Jumat, 03 Februari 2023
Hukum

Diduga Jadi Korban Mafia Tanah, Warga Banyuwangi Ajukan Gugatan ke PTUN Surabaya

profile
Ikhwan

21 Oktober 2022 15:29

493 dilihat
Diduga Jadi Korban Mafia Tanah, Warga Banyuwangi Ajukan Gugatan ke PTUN Surabaya
Lahan milik warga banyuwangi yang tiba-tiba pindah kepemilikanya.

BANYUWANGI - Warga Banyuwangi bernama Siti Arofah (40) mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya. 

Upaya tersebut, terpaksa harus ditempuh demi menyelamatkan tahan seluas 3600 m² warisan orang tuanya yang berada di Desa Labanasem, Kecamatan Kabat, Banyuwangi.

Lahan milik Arofah mendadak berpindah kepemilikan. Mendadak muncul sertifikat tanah di lahan tersebut atas nama Idrus Muttaqin. Kondisi itu memicu sengketa antara keduanya.

Alhasil, hakim PTUN Surabaya terpaksa harus turun ke lokasi sengketa yang berada di Desa Labanasem, Kecamatan Kabat tersebut. Kedatangannya ke Banyuwangi hanya mengecek lokasi sengketa.

"Kedatangan kami ke lokasi untuk memastikan lahan sengketa, serta mengumpulkan keterangan dari penggugat, tergugat maupun pihak intervensi. Sebagai pertimbangan sebelum hakim mengambil kesimpulan dalam perkara tersebut," kata anggota Hakim PTUN, Agus Effendi.

Kasi Sengketa BPN selaku pihak tergugat, Mujiono mengatakan, jika lahan yang menjadi objek sengketa memiliki luas 2400 m². Data tersebut, sudah sesuai dari data di BPN Banyuwangi. 

"Lahan tersebut diajukan oleh Idrus Muttaqin, sedangkan pihak penggugat mengeklaim juga itu tanah milik penggugat," ujarnya singkat.

Pihak intervensi, Idrus Muttaqin yang merupakan pemilik sertifikat hak milik (SHM) tahan seluas 2400 m² tersebut mengklaim sudah membeli tahan tersebut. Lahan seluas 3600 m² itu, dibelinya dari Siti Arofah seharga Rp 100 juta.

"Sudah ada akta jual beli, saat itu masih berbentuk petok dan akhirnya saya buat sertifikat atas nama saya. Namun, yang menjadi sertifikat hanya 2400 m² saja," bebernya.

Idrus menyebut, dirinya tidak mengetahui jika lahan tersebut diklaim oleh orang lain. Dirinya juga mengetahui, jika pengurusan sertifikat tersebut telah sesuai prosedur dan melalui salah satu notaris di Kabupaten Banyuwangi. 

"Saya memang tidak tau batasnya, yang saya tau hanya membelinya serta membuat sertifikat tanah tersebut," ungkapnya.

Penggugat Siti Arofah melalui kuasa hukumnya, Subhan Fasrial mengatakan Arofah selaku kliennya tidak pernah menjual lahan tersebut. Diduga akta jual beli yang disampaikan oleh pemegang SHM itu dipalsukan.

"Tidak pernah ada jual beli lahan, akta jual beli tersebut palsu. Karena klien kita tidak pernah tanda tangan jual beli," kata dia.

Sebetulnya, kata Subhan, lahan seluas 3600 m² yang masih berbentuk petok tersebut hanya di pinjamkan uang kepada Idrus Muttaqin senilai Rp 40 juta. Sesuai perjanjian keduanya yaitu jual beli kelapa yang ada di atas tanah tersebut.

"Hanya perjanjian saja yang menerangkan bahwa ada jual beli kelapa, tetapi di awal tahun 2022 lalu malah ada sertifikat tanah atasnama Idrus Muttaqin," ungkapnya.

Pihaknya menduga ada mafia tanah yang bermain dalam proses pembuatan sertifikat tersebut. Lantaran, saat BPN Banyuwangi melakukan pengukuran maupun menerbitkan sertifikat tidak pernah menghadirkan pemilik tanah yang berbatasan dengan lahan tersebut.

"Sebenarnya juga sudah ada surat penolakan dari pihak Pemdes Labanasem saat proses pembuatan sertifikat yang diajukan Idrus Muttaqin, tetapi entah kenapa sertifikat tetap muncul," jelasnya.

Subhan menegaskan, bahwa juga dapat disimpulkan saat hakim PTUN Surabaya ke lokasi. Pemilik SHM tidak bisa menjelaskan luasan lahan yang miliknya. Malah ada perbedaan lahan yang dijelaskan oleh pemilik SHM dan BPN Banyuwangi.

"Kami harapkan hakim juga dapat menilai bahwa ada keganjalan dalam proses penerbitan sertifikat tersebut, sehingga diduga kuat adanya mafia tanah," pungkasnya.

Publisher : Syahrul

Tags
Anda Sedang Membaca:

Diduga Jadi Korban Mafia Tanah, Warga Banyuwangi Ajukan Gugatan ke PTUN Surabaya

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT