UniqMag
ad

Miris! Jember Kota Santri, Namun Darurat Pelecehan Seksual

berita terkini
Ilustrasi Pelecehan Seksual
ad

Oleh: Umi Nafilah, S.Pd 
*Penulis asalah Aktivis MHTI Jember, Pengajar, Penulis

JEMBER, Tak bisa dipungkiri, sejak beberapa tahun terakhir dikejutkan dengan menjamurnya pelecehan seksual di kota-kota besar di Indonesia yang notabene negeri muslim terbesar di dunia. Tidak hanya itu, ternyata pelecehan seksual merambat di kota-kota kecil Jawa Timur salah satunya di Kota Jember yang dijuluki “Kota Santri”. 

Julukan “Kota Santri” yang disandang oleh Jember dikarenakan Jember terdapat banyak pesantren yang menyebar di berbagai daerah maupun pedesaan. Namun miris, “Kota Santri” ini ternyata darurat pelecehan seksual. Bagaimana tidak, salah seorang anak usia 15 tahun di Desa Karang Paiton Kecamatan Ledokombo Jember menjadi korban kebiadaban bapaknya sendiri hingga hamil 7 bulan. Di kecamatan yang sama, tepatnya Desa Sumbersalak, seorang anak Sekolah Dasar (SD) juga menjadi korban pemerkosaan seorang kakek usia 60 tahun, hingga sekarang mengalami trauma dan dikucilkan. 

Bahkan di bulan maret lalu, delapan pelajar SMK di Bangsalsari Jember memperkosa seorang siswi SMP berusia 16 tahun secara bergiliran di tiga lokasi berbeda seusai menegak miras ramai-ramai. Dan masih banyak lagi kasus serupa yang terjadi di Jember.

Lantas, apa yang menyebabkan banyaknya pelecehan seksual di Kota Santri ini? Beberapa faktor diantaranya yaitu faktor pendidikan yang minim akan ilmu agama, penggunaan minum-minuman keras seperti alkohol, banyaknya tayangan-tayangan pornografi, teknologi yang disalahgunakan turut menjadi faktor pendukung tindakan tersebut dan masih banyak lagi faktor lainnya. 

Faktor-faktor tersebut tidak bisa lepas dari nilai-nilai hidup yang salah, yang telah berkembang di masyarakat yaitu liberalisme (kebebasan). Pelaku kekerasan seksual kebanyakan dilakukan oleh orang dekat korban, sungguh menggambarkan keadaan masyarakat yang sakit. 

Liberalisme atau nilai kebebasan yang dikandung sistem ini telah menjadi racun mematikan bagi akal dan naluri manusia, misal seorang ayah kandung tega menggauli anak kandungnya sendiri. Ketika pemahaman agama tidak menjadi standar perilaku, maka hawa nafsu menjadi penentu. Akibatnya, orang berlomba memenuhi kebutuhan jasmani sesuka hatinya. Sungguh liberalisme telah menghilangkan ketakwaan individu.

Reporter : Redaksi
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Lindungi Pertanian, DPRD Sumenep Siapkan Raperda PLP2B

Komentar Anda