UniqMag
Perum Bojonegoro

Warga Jember Masih Miskin di Hari Kemerdekaan

berita terkini
Pak Dul, Warga Garahan Kecamatan Silo Jember
inf

JEMBER,(suarajatimpost.com) - Saat orang-orang sibuk merayakan kemenangan kemerdekaan HUT RI ke 72,  seorang bapak tua tidak berbaju, terlihat berjalan di atas jalan aspal memikul 2 ikat kayu melawan teriknya panas matahari yang menyengat.

Banyak menduga, ia adalah warga sekitar perumahan sekitar yang mengantarkan pesanan. Maklum saja, dengan kondisi tubuh yang mulai rengkuh dimakan usia terlihat pelan berjalan, sesekali menggunakan tongkat sebagai alat bantunya.

Tubuhnya terlihat gemetar, seakan tak sebanding dengan dua beban yang menggelantung di pundaknya. Sesekali berhenti, menghela nafas dan tersengal, sambil sesekalimembalut keringat yang bercucuran,  kemudian kembali mengayunkan langkahnya.

Ali Wafi (45), seorang dosen perguruan tinggi di Jember, mengaku sering berpapasan dengannya, kadang ada di Pasar Sempolan(Kecamatan ujung timur Jember) sering juga terlihat di Pasar Kalisat.

Dia mengaku bernama Pak Dul, warga Curahmanis, Desa Garahan, Kecamatan Silo Jember. Dia adalah seorang   warga miskin tidak memiliki anak di kampungnya.

Setiap harinya, bisa dipastikan menjajakan kayu bakar dengan cara dipikul. Tak tanggung, 25 kilometer setiap harinya dia tempuh hanya dengan berjalan kaki yang diambilnya dari lereng gunung raung.

Menurut informasi tetangganya, Nazril (34), Pak Dul ini, sudah bertahun-tahun melakoni profesi itu, karena memang sudah tidak ada keterampilan  yang dimiliki cukup hanya mengandalkan kayu bakar itu untuk dijual.

Hari ini, nampaknya rejeki kurang berpihak kepadanya, sudah puluhan kilometer, tidak ada satupun yang membeli, jangankan menawar, menolehpun tidak.

Yang lebih memprihatinkan, dirinya memiliki kekurangan pada pendengaran. Hanya berteriak lantang menawarkan kayunya disepanjang jalan yang dilewati.

"(Pokok cokop untuk beli beras untuk ekakan, dupolo ebuh 2 kabbi. Red. Bahasa Madura) Asal cukup untuk beli beras untuk dimakan, Rp 20.000 semua)," ujar dia, saat ditemui di sepanjang jalan Sempolan, Jumat (17/08).

Ada kata mutiara yang sempat keluar,” Tembeng buleh ngecok kule dusah, tembenge klentong epenjara, Dinah alakoah engak neka beih se penting halal, (Ketimbang saya mencuri saya berdosa, dari pada saya diborgol dan dipenjara, biar kerja seperti ini tidak apa-apa,” tururnya memelas.

Hasan (34)salah seorang peduli sosial,  warga Kecamatan silo terpanggil hati untuk mencarikan jalan. "Kita berpikir keras, bagaimana ada pembeli yang langsung bisa menjemput langsung kerumahnya," katanya.

Merdeka !!! Merdeka !!!!! lantang terdengar memekik di ditelinga, melalui pengeras suara yang melintas. Namun, rasanya kurang adil bagi bapak tua ini jika disebut merdeka, ini.

Pak Dul adalah salah satu dari ribuan masyarakat Jember yang masih belum merdeka dari kemiskinan yang masih hidup kekurangan yang membutuhkan sentuhan.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Arifin Angwa
inf
Berita Sebelumnya Butuh Liburan Bareng Keluarga, Ayo ke Pantai Toraja Sumenep
Berita Selanjutnya Angka Stunting Tinggi, Dinkes dan Desa Jampit Bondowoso Jemput Bola Melalui Pos Gizi

Komentar Anda