Jumat, 03 Februari 2023
Hukum

Begini Kata AJI Surabaya dan Advokat PERADI terhadap Tindak Kekerasan dan Intimidasi Lima Jurnalis

profile
jefri

22 Januari 2023 16:49

1.4k dilihat
Begini Kata AJI Surabaya dan Advokat PERADI terhadap Tindak Kekerasan dan Intimidasi Lima Jurnalis
Setelah jurnalis mendapatkan intimidasi di Surabaya, ini reaksi AJI dan Advokat Peradi. (SJP)

SURABAYA – AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya menyatakan sikap mengecam penganiayaan dan intimidasi terhadap 5 jurnalis di Surabaya oleh sekelompok orang tak dikenal, Jumat malam 20 Januari 2023 lalu.

Ketua AJI Surabaya, Eben Haezer mengatakan terhadap prilaku perbuatan upaya tindak kejahatan dan kriminal berakibat penganiayaan dan intimidasi kepada tugas kejurnalistikan yang dilakukan pewarta foto dan tulis adalah tidak dibenarkan secara hukum aturan berlaku.

Sebab, kejadian tersebut terjadi saat para korban sedang meliput penyegelan tempat hiburan malam di kawasan Jl Simpang Dukuh, Kota Surabaya.

Dan berdasarkan informasi yang diperoleh dari korban, penganiayaan itu dilakukan oleh belasan orang.

Diketahui lima jurnalis yang menajdi korban diantaranya Rofik dari media siber LensaIndonesia, Firman dan Ali dari
iNews.id, Anggadia dari beritajatim.com, dan Didik yang merupakan pewarta foto LKBN Antara.

Menurut Eben, peringatan kepada pelanggar tindak kekerasan dan penganiayaan terhadap profesi Jurnalis, AJI menyatakan menyatakan sikap berikut;

1.Tindakan para pelaku tergolong melanggar Pasal 18 UU Pers 40 tahun 1999.

2.Mengecam berbagai bentuk kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis, terlebih yang terkait dengan aktivitas jurnalistiknya.

3.Mengapresiasi para korban yang berinisiatif melaporkan tindakan para pelaku kepada aparat
penegak hukum.

4.Mendorong publik untuk tidak melakukan intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis seperti
apapun bentuknya. Sebab, pada dasarnya jurnalis adalah kepanjangan tangan publik yang bertugas memenuhi hak-hak publik untuk tahu (public right to know). 

Selain itu, UU menyatakan bahwa pers nasional mendapatkan jaminan perlindungan hukum dalam melakukan pekerjaan jurnalistik.

5.Mendorong dan mendukung aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kejadian yang dialami jurnalis dan memproses hukum siapapun yang terlibat, baik yang bertindak sebagai pelaku maupun sebagai
aktor intelektualnya.

Sementara tim advokasi AJI, Salawati Taher yang sempat mengawal dalam peristiwa kasus kekerasan terhadap Nurhadi,Jurnalis Tempo di Surabaya menanggapi dan merespon senada lantaran sudah kesekian terjadi kepada insan pers Indonesia.

"Kami mengecam tindakan kekerasan jurnalis yang mengalami upaya penghalangan tugas ataupun intimidasi oknum saat teman-teman insan pers melakukan peliputan berita menyajikan informasi kepada publik," katanya.

Ia juga meminta kepada pihak aparat penegak hukum utk memproses kejadian tsb dengan pasal delik pers serta pasal tindak pidana kekerasan.

Lebih jauh dibeberkan Salawati bahwa tindakan kekerasan kepada teman-teman jurnalis jelas kriminal & melanggar delik pers sesuai aturan hukum yang ada. 

"Karena tetap kita semua harus perjuangkan bahwa  kebebasan pers di negeri kita harus dijaga," imbuhnya.

Dicontohkan Salawati terkait upaya-upaya hukum ataupun berkait dengan tugas jurnalistik sudah dipaparkan melalui Delik pers pasal 18 ayat (1)UU No 40 th 1999 ttg Pers jo tindakan penganiayaan pasal 351 KUHP dan kalau ada pengeroyokan juga pasal 170 KUHP.

"Semoga kita semua terus bahu membahu menyuarakan anti kekerasan terhadap jurnalis & tegaknya kebebasan pers," tutupnya. 

Untuk diketahui,  peristiwa penganiayaan itu bermula sekitar pukul 14.00 WIB (20/01/2023). Mereka datang ke warung depan tempat hiburan di Jl Simpang Dukuh, Surabaya, untuk bersiap meliput penyegelan tempat hiburan malam oleh Satpol PP Pemprov Jatim dan DPMPTSP (Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu).

Lalu ada seorang perempuan yang tak mereka kenal, berteriak dengan nada marah dan menyuruh
mereka naik ke lantai 5 untuk bertemu seorang pria.

Karena merasa tak mengenal pria yang namanya disebutkan oleh perempuan itu, mereka pun
menolak. Selain itu, para korban juga sedang menunggu kedatangan dinas terkait untuk melakukan
wawancara doorstop.

Sekitar pukul 14.30 WIB, Angga, Firman, dan Rofik menunggu di depan lift gedung. Mereka kembali
diajak naik untuk menemui pria yang namanya disebutkan oleh perempuan tak dikenal tadi. 

Sekali lagi permintaan itu ditolak karena mereka masih ingin melakukan wawancara doorstop dengan dinas terkait.

Pukul 15.00 WIB, Rofik kembali menuju warung depan untuk menghampiri Didik dan memanggil
agar bersiap-siap di depan lift.

Saat itulah, Rofik mendengar provokasi kembali dari perempuan yang sama. Adu mulut terjadi.

Hanya selang hitungan detik, belasan pria tak dikenal yang sempat mengintimidasi Angga dan Firman saat di gedung, menghampiri Rofiq di warung dan langsung melakukan pemukulan di bagian kepala belakang, wajah, pinggang bagian belakang kanan, hingga pelemparan kursi dan injakan kaki pada paha dan betis berulang kali. (Jefry Yulianto)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Begini Kata AJI Surabaya dan Advokat PERADI terhadap Tindak Kekerasan dan Intimidasi Lima Jurnalis

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT