UniqMag
ad

Mengintip Sang Kakek Penjual Sapu Lidi di Kota Bondowoso

berita terkini
Bapak Maliha sang penjual sapu lidi Dusun Curahpoh, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso
ad

BONDOWOSO,(suarajatimpost.com) - Terlihat seorang laki-laki tua menggunakan kopyah hitam, mengenakan jaket kuning kombinasi kain sarung motif kotak-kotak.

Di depannya beberapa ikat sapu lidi terikat kuat menggunakan tali rafia merah diletakkan dengan posisi berdiri terpajang.

Bapak Maliha warga sekitar memanggilnya, dirinya mengaku sudah berusia di atas 100 tahun lebih, tinggal bersama sang istri tercintanya di Dusun Curahpoh, Kecamatan Curahdami, Kabupaten Bondowoso.

Bapak empat orang anak ini melakoni peran sebagai penjual sapu lidi sekitar 10 tahun berjalan, sejak dirinya sudah tak mampu lagi bekerja berat.

Terlihat jelas kerutan di wajah menandakan usianya tak lagi muda. Tatatapannya kosong dan lirih entah apa yang dipikirkan. Sambil menghela nafas panjang seakan ada beban berat yang dipikirkan.

Hampir tidak pernah absen, setiap hari bisa dipastikan duduk bersila di Jl.MT Haryono jalur lalu lalang kendaraan kota Bondowoso.

Sesekali melempar senyum dan menawarkan barang dagangannya kepada pengendara yang lewat dan berhenti menunggu giliran lampu hijau menyala.

Hingga jarum menunjuk jam 12.00 Wib siang, dirinya tetap bersabar duduk menunggu pembeli datang. Namun, tak satupun yang menyambangi, jangankan membeli, menawarpun tidak.

Ia mengaku mendapatkan sapu lidi dari tetangganya, yang dibeli seharga Rp.4000/ ikat. Kemudian dijualnya lagi Rp.5000/ ikat. Tak banyak yang dia jual, hanya mampu membawa 30 ikat saja.

“Tergantung rejeki, 30 ikat bisa habis 4 hari kadang satu minggu, untuk makan setiap hari saja hasilnya tidak cukup, kalau seperti bapak ini mau kerja apa, tenaganya sudah tidak kuat,” ungkapnya dengan nada memelas.

Untuk menghemat dan sebagai pengganjal perut, dirinya hanya berbekal air botol mineral yang dibawa dari rumah.

“Kadang tidak makan seharian, kadang ada pembeli yang iba, satu ikat sapu dibeli Rp.10.000 ada yang kadang menawar kurang dari Rp.5000, kalau laku semua dan ada yang bisa disimpan, baru bapak belikan nasi, kadang ya di kasih orang lewat makanan,” akunya.

Jika terasa letih dirinya rela tidur di tempat terbuka. Maklum saja, anak dan istrinya menunggu hasil jerih payahnya untuk sekedar belanja dan biaya hidup.

“Tidurnya di mana saja yang penting bisa terpejam, kadang ya itu di pinggir toko itu, kalau tidak hujan kadang di bawah kayu rindang di bawah sana, cukup pakai sarung ini,” tambah Maliha sambil menunjuk kain sarungnya yang sudah tak jelas warnanya.

Seorang kepala rumah tangga yang sudah memasuki usia senja ini mengaku mempunyai mimpi, sisa hasil belanja dikumpulkan untuk membetulkan tempat tinggalnya, karena kondisi sudah tidak layak ditempati.

“Dulu pernah dibantu pak tinggi bedah rumah, sekarang sudah mulai rusak, gur-gur (lantai rusak.red), bapak mencoba mengumpulkan sedikit-demi sedikit,” ungkapnya.

Suminah (54) salah seorang pemilik toko daerah tersebut juga membenarkan kalau Bapak Maliha setiap hari nangkring menjual sapu lidi di depan tokonya.

“Kasihan sebetulnya melihat bapak itu, kadang dia tidur didepan toko, sering dikasih makan sama tetangga di sini,“ akunya.

Bapak maliha salah satu dari sekian banyak warga miskin di Kabupaten Bondowoso yang membutuhkan bantuan yang jauh dari kata layak. Dari dirinya bisa belajar, untuk bisa terus berjuang demi mimpi dan sebuah tanggungjawab besar.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Puting Beliung 'Ngamuk', Puluhan Rumah Warga Sumenep Hancur

Komentar Anda