Rabu, 07 Desember 2022
Ekonomi

Produksi Susu Menurun Drastis, Komisi B DPRD Batu Gelar Hearing

profile
Doi

06 Oktober 2022 19:22

737 dilihat
Produksi Susu Menurun Drastis, Komisi B DPRD Batu Gelar Hearing
Komisi B DPRD Kota Batu hearing peternak dari Desa Oro-oro Ombo bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan. (SJP)

KOTA BATU – Produksi susu menurun drastis akibat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Komisi B DPRD Kota Batu mediasi para peternak dari Desa Oro-oro Ombo dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam hearing di gedung dewan.

Dalam forum hearing tersebut, lebih kepada agenda dengar pendapat antara para peternak dari Desa Oro-oro Ombo dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu.

Salah satu peternak yang turut hadir dalam dengar pendapat, Sukirman mengatakan, sebelum PMK produksi susu per ekor sapi bisa mencapai 25 liter per hari kini turun hanya menjadi 8 liter. 

Penurunan produksi susu ini, dikatakan Sukirman mengakibatkan kerugian bagi para peternak. Karena tidak imbang dengan biaya nutrisi dan pakan sapi.

"Tiga bulan setelah sapi sudah sehat, namun produksi susu sapi sangat sulit untuk naik, hanya mampu enam hingga delapan liter per sapi. Biayanya bisa 25 liter," katanya.

Sukirman menegaskan para peternak perlu nutrisi untuk hewan ternak, namun sayangnya mereka tidak terakomodir oleh pupuk bersubsidi.

"Solusi satu-satunya adalah memperbaiki bahan makanan sapi. Kami sangat bergantung pada pakan ternak yakni rumput gajah. Sementara keberadaan rumput gajah kondisi nutrisinya juga perlu ditingkatkan," papar dia.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Rukun Santoso, Karianto menyatakan, ada 145 hektare lahan yang dijadikan tempat untuk penanaman hijauan sebagai kebutuhan dasar pakan ternak.

"Ada lahan, tapi lahan tersebut milik Perhutani. Dampak PMK juga telah membuat perputaran uang menurun drastis di Koperasi Unit Desa," ungkap Karianto.

Karianto mencontohkan seperti KUD Batu, sebelum PMK, perputaran nilai per 10 hari bisa mencapai Rp 3 miliar, pada hari ini ketika terjadi PMK, hanya separohnya yakni, Rp 1,5 miliar dalam 10 hari. 

"Dengan asumsi seperti itu, peran peternakan itu sendiri sangat besar untuk perekonomian Kota Batu," paparnya.

Kalianto menambahkan bahwa para peternak berusaha semaksimal mungkin mencapai pemulihan dari sektor peternakan. 

"Kami berupaya swadaya demi kondisi yang lebih baik. Bahkan memberanikan diri untuk pinjam uang ke sanak keluarga kami," imbuh dia.

Terlebih, diungkapkan Karianto, para peternak juga mengeluhkan pendataan yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang dinilainya hanya mendata sapi mati saja. 

"Seharusnya dinas juga mendata sapi-sapi yang sakit, dan produksi susunya berkurang. Tujuannya supaya ada analisa mengenai langkah antisipasi masalah seperti ini," tegas dia.

Menanggapi pemaparan para peternak, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Heru Yulianto menyatakan, di tengah kelangkaan pupuk bersubsidi ini, harganya juga tidak murah, solusi yang ditawarkan yakni kembali ke pertanian organik. 

Heru menegaskan, pada intinya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan siap membantu para petani dan peternak sesuai aturan yang ada. Bantuan itu bisa berupa pelatihan, bantuan alat atau bibit.

"Kami sudah berupaya meningkatkan anggaran ke dalam kategori Bantuan Tidak Terduga (BTT). Namun hal tersebut belum bisa terlaksana karena tidak masuk dalam pembahasan Perubahn Anggaran Keuangan (PAK) 2022," sanggah dia.

Ia menegaskan, awalnya pihaknya hendak masukkan ke BTT, namun hingga pembahasan PAK, BTT tidak bisa dilaksanakan. Akhirnya sisa anggaran tidak banyak. (Doi Nuri)

Editor: Redaksi 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Produksi Susu Menurun Drastis, Komisi B DPRD Batu Gelar Hearing

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT