UniqMag
ad

Mengintip Kesederhanaan Seorang Ketua DPRD Bondowoso

berita terkini
Ahmad Dhafir Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso
ad

BONDOWOSO,(suarajatimpost.com) - Bagi masyarakat awam, menjadi seorang ketua DPRD itu, adalah jabatan posisi bergengsi dan banyak diimpikan banyak orang.

Betapa tidak, pasti yang terfikir adalah hidup enak, yang selalu dilayani setiap beraktifitas oleh beberapa pengawal staf ahli, sopir pribadi, dan selalu dikawal Satpol PP.

Tetapi tidak bagi Ahmad Dhafir, sejak dirinya dilantik sebagai nahkoda di legislatif sejak 2014 lalu, sampai hari ini, masih terlihat menunjukan kesederhanaannya.

Wisma megah yang disiapkan oleh pemerintah, hanya dijadikan tempat diskusi dan pengaduan masyarakat saja.

Dirinya lebih memilih untuk pulang kampung tanah kelahirannya, setiap malam, selepas menemui para tamu dan pengunjung yang datang.

Sopir yang disiapkan oleh pemerintah untuk mengantar jemput dirinya ke kantor, sering diminta duduk di samping, karena dirinya lebih memilih berkemudi sendiri.

Tak jarang, bagi mereka yang tidak kenal, salah penafsiran, yang sebenarnya ketua DPRD terkadang pangling dianggap sopir.

Begitupun Satpol PP yang berjaga, mereka terlihat santai, karena tamu yang hadir bisa masuk begitu saja tanpa harus melalui resepsionis atau mengisi buku tamu.

Tak peduli itu pejabat, aparat, ataupun masyarakat kecil yang hanya ingin sekedar bertamu kepadanya. Dengan leluasa bisa masuk tanpa malu ataupun sungkan.

"Saya sadar, dulu saya berangkat dari orang bawah, saya tau bagaimana rasanya lapar itu. Bagaimana menjadi masyarakat kecil itu, " ujar Dhafir menceritakan.

Menurut dhafir, antara orang miskin dan kaya itu pada hakekatnya sama dan tak perlu ada perlakuan khusus atau di istimewakan. 

Tak jarang, Legislator yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini, lebih memilih memakai kendaraan pribadi dari pada mobil dinas.

"Wisma saya terbuka untuk siapapun, selama saya masih sehat dan ada kesempatan pasti saya temui sekalipun dari lapisan bawah. Di hadapan Allah sama, sama-sama punya rasa dan keinginan untuk enak. Hanya kesempatan dan rejeki saja yang membedakan," katanya.

Bagi Dhafir, profesi yang dia lakoni saat ini, semata-mata adalah amanah dan perjuangan ibadah. Sehingga pada akhirnya dirinya pada saatnya, akan tetap kembali menjadi masyarakat biasa.

"Untuk apa saya memperlakukan petugas Satpol PP dan sopir saya sebagai bawahan, saya takut nanti saat kembali ke masyarakat tidak jadi apa-apa lagi," katanya.

Makan yang disiapkan oleh kantor, diakuinya jarang dimakan, bahkan lebih sering dinikmati orang-orang dekatnya.

"Saya lebih suka makan nasi bungkus di warung-warung pinggiran. Nikmatnya makan hanya sampai di leher sudah hilang, saya suka lebih suka menjadi diri saya sendiri," ucapnya.

Lain halnya dengan Agus (47) salah seorang sopir yang sehari-hari menemaninya, dirinya mengaku salut dan kagum dengan kesederhanaannya.

"Tak pernah membedakan orang bawah dan pejabat, ketua (Ahmad Dhafir) sering membuat saya salah tingkah, kadang terbalik saya seperti jadi pejabatnya, makanan yang enak-enak malah saya yang makan," aku dia.

Saat ditanya perihal dirinya, yang digadang-gadang oleh masyarakat untuk dicalonkan sebagai Bupati Bondowoso. Dia menanggapi biasa saja.

"Sudahlah, jangan berpikir itu, manusia itu sudah memiliki garis masing-masing. Saya tidak berambisi, biarkan masyarakat yang menentukan," tutupnya.

Dari Ahmad Dhafir, kita belajar bagaimana menjalani hidup kesederhanaan, walaupun jabatan sudah di atas sekalipun, karena pad akhirnya manusia akan kembali.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Fani Wulandari
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Lindungi Pertanian, DPRD Sumenep Siapkan Raperda PLP2B

Komentar Anda