UniqMag
jamu

Janda Sebatang Kara Asal Jombang Ini Hidup Dengan Berjualan Tikar

berita terkini
Siti Aisah (99), warga Dusun/Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang saat keliling menjual tikarnya.
ad

JOMBANG, (suarajatimpost.com) - Ditengah-tengah kucuran dana yang begitu besar dari Pemerintah Republik Indonesia untuk Pemerintah Daerah dan desa seharusnya memberikan perubahan dan  warna baru bagi kondisi wilayah tersebut. 

Terutama dalam mengatasi masalah ketimpangan sosial, baik kemiskinan dan keterbelakangan.

Namun berbeda dengan yang dialami oleh Siti Aisah (99), warga Dusun/Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.

Wanita yang lahir 01 Juli 1932 itu hidup sebatang kara dengan kondisi ekonomi yang memperihatinkan. Suaminya tercintanya lebih dulu menghadap sang pencipta, dan meninggalkan satu anak. 

Namun anaknya juga sama dengan dirinya, ditingggal oleh suaminya, dan juga meninggalkan satu anak. Namun anak sebatangkaranya itu juga hampir sama dengan dirinya, sehingga terpaksa meninggalkan dirinya untuk bekerja di luar Pulau Jawa. Dan saat ini tinggal bersama cucunya di Kabupaten Bojonegoro. 

"Saya asli Desa Katemas Belakang Balai Dusun Kecamatan Kudu Jombang, KTP saya hilang kalau jualan keluar rumah ya bawa KK saja hidup saya sendirian," tuturnya dengan nada melemah. 

Janda sebatang kara itu hidup dengan menjual tiker dari bahan pandan, bahkan bahan-bahan pembuatan tikar itu ia harus beli dari orang lain, tidak lain hanya untuk menyambung hidupnya. 

Menurutnya, hasil menjual tikar itu ia harus belikan bahan-bahannya lagi, sisanya baru untuk makan sehari-hari. 

"Penghasilan ya cukup buat makan Le' (mas), karena tikernya buat sendiri pandannya yang beli terus bikin sendiri tikernya," jelasnya dengan nada terbata-bata karena menahal beban hidup di pundaknya, Minggu (6/8/2017).

Janda miskin itu sesekali berhenti di sebuah warung untuk menghilangkan rasa penatnya karena sehari-sehari harus berjalan menjual tikarnya sambil digendong yang hasilnya juga tidak seberapa buat menculupi kehidupannya sehari-hari. 

Bahkan, ketika sakit, warga Jombang itu terpaksa berobat sendiri tanpa bantuan orang lain untuk pergi ke dokter. Bahkan dari hasil jerih payahnya menjual tikar itu kadang digunakan untuk berobat, sehingga dengan terpaksa harus membagi pengehasilannya yang tidak seberapa untuk berobat dan makan sehari-hari. 

Reporter : Hariyanto
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Kehadiran Mensos RI di Sumenep Tak Disambut Bupati Busyro Karim

Komentar Anda