Rabu, 17 Agustus 2022
Ekonomi

Wacana Realisai Cable Car di Kota Batu, Asmadi: Belum Tentu Jadi, Tergantung Masyarakat

profile
Doi

07 Juni 2022 13:27

361 dilihat
Wacana Realisai Cable Car di Kota Batu, Asmadi: Belum Tentu Jadi, Tergantung Masyarakat
Ketua DPRD Batu, Asmadi, saat menerima masukan terkait Cable Car. (SJP)

KOTA BATU – Ketua DPRD Kota Batu menyatakan wacana realisasi Cable Car atau wisata kereta gantung, belum bisa dipastikan jadi, mengingat banyak aspirasi masyarakat yang perlu dipertimbangkan.

Kendati Ketua Among Tani Foundation (ATF), Dr Nurbani Yusuf pada Rabu 1 Juni 2022 lalu telah mendeklarasikan PT Among Tani Indonesia sebagai nahkoda pembangunan mega proyek Cable Car dengan melakukan penandatanganan kerjasama dengan pihak penyedia kereta.

Namun demikian, pihak DPRD Kota Batu hingga berita ini ditayangkan, belum pernah diajak berbicara terkait gagasan kereta gantung.

"Kami di DPRD Batu ini punya 29 wakil rakyat, dengan bidang masing-masing yang seharusnya diajak berdialog terkait proyek tersebut," imbuh Asmadi. Selasa (7/6/2022)

Kerja legislatif, lanjut Asmadi, adalah kolektif koleksial untuk menentukan sebuah program atau kebijakan yang memiliki dampak kepada masyarakat.

"Informasi terkait pembangunan Cable Car atau Kereta Gantung, selama ini masih sepotong-sepotong. Aspirasi masyarakat Kota Batu perlu dikumpulkan dan didengarkan, kemudian dipertimbangkan," kata Asmadi.

Sebelumnya, masih kata Asmadi, pembangunan Cable Car dilaksanakan dengan Detail Engineering Design (DED) menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Pada kenyataannya, pelaksana proyek kini diambil alih oleh PT Among Tani Indonesia bersama ATF, bahkan dikabarkan melibatkan Dopplermayer Austria.

"Awalnya kan proyek Cable Car ini kan RPJMD nya Wali Kota Batu, sudah jalan termasuk DED nya, tiba-tiba sekarang diambil alih pihak swasta, ini harus kita sesuaikan dengan aturan main yang berlaku," tegas Asmadi.

Lebih lanjut, Asmadi menegaskan pihak DPRD Kota Batu akan mengkaji ulang rencana realisasi Cable Car tersebut dengan pergeseran dari sumber dana APBD ke pihak swasta.

"Saat penandatanganan MOU dengan pihak penyedia kereta di ATF waktu itu, perwakilan dari DPRD Batu ada Pak Kamim dari Ketua Komisi C, namun belum ada pembahasan terkait langkah-langkah strategis," papar dia.

Terpisah, dari pihak ATF dalam hal ini Dr Nurbani Yusuf apa yang ditandatangani hanya prolog pra Cable Car.

"Penandatanganan kerjasama saat itu bukan perjanjian pembangunan, sekadar prolog saja dan hanya berlaku selama enam bulan sejak di tandatangani," bantah dia.

Menurut Nur Bani, agenda penandatanganan kerjasama itu agar masyarakat Kota Batu dapat berpartisipasi aktif.

"Meskipun dibawah PT Among Tani Indonesia, nantinya mulai dari kepemilikan saham, hingga pengambialan kebijakan dalam pembangunan kereta gantung, masyarakat akan dilibatkan," kilah dia.

Porsi ATF dalam proyek Cable Car ini, ditegaskan Nur Bani sekadar sebagi mediator PT Among Tani Indonesia dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait.

Sementara itu, Komisaris Utama PT Among Tani Indonesia, Tomy B Satrio mengatakan, proyek ini sudah ada sejak lama.

Ia mengakui pemrakarsanya adalah Pemkot Batu dengan payung hukumnya. Yakni Perpres No 80 Tahun 2019. Menjadi proyek strategis nasional dengan biaya dari swasta.

“Dengan dasar itu ada keinginan dari PT INKA bergabung dan bekerjasama dengan PT Among Tani Indonesia sebagai pihak swasta,” ujar Tomy.
Tomy menegaskan, pihaknya akan tetap mengajak partisipasi masyarakat. Terutama masyarakat Kota Batu agar memiliki saham.

“Jika nanti INKA mendapat pinjaman dana dari pihak lain, ya, itu urusannya INKA. Tetapi yang jelas kami berkeinginan melakukan kolaborasi. Dengan tujuan, proyek ini segera terwujud. Secara garis besarnya kepemilikan masyarakat akan tetap ada,” jelas dia.

Dipaparkan Tomy, masyarakat bisa berpartisipasi melalui koperasi-koperasi yang akan dibentuknya.

Karena, jelas Tomy, jika kepemilikan langsung ke masyarakat dan tak melalui koperasi, terdapat peraturan otoritas jasa keuangan (OJK) yang membatasi. Yakni hanya bisa dimiliki 300 orang saja.

“Jika sudah di atas 300 orang, masuk dalam kategori perusahaan terbuka. Karena sementara ini PT Among Tani Indonesia masih perusahaan tertutup. Maka dari itu masih dibatasi hingga 300 orang saja yang bisa memiliki saham,” tandas dia. (Doi Nuri)

Editor: M Syahrul Huda 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Wacana Realisai Cable Car di Kota Batu, Asmadi: Belum Tentu Jadi, Tergantung Masyarakat

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT