UniqMag
ad

Ketika Dukuh Pariopo Jadi Kampung Budaya

berita terkini
Suku Pariopo Situbondo.
ad

Oleh: Irwan Rakhday

Menggagas Kampung Budaya Pariopo, mengapa tidak? Melihat geliat budaya tahunan, "Pojhian Hodo", sebuah upacara adat memohon turunnya hujan sekaligus rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa tetap lestari hingga kini, tampaknya menjadi daya tarik tersendiri.

Terletak di Dusun Selatan,Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo - Jawa Timur. Berjarak 7 km dari Jalur pantura Taman kota Asembagus  atau 34 km dari pusat Kabupaten Situbondo.

Mata pencaharian sebagian besar penduduk adalah  petani dan sebagian peladang. Penduduknya 100% beragama Islam dan masih memegang sistim kekeluargaan yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-harinya.

Curah hujan di Dukuh Pariopo dan sekitarnya cenderung rendah sehingga sebagian masyarakatnya mengandalkan sawah tadah hujan. Sebagian memang sudah tertangani dengan pengeboran mata air.

Di Dukuh Pariopo terdapat sejumlah aset kesenian  yang perlu direvitalisasi dan dilestarikan oleh para penduduknya. Disini terdapat sejumlah tempat upacara adat  seperti, sombher (pesucen), Bato Tomang, Ghunong Bhata, Ghunong Cangkreng dan Tapak Dangdang. Satu tempat lainnya, berada di Dukuh Lowa, yaitu Ghunong Masali.

Di tempat-tempat tersebut memang setiap satu tahun sekali diselenggarakan upacara adat "Pojhian Hodo".

Untuk menjaga kearifan lokal, diinisiasi pembentukan Lembaga Adat Suku Pariopo pada 9 Februari 2015. Namun, dalam perjalanannya, legalitas lembaga ini belum juga dapat diwujudkan.

Setelah menghelat Festival Pariopo sejak tahun 2015, kemudian pada tanggal 30 Desember 2016 dirintis kembali dengan nama Komunitas Adat Pariopo, dengan Ke Absu sebagai ketua adat.

Dalam rangka melestarikan kearifan lokal Pariopo, langkah awal dari komunitas adat adalah menginventarisasi aset-aset kesenian dan kebudayaan yang ada. Ke depan bahkan mendaftarkan obyek yang diduga sebagai cagar budaya, seperti tiga bongkah batu besar setinggi 4 meteran dengan formasi mirip tungku, yang disebut "Bato Tomang".

Selain, upacara adat tahunan, revitalisasi musik tradisional dari bahan bambu perlu dilakukan. Alat musik disebut "Pa'beng". Sebuah alat musik sederhana yang menghasilkan bunyi-bunyian mirip bunyi kenong kendang dan gong.Ada yang mengatakan, alat musik ini mirip "celempung" di Jawa Barat. Tetapi tentu saja, komposisinya berbeda karena memang latar sejarahnya juga berbeda.

Untuk "menghidupkan" Pa'beng kembali, perlu menyelenggarakan pelatihan, khususnya untuk anak-anak muda secara gratis. Anak-anak muda yang telah mahir nantinya tentu akan dilibatkan dalam pementasan menyambut tamu yang tentunya akan menambah penghasilan untuk mereka sendiri. Regenerasi untuk pewaris budaya tak terputus.

Untuk melestarikan tempat-tempat upacara di Dukuh Pariopo perlu bekerja sama dengan lembaga akademisi maupun komunitas budaya.

Pada tahun 2015  elemen-elemen seperti LSM Wirabhumi turut membidani lahirnya kelompok adat yang sebenarnya telah turun temurun diikat oleh sistim sosial mereka sendiri. Memang rekonstruksi budaya juga dilakukan oleh budayawan lokal Chandra Noratio pada tahun 2005.

Keterlibatan akademisi dan LSM penting dalam proses penelitian dan dokumentasi. Kongkritnya bisa berupa penyelenggaraan seminar mengenai sistim sosial Pariopo. Bahwa sistim sosial itulah yang sebenarnya menjadi ruh kebudayaan masyarakat adat Pariopo.

Rumah-rumah adat Pariopo yang bisa dideteksi berupa rumah adat "Tabing Tongko'". Memang, rumah adat ini bukan khas Pariopo satu-satunya, karena di daerah pesisir Kabupaten Situbondo ke timur juga tersebar. Tetapi yang membedakan, rumah adat di sana di masa lalu, bahannya berupa anyaman bambu.Ini yang perlu direkonstruksi. Hal ini relevan dengan melimpahnya tanaman bambu di Pariopo dan sekitarnya. Dari sanalah, masyarakat Pariopo memanfaatkan bambu untuk membangun tempat tinggal mereka.

Revitalisasi budaya dan rumah-rumah adat tersebut memang perlu dilakukan agar "Potona Ju'Modhi'" (sebutan untuk keturunan pembabat hutan utama Pariopo) tidak kehilangan jati dirinya.

Jika rumah-rumah adat itu bisa direkonstruksi, tentu akan sangat menarik. Karena hal itu menunjang sebagai kampung budaya, maka para wisatawan atau tamu akan merasakan suasana kehidupan perkampungan sehari-hari.

Para tamu akan menemui suasana para ibu menumbuk padi dengan menggunakan "ronjhangan" (lesung kayu),
memasak dengan menggunakan kayu bakar, melihat para petani bercocok tanam di "pondhuk" (rumah tinggal sementara di ladang) dan belajar kesenian tradisional. Dan bahkan menginap di sana. Menarik bukan? 

Reporter : Redaksi
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Neng Ita Pimpin Apel Kesiapan Penanggulangan Bencana Alam 

Komentar Anda