarajatimpost.com) - Realisasi Asuransi Pertanian padi di Kabupaten Jember pada tahun 2016 tak lebih dari 0,3 persen dari total areal lahan di 31 Kecamatan. Dari total areal lahan padi sekitar 65.000 - 85.000 hektare (ha), lahan yang diasuransikan hanya seluas 200 ha.

Menurut Kepala PT. Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Cabang Jember Belly Seftiar mengatakan, bahwa lahan padi yang diasuransikan sangat kecil. 

Padahal, idealnya setiap Kabupaten minimal memiliki lahan yang diasuransikan sebesar 50 persen dari total areal lahan.

"Lahan padi Jember yang diasuransikan juga jauh lebih sedikit dibandingkan Kabupaten Bondowoso seluas 1.600-1.800 ha dan Kabupaten Banyuwangi seluas 2.000 ha. Sementara Jember hanya 200 ha. Bahkan luasan ini juga turun dibandingkan tahun 2015 seluas 300 ha," kata Belly, Rabu (28/12).

Menurutnya, kesadaran petani untuk berasuransi dianggap minim. Padahal, tahun 2016 terjadi hujan sepanjang tahun. Sehingga potensi gagal panen atau Puso juga lebih tinggi. Idealnya, asuransi pertanian bisa menjadi benteng petani, agar jika gagal panen masih mendapatkan dana pertanggungan untuk modal tanam di musim berikutnya.

"Premi asuransi padi sebesar Rp 180.000 per hektare per musim tanam. Petani hanya membayar 20 persen dari total premi, sisanya ditanggung oleh APBN. Jadi, petani sebenarnya hanya harus membayar Rp 36.000 per hektare per musim tanam. Sedangkan jika terjadi gagal panen, dana pertanggungan mencapai Rp 6 juta per hektare," papar Belly.

Walaupun realisasi asuransi pertanian padi di Jember masih rendah, namun pihaknya masih optimis jika pada tahun 2017 mendatang ada peningkatan jumlah areal yang diasuransikan.

"Kami masih optimis dan berharap besar dengan cakupan asuransi pertanian di Jember. Sejatinya, tujuan asuransi pertanian itu untuk melindungi asset petani.

Proses mekanisme klaim asuransi, pihaknya menghitung berdasarkan jumlah kerusakan minimal 75 persen dari setiap petak alami per hektare. Setiap hektare memiliki jumlah petak alami yang bervariasi.

"Misalnya, setiap hektare terdapat 4 petak alami. Jika satu petak alami mengalami puso minimal 75 persen, sedangkan tiga petak lainnya bisa dipanen, maka kami mengganti satu petak alami itu sebesar Rp 1,5 juta (1/4xRp 6 juta)," terangnya.

Lanjutnya, ketika musim tanam ini gagal panen, petani masih bisa melangsungkan kegiatan pertanian di musim tanam selanjutnya," pungkasnya.

Reporter : Deni Ahmad Wijaya
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Toko dan Rumah Warga Kalisat Jember Dilalap Api
Berita Selanjutnya Nyabu di Kamar Kos, Empat Orang Diringkus Polisi Sidoarjo

Komentar Anda