Minggu, 22 Mei 2022
Advetorial

Kunjungi Bumi Majapahit, Kapusdiklat Kemendikbudristek Puji dan Ingin Belajar dari Pemkot Mojokerto

profile
Andy

12 Mei 2022 18:14

660 dilihat
Kunjungi Bumi Majapahit, Kapusdiklat Kemendikbudristek Puji dan Ingin Belajar dari Pemkot Mojokerto
Pemberian cenderamata berupa miniatur mahkota Tribuana Tunggadewi. (Andy/SJP)

KOTA MOJOKERTO - Kunjungi Bumi Majapahit, Kepala Pusdiklat Kemendikbudristek Amurwani Dwi Lestari memuji capaian Pemerintah Kota Mojokerto yang begitu pesat, Kamis (12/5/2022) pagi.

Tak tanggung-tanggung, Kapusdiklat Kemendikbudristek ini mengajak 30 orang dari berbagai instansi, seperti Direktorat Jenderal Kebudayaan di lembaga ristek, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi serta beberapa Pemerintah Daerah

Amurwani Dwi Lestari menyampaikan, para peserta ini akan berkunjung ke Kota Mojokerto ini ingin belajar perspektif yang sudah dilakukan oleh Pemkot Mojokerto. Yang dalam waktu singkat ini sangat luar biasa.

"Prestasinya luar biasa Ning Ita ini. Kita ini ingin menggali, mencari inside, apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot ini sehingga memotivasi partisipasi warga. Dan juga bagaimana partisipasi warga ini bisa menimbulkan dorongan untuk bisa berkolaborasi dengan Pemerintah, serta tentu saja peran korporasi turut memberikan kontribusi sehingga pembangunan di Kota Mojokerto berjalan dengan signifikan," ungkap Amurwani.

Lebih lanjut disampaikannya, ia mendengar banyak cerita positif tentang Kota Mojokerto ini karena kecilnya di Kecamatan Gedeg.

Jadi kalau ke Mojokerto seperti pulang kampung rasanya, ini rumah kedua baginya.

"Banyak sekali perubahan di Kota Mojokerto ini, bagaimana kita mengubah sungai dari halaman belakang menjadi halaman depan. Program Ning Ita yang sudah banyak didukung oleh warga ini  luar biasa, bagaimana kita nanti mengubah mindset menjadi budaya, pekerjaan paling susah itu mengubah mindset, sehingga tidak bisa hanya 1 atau 2 tahun namun membutuhkan waktu paling cepat lima tahun," jelasnya.

Sesi foto bersama peserta Diklat kepemimpinan nasional tingkat II angkatan VI

Menurutnya, bagaimana cara mendorong warga agar berpartisipasi, membuat kepercayaan kepada warga sehingga mereka mau berkolaborasi dengan pemerintah itu juga luar biasa. Itu sesuai dengan tema yang diangkat Ning Ita, yaitu Membangun Ekosistem Pendidikan Berkualitas yang Partisipatif dan Kolaboratif.

"Sebelumnya sangat sedikit orang yang tahu bahwa Soekarno kecil pernah bersekolah di Kota Mojokerto, namun sejak Ning Ita ini maka banyak informasi yang terdistribusikan dengan sangat luar biasa sehingga masa kecil Soekarno semakin dikenal di masyarakat. Sungguh luar biasa apa yang dilakukan seorang wanita seperti Ning Ita yang terus serius menggarap budaya dan tidak pernah hitung-hitungan dalam mewujudkannya," tandasnya.

Sementara itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menyambut baik kunjungan dari Kapusdiklat Kemendikbudristek dan rombongan. Dalam sambutannya, Wali Kota Mojokerto yang akrab disapa Ning Ita ini menerangkan, kenapa kota ini membawa tagline 'Sprit of Majapahit'.

"Selamat datang kepada peserta PKN tingkat II. Tentu kita tahu pada pertengahan abad ke-13 sampai ke awal abad 14, pusat Kerajaan Majapahit itu sebagian wilayahnya di Mojokerto. Oleh karena itulah, potensi sejarah dan warisan budaya inilah yang kami jadikan motivasi untuk membangun kota terkecil ke-2 ini untuk bisa menjadi kota yang maju yang memiliki kontribusi dalam kemajuan Jawa Timur yang saat ini menjadi barometernya Indonesia dengan mengangkat potensi sejarah dan budaya Mojopahit," ungkap Ning Ita.

Lebih lanjut dikatakannya, keterbatasan sumber daya yang ada di kota ini tentu saja tidak menajadi sebuah hambatan bagi pihaknya. Namun justru sebagai penyemangat untuk terus berupaya menggali potensi yang ada di kota ini.

"Sumber Daya Alama (SDA) sangat terbatas, kita tidak memiliki area pertanian, hutan, kepulauan namun kami bangga, di kota yang kecil ini ada enam sungai besar yang mengaliri kota kita. Itulah sebabnya pusat sejarah dan budaya Majapahit ada di kota ini, karena dahulu jalur distribusi lebih banyak menggunakan aliran sungai karena banyak keterbatasan saat itu," jelasnya.

Menurutnya, Alhamdulilah, enam sungai itu tidak membawa bencana banjir bagi Kota Mojokerto namun sebaliknya justru membawa kesejahteraan karena dalam waktu 30 tahun ini tidak pernah mengalami kekeringan atau kekurangan air.

"Berawal dari potensi itulah, kami memiliki sebuah Grand Design, yang kemudian dimasukkan ke dalam usulan pembangunan di Bappenas sehingga lahir Perpres 80 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan ekonomi kawasan Jawa Timur. Kami ingin menghadirkan kembali kebesaran Kerajaan Majapahit di Kota Mojokerto dalam bentuk miniatur, tentunya itu hanya sebatas sebuah infrastruktur untuk masyarakat mengenang kejaayaan Majapahit. Namun lebih dari itu partisipasi dan lestarinya budaya ini yang kami terus upayakan. Anak-anak yang di sekolah mulai kami kenalkan kembali permainan hingga olahraga tradisional," sambungnya.

"Setiap tahun kami mempunyai event budaya yang cukup besar, yakni Mojotirto Festival. Sebuah event dalam melestarikan budaya serta sebagai rasa syukur atas keberlimpahan air. Di dalam festival tersebut, kami mengajak partisipasi warga untuk menampilkan berbagai jenis permainan dan budaya, bahkan peserta yang hadir mencapai ribuan orang. Selain event itu, kami juga mempunyai Mojobatik Festival yang juga dilaksanakan setiap tahun, event tersebut juga menampilan budaya serta dalam rangka mengangkat ekonomi warga khususnya dalam kearifan lokal membatik, saat ini sudah ada 70 motif batik yang sudah dipatenkan," pungkasnya.

Tags
Anda Sedang Membaca:

Kunjungi Bumi Majapahit, Kapusdiklat Kemendikbudristek Puji dan Ingin Belajar dari Pemkot Mojokerto

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT