Rabu, 17 Agustus 2022
Advetorial

Raih Predikat Sangat Memuaskan, Wabup Mojokerto Gus Barra Berhasil Menyandang Gelar Doktor

profile
Andy

28 Juni 2022 23:10

3.8k dilihat
Raih Predikat Sangat Memuaskan, Wabup Mojokerto Gus Barra Berhasil Menyandang Gelar Doktor
Gus Barra saat diwisuda. (SJP)

MOjOKERTO - Wakil Bupati (Wabup) Mojokerto Muhammad Albarraa berhasil meraih gelar Doktor (S3) dengan predikat sangat memuaskan dari Universitas Padjadjaran, Selasa (28/6/2022) sore.

Wabup Mojokerto yang akrab disapa Gus Barra ini menyampaikan disertasi berjudul Naskah Perjuangan Kyai Abdul Wahab: Edisi Teks Dan Kajian Historiografi Nahdlatul Ulama,” Karya Kiai Abdul Chalim dalam Sidang Promosi Doktor Program Studi Ilmu Sastra Konsentrasi Filologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

Disertasi ini ditulis langsung oleh Gus Barra, putra Ketua Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) KH Asep Saifuddin Chalim untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Sastra. 

Penelitian ini dilakukan Gus Barra untuk menghasilkan teks yang bersih dari kesalahan sebagai dasar pengungkapan peranan tokoh KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdul Halim dalam proses perjalanan berdirinya Nahdlatul Ulama.

Disertasi ini hendak membahas tiga buah hal yang menjadi rumusan masalahnya, yaitu: Bagaimana edisi teks naskah Sejarah Perjuangan KH Abdul Wahab yang bersih dari kesalahan? Bagaimana historiografi NU dan pendirinya versi naskah Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahab? Dan bagaimana peran KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Abdul Halim dalam pendirian NU versi naskah Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab?


Dasar Peniltian

Obyek dan data penelitian disertasi ini berasal dari naskah cetak tua “Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab” karya KH Abdul Halim Leuwimunding Majalengka (1898-1972), seorang saksi dan pelaku sejarah berdirinya organisasi Nahdhatul Ulama. 

Karya ini ditulis di Leuwimunding, Majalengka pada tahun 1970 yang ditulis dengan aksara Arab-Melayu berbentuk puisi berirama yang merekam dari dekat kehidupan KH Abdul Wahab Hasbullah  dan semangatnya yang membara dalam membangun kesadaran pentingnya berjam’iyyah. 

Naskah tersebut lalu dicetak oleh percetakan Baru di Bandung pada tahun yang sama. Peneliti yaitu Muhammad Al Barra memperoleh naskah tersebut secara turun temurun sebagai warisan keluarga. Pengarang karya ini, yaitu KH Abdul Halim yang merupakan kakeknya sendiri.

KH Abdul Halim Leuwimunding sendiri merupakan tokoh pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 di Surabaya (Jawa Timur). 

Beliau adalah satu-satunya ulama asal Tatar Sunda yang turut serta membidani proses kelahiran Jam’iyyah Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 di Surabaya, dan terus aktif berkhidmah bagi Jam’iyyah tersebut hingga akhir hayatnya pada tahun 1972.  

Naskah ini ditulis oleh pengarangnya untuk merekam jejak sejarah NU melalui perspektif tokoh KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1970), yang disebut oleh pengarang sebagai salah satu guru utama, mentor dan inspiratornya, yang juga aktor utama dalam sejarah pendirian NU. 

Selain itu, ditulisnya karya ini oleh pengarangnya juga sebagai kenang-kenangan yang dapat dipersembahkan kepada khalayak ulama dan peserta Muktamar NU ke-25 yang digelar di Surabaya (Jawa Timur) pada tahun 1971, atau satu tahun setelah karya ini ditulis. Sebelumnya, muktamar NU ke-24 digelar pada tahun 1967 di kota Bandung (Jawa Barat).  

Naskah Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab ini merupakan naskah tunggal. Naskah diperbanyak dengan mesin cetak stensilan. Teks naskah berbentuk nadoman mengikuti pola ilmu ‘aruď. Dengan menggunakan metode edisi standar, teks yang diduga mendekati aslinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dapat dihasilkan yang akan membuka jalan bagi penelitian berikutnya. 

Naskah ini juga merupakan bagian dari khazanah naskah Nusantara Islami yang menjadi bukti otentik peran intelektual ulama Nusantara, terkhusus dari Sunda, dalam gerakan penyebaran agama Islam serta kesadaran berbangsa dan bernegara di tanah air kita tercinta ini. 

Teks Sejarah Perjuangan Kiayi Haji Abdul Wahab mempertegas kiprah besar KH Abdul Wahab yang menggagas berdirinya organisasi da’wah Nahdlatul Wathan (NW) hingga bertransformasi menjadi NU dalam percaturan politik di Indonesia pra kemerdekaan dan setelah kemerdekaan dalam pembangunan politik bernegara dan berbangsa yang setiap saat menghadapi perubahan-perubahan drastis. 

Lahirnya Sejarah Perjuangan Kiai Haji Abdul Wahab dapat meminimalisasi distorsi sejarah, khususnya tentang resolusi jihad yang mengilhami perang 10 November di Surabaya yang monumental yang sedikit sekali peran ulama disinggung di dalamnya dalam buku-buku sejarah.

Setelah pemaparan yang dilakukan, berbagai pertanyaan pun ditanyakan oleh promotor, termasuk kebaruan penelitian. Semuanya pun bisa dijawab oleh Gus Barra. Setelahnya sidang promosi doktor pun diskors sekitar 15 menit, untuk rapat penilaian oleh Ketua Sidang bersama Promotor.

