UniqMag
ad

Sang Jurnalis Sejati Asal Jombang Ini Hidup Dalam Keterbatasan

berita terkini
R.M. Suryanto Ramelan saat ditemui di rumahnya
ad

JOMBANG, (suarajatimpost.com) -  R.M. Suryanto Ramelan pria asal Jombang Jawa Timur, yang dulunya mendedikasikan hidupnya sebagai seorang jurnalis handal yang selalu menyampaikan aspirasinya melalui tulisannya, kini menjalani kehidupan dengan kesederhanaan dan keterbatasan.

Suryanto adalah perintis Persatuan Wartawan Independen Indonesia (PWII) dan Ketua Dewan Pembina (PWII) korwil Bali tahun 2001.

Pria yang perna sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) majalah Suara Legian Veteran Republik Indonesi (LGVRI) tahun 1995, Tabloit Praja Raksaka Udayana, Majalah Independen yang sekarang berubah nama Nuansa Bali, Teropong Bali pada tahun 2004, kini menjalani masa tuanya dengan harus menjadi buruh serabutan dengan penghasilan 25.000 setiap harinya.

Itupun kalau ada yang membutuhkan tenaganya untuk mengerjakan sesuatu, sementara usianya juga sudah tidak memungkinkan untuk melakukan pekerjaan yang berat.

“Sekerang kerja serabutan mas, apa saja, yang penting ada yang membutuhkan tenaga saya,” tuturnya.

Bahkan, ketika tidak ada yang membutuhkan tenaganya, ia rela berjalan menyusuri sudut-sudut kabupaten Jombang mencari botol dan gelas air mineral bekas untuk di jual, agar bisa menopang hidupnya bersama keluarganya tercinta.

Rumahnya dengan satu kamar dan berlantai tanah, dengan dinding yang belum tersentuh dengan yang masih tergambar batu batanya, ia tempat bersama keluarganya tercinta. Tidak ada televisi di rumahnya, bahkan listrikpun jarang. Sementara hanya ada radio yang ia punya.

Ia tidak menyesal atas jalan hidupnya saat ini, bahkan sejarah yang pernah mencatatnya iapun tidak pernah lupakan selama hidupnya.

Pria yang dulunya seorang Pemred ini iklas menjalani masa taunya dengan apa yang dilakukan saat ini. Bahka  iya juga meminta agar semua anak muda dan generasi tidak melupakan sejarah, baik sejarah hidupnya sendiri maupun sejarah secara umunya.

Bahkan berangkat dari pengalamannya yang puluhan tahun di jalaninya, ia berpesan kepada jurnalis agar memanfaatkan profesinya sebagai kuli tinta untuk kepentingan banyak orang. Dan juga tidak membohongi publik dalam tulisannya.

"Jangan lupakan sejarah dan jangan lupakan ikhwan. Selain sebagai jurnalis harus siap memberikan kebutuhan informasi kepada masyarakat umum dan tidak boleh mengharapkan pamrih karena pers adalah media yang independen," ujarnya.

Reporter : Hariyanto
Editor : Fani Wulandari
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Lindungi Pertanian, DPRD Sumenep Siapkan Raperda PLP2B

Komentar Anda