UniqMag
ad

'Pecel Pincuk Garahan’ Kuliner Khas Asli Jember

berita terkini
Masyarakat Desa Garahan Kecamatan Silo saat menjual nasi pecel saat Kereta Api berhenti (Sumber Nitizen)
ad

JEMBER, (suarajatimpost.com) - Bagi anda yang sedang berkunjung ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, belum lengkap rasanya jika tidak mencoba mencicipi kuliner khas kota pandhalungan ini.

Bagi masyarakat yang biasa menggunakan jasa transportasi Kereta Api pada tahun sebelum tahun 90-an ‘Pecel Pincuk Garahan’ sudah sangat dikenal. Betapa tidak, asal mula makanan ini ada, tidak lepas dari sejarah.

Menurut cerita sesepuh, makanan ini ada sejak sebelum kemerdekaan. Dijual oleh masyarakat sekitar, menggunakan bahan baku yang berasal dari alam dengan tujuan dijual kepada nonik-nonik (istri) belanda. Kebetulan, daerah tersebut kawasan perkebunan dan hutan.

Pecel adalah sejenis makanan yang terbuat dari nasi yang diberi bumbu kacang dan sayur, Pincuk itu identik dengan tempatnya, yang terbuat dari daun pisang yang dibuat sedikit mengerucut, sedangkan Garahan adalah nama desa di daerah Kabupaten Jember paling ujung timur perbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi.

Sensasi rasa semakin terasa nikmat, jika dilengkapi dengan kerupuk merah atau rempeyek dengan bumbu kacangnya yang sedikit pedas. Ditambah, minuman teh hangat dengan bungkusan plastik yang sengaja dijual sebagai penawar pedas.

Dulu, makanan ini dijual saat kereta api lansir atau berhenti di Stasiun Garahan, pada saat itulah puluhan ibu rumah tangga membawa tempeh yang berisi nasi pecel dijajakan lewat jendela kereta.

Lucunya, si penjual dan pembeli pada saat transaksi harus cepat. Kalau tidak, kereta api yang ditumpangi pembeli akan segera berangkat. Ya, hanya 10 menit saja.

Tidak jarang, penjual harus tergesa-gesa berpacu dengan waktu melayani pembeli. Kalau tidak, kereta sudah keburu berangkat melanjutkan perjalanan kembali.

Harganyapun tidak mahal, cukup Rp 1.500 per pincuk masa itu. Sambil memandangi pepohonan alas gumitir yang menghijau, serta melewati trowongan gelap yang jaraknya hampir 2 kilometer, sensasi rasanya sungguh berbeda. Yakin, di tempat lain tidak akan pernah bisa ditemui.

“Yang membuat beda dengan nasi pecel pada umumnya, Pecel Pincuk Garahan menggunakan daun pisang dilengkapi lamtoro mentah, saya masih ingat itu. Bisa dipastikan kalau kereta yang saya tumpangi sudah hampir Stasiun Garahan, saya pastikan merapat ke jendela kereta untuk membeli,” jelas Mahfud (56) salah seorang guru Pegawai Negeri Sipil Jember.

Bagi masyarakat sekitar, berjualan kuliner ini sangat membantu roda perekonomian dan mampu memberi warna tersendiri bagi pengunjung yang melintas.

Bayangkan, sehari bisa 10 Kereta Api translate dan berhenti di Stasiun Garahan masa itu dengan membawa ratusan penumpang di dalamnya pada masa itu.

Kini, seiring waktu dan perkembangan jaman, perlahan-lahan kegiatan itu mulai ditinggalkan. Sejak PT.KAI (Kereta Api Indonesia) semakin maju, tidak semua kereta berhenti.  Hanya kelas ekonomi saja yang mampir, sisanya hanya numpang lewat saja.

Beruntung, hasil ide tokoh masyarakat dan didukung oleh pemerintah desa setempat. Penjual nasi Pecel Pincuk Garahan kini dibuatkan stand dan lesehahan di pinggir jalan raya.

“Sejak kereta jarang mampir di Stasiun Garahan, pembeli sepi. Beruntung kami didukung bapak Kepala Desa Garahan, membuka di pinggir jalan raya. Lumayan, tidak kelah dengan jual di kereta,” akui Norma (34) salah seorang penjual.

Bahkan, Norma mengakui perhari bisa menghasilkan omset Rp 250.000, ‘Pembelinya pengendara yang lewat menuju Banyuwangi dan yang ke arah Jember. Lumayan lah, bisa menghidupi keluarga,” tuturnya.

‘Pencel Pincuk Garahan’ adalah satu masakan khas asli Jember yang saat ini masih ada dan itu bukan hanya sebuah cerita. Anda penasaran, mari datang dan manjakan selera makan, juga sesekali mengingat kenangan masa kecil anda.

Reporter : Imam Khairon
Editor : Ismi Fausiah
ad
Berita Sebelumnya Dibutuhkan Wartawan Kabupaten dan Kota
Berita Selanjutnya Komunikasi Sosial Babinsa Koramil 0828/08 Sokobanah Agar Silaturahmi Terjaga

Komentar Anda