Alhasil, Ketua Sidang Prof. Aquarini Priyatna, MA., M.Hum., Ph.D. menyampaikan Muhammad Albarraa lulus dari program studi Doktor Ilmu Sastra Konsentrasi Filologi dengan yudisium sangat memuaskan. Yang langsung disambut dengan tepuk tangan peserta sidang.

"Oleh karena itu, sesuai dengan sistem akademik, mulai hari ini saudara berhak menggunakan gelar Doktor. Kami ucapkan selamat kepada saudara Muhammad Albarraa. Semoga gelar doktor ini bermakna untuk pencapaian saudara di masa yang akan datang. Hendaknya saudara terus berakselerasi untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara," ungkap Prof. Aquarini Priyatna.

Lebih lanjut Prof. Aquarini Priyatna mengatakan, perlu diketahui ijazah Doktor tidak diserahkan pada sidang hari ini, melainkan dalam wisuda Universitas Padjadjaran mendatang.

"Sebagai bukti kelulusan saudara dalam sidang promosi doktor, kami serahkan sertifikat kelulusan sidang promosi doktor atas nama Muhammad Albarra," tandasnya.

Sementara itu, Prof DR KH Asep Saifuddin Chalim menyampaikan terima kasih kepada Ketua Sidang, Tim Promotor serta hadirin yang tidak bisa ia sebutkan satu persatu.

"Alhamdulillah pada saat ini putra pertama saya, Muhammad Albarra telah berhasil menyelesaikan sidang promosi doktor ya hari ini. Sebagai orang tua hampir-hampir tidak pernah berkunjung ke tempat ini kecuali satu kali mungkin itupun terlambat saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," ungkap Kiai Asep Saifuddin Chalim yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah.

Lebih lanjut Kiai Asep mengatakan, walaupun demikian. Kebetulan pihakmua memiliki Universitas / Institut Kiai Haji Abdul Chalim yang sudah ada program S1, S2 dan S3.

"Kami Mohon bimbingan dan kerjasamanya, sehingga melalui pendidikan kita bisa memberikan bakti kita kepada bangsa dan negara. Selanjutnya kepada anak saya saya sampaikan setelah lulus ini segeralah dibuat sebuah buku dan kemudian lanjut berkiprah," harap Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, 10 tahun yang lalu ia diberi amanah untuk menghidupkan perguru yang sudah tidur yang kemudian dalam lagu marsnya "Bangkitlah dari tidurmu yang panjang", karena berdirinya memang tahun 1952 kemudian mati dan baru berdiri lagi pada tahun 2002. 

"Berdirinya juga harus melalui pendirian, dengan prosesnya yang panjang seperti saat berdirinya,yakni  kira-kira 10 tahun yang lalu dan saya di beri amanah untuk memimpin. Alhamdulillah belum sampai 10 tahun sudah berdiri berguru di 34 provinsi di 514 cabang dan hampir di belakang Ibu pengurus anak cabang," jelasanya.

Kiai Asep menekankan, tujuannya tidak ada lain adalah bagaimana yang tadi saudara sampaikan dalam pemaparan bahwa ketika Abahnya menulis surat undangan untuk mengundang ulama-ulama besar pulau Jawa Madura dan Kalimantan seperti yang dilakukan oleh Kiai Abdul Halim dan Kiai Wahab.

Terpisah, Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh mengucapkan selamat kepada Wabup Mojokerto Gus Barra atas gelar doktor yang diterimanya pada sidang promosi doktor Universitas Padjadjaran hari ini.

"Mudah-mudahan disertasinya itu bisa segera diterbitkan menjadi buku. Banyak hal yang belum terungkap, dengan disertasi beliau, Insyaallah bisa bermanfaat," harap Ayni Zuroh.

Sementara itu, ketika diberikan kesempatan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata setelah resmi menyandang doktor, Gus Barra mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua, istri dan anak-anaknya.

Saat itulah, nampak Gus Barra tidak bisa menahan rasa haru bercampur bahagia karena untuk menyelesaikan doktornya itu, ia pun harus sibuk bahkan riwa-riwi ke Bandung. Yang tentunya sedikit banyak, menyita waktunya dengan keluarga apalagi ia juga seorang Wabup Mojokerto.

Perlu diketahui, dari Mojokerto nampak hadir Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Ayni Zuroh, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Fraksi Demokrat H.M. Sholeh,Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto Fraksi PDIP Perjuangan Hj Setia Puji Lestari dan Sekretaris DPRD Bambang Wahyuadi.

Sementara itu dari Jawa Barat nampak hadir Rois Syuriah PWNU Jawa Barat Dr H Abun Bunyamin, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat Dr. Hj Ineu Purwasundari, Wakil Bupati Sumedang, H. Erwan Setiawan,Ketua PERGUNU Jawa Barat Dr H Saepuloh, Ketua LP MA'ARIF NU Jawa Barat Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah, Ketua PCNU Kabupaten Majalengka Drs. KH Dedi.

Dalam Sidang Promosi Doktor diketuai oleh Prof. Aquarini Priyatna, MA., M.Hum., Ph.D
Sekretaris Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum; Ketua Tim Promotor Dr. Ade Koasish. Dua Anggota Promotor yakni Prof. Dr. I. Syarief Hidayat dan Dr. Undang A. Darsa. Tiga Oponen Ahli yakni Prof. Dr. Reiza D. Dienaputra, M.Hum; Prof. Dr. Sangidu As-Shofa, M.Hum; Dr. Hj. Titin Nurhayati Ma’mun, MS dan satu Guru Besar Prof. Dr. Cece Sobarna, M.Hum. (ADV)

 Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Raih Predikat Sangat Memuaskan, Wabup Mojokerto Gus Barra Berhasil Menyandang Gelar Doktor

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT