UniqMag
ad

Menjemput Mimpi Seorang Zafran di Bumi Pamekasan

berita terkini
Mbak Puji (45) warga Jalan Joko Tole, Gg7 No.195 Desa Budaggan Kelurahan Baru Rambat Timur Kabupaten Pamekasan
ad

PAMEKASAN, (suarajatimpost.com) -Terlihat seorang ibu mengenakan topi dengan baju kuning sambil menggendong seorang anak balita.

Dengan sepeda engkol mini dipenuhi kerupuk dibungkus dengan plastik, digantungkan ke bagian sepeda hingga nyaris tak terlihat. Tak terbayang, bagaimana kalau dia berjalan.

Di tengah teriknya matahari menyengat, dia tetap melangkah sekalipun beban di pundaknya harus berat dia pikul sendirian. Cucuran keringat dan terlihat letih yang amat sangat, tak sedikitpun dia pedulikan.

Demi menjemput sebuah mimpi dan harapan, Mbak Puji(45) nama sapaan panggilannya. Dia kelahiran kota Banyuwangi, pulau ujung timur di Pulau Jawa.

Setiap hari, bisa dipastikan bersama sang buah hatinya yang diberi nama Zafran, dengan cara digendong menyusuri jalan sejauh 25 kilometer.

Di sepanjang jalan Kabupaten Pamekasan perbatasan Sumenep harus ditempuh, hanya untuk menjajakan barang dagangannya.

Tak tentu berapa keuntungan yang didapat, kalau rejeki berpihak, kerupuk bisa habis terjual. Kadang hanya kembali modal.

Maklum saja, keduanya ditinggal sang ayah tercinta sejak Zafran masih dalam kandungan. Tanpa kabar berita tiba-tiba menghilang hingga anaknya berusia 13 bulan hingga saat ini tak jua kembali.

Tanpa kehadiran sang ayah, harus berjuang sekuat tenaga berusaha untuk bertahan hidup untuk mencari pengganjal perut.

Beruntung, ada yang bersedia menawarkan dirinya untuk tinggal di salah satu rumah dan memodalinya untuk berwira usaha.

Dia menumpang di salah satu rumah di Jalan Joko Tole, Gg7 No.195 Desa Budaggan Kelurahan Baru Rambat Timur Kabupaten Pamekasan di sanalah Puji mulai menyusun rencana.

Dia sadar, sebagai seorang perempuan yang berijazah SD dan tak memiliki kemampuan. Ya, cukup sebagai penjual kerupuk keliling saja, sudah merupakan anugerah yang tak terhingga baginya.

"Saya ditolong oleh salah seorang pengusaha, dia yang membantu saya sampai melahirkan, saya tidak bisa berfikir lagi yang penting saya sudah bisa makan dan menghidupi anak saya," jelasnya.

Sisa rejeki dipotong makan, masih disisihkan sebagian rejekinya untuk sekedar menabung, walaupun nilainya tak seberapa.

"Saya hanya memiliki Zafran yang harus saya besarkan, saya ingin menabung untuk menyekolahkan Zafran. Jadi sisakan sedikit rejeki saya untuk ditabung untuk masa depannya," katanya sembari meneteskan air mata.

Dalam doanya dia selalu berharap, ada orang yang mau memberinya modal untuk mengembangkan usahanya.

"Saya hanya bermimpi bagaimana anak saya punya tabungan, ia kalau umur saya panjang dia bisa terus bersama saya, kalau tidak, dia tidak punya apa-apa," tambahnya.

Wiwin (34) sang pemilik rumah ikut mengaku prihatin dengan kondisi Mbak Puji, sehingga dirinya merasa ikut terpanggil memberinya tumpangan.

"Dari sesosok Mbak Puji saya bisa belajar, betapa kuatnya dia. Tegar, sabar, betul-betul menyentuh kisah hidupnya," ujarnya.

Dari Mbak Puji kita bisa belajar tentang arti sebuah pengorbanan dan ketabahan seorang ibu untuk anaknya.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Abdus Salam
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Lindungi Pertanian, DPRD Sumenep Siapkan Raperda PLP2B

Komentar Anda