Kamis, 30 Juni 2022
Hukum

Perkosaan di Lingkup Ponpes Banyuwangi, Pengamat Minta Kemenag Rancang Skema Pengawasan dan Asesmen Rutin

profile
Ikhwan

24 Juni 2022 14:17

309 dilihat
Perkosaan di Lingkup Ponpes Banyuwangi, Pengamat Minta Kemenag Rancang Skema Pengawasan dan Asesmen Rutin
Ilustrasi Suara.com

BANYUWANGI - Kasus pemerkosaan dan pencabulan yang terjadi di salah satu pondok pesantren yang berada di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi membuat heboh masyarakat. 

Sedikitnya ada 5 santriwati yang mengaku menjadi korban dalam kasus pemerkosaan dan pencabulan tersebut.

Kasus itu mencatut pria berinisial Fz pengasuh ponpes sekaligus mantan anggota DPRD Banyuwangi sebagai terduga pelaku.  

Tanggapan dari berbagai pihak pun mengemuka.

Pengamat, Veri Kurniawan mengatakan, berkaca dari banyaknya kasus kekerasan di lingkup pesantren sudah seharusnya Kementrian Agama (Kemenag) melakukan pembenahan sistem pengawasan. Hal itu perlu dilakukan untuk meminimalisir kejadian serupa terus terulang kembali.

Pria yang menjabat sebagai Koordinator Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan Anak (TRC PPA) Banyuwangi ini mengusulkan agar Kemenag melakukan pengawasan sisi personal pengajar maupun memperkuat mekanisme aturan pelaporan kekerasan seksual.

Seperti halnya pengawasan personal kepada pengajar di lingkup ponpes, Veri menyarankan Kemenag melakukan asesmen rutin. Hal itu untuk memastikan guru ataupun pengajar tetap memiliki integritas serta sehat secara mental dan spiritual.

"Saya merekomendasikan Kemenag bekerja sama dengan ahli untuk melakukan asesmen secara pribadi ke setiap pengajar. Hal itu memastikan apakah ada kecondongan seksual, karena kan sangat rentan korbannya adalah anak-anak," pintanya, Jumat (24/6/2022).

Veri mengatakan kekerasan seksual rentan terjadi di semua institusi pendidikan, termasuk ponpes dan asrama keagamaan lainnya. Kultur yang ada di ponpes memiliki kecendrungan relasi timpang antara tokoh agama dan para murid.

"Sangat riskan karena bisa jadi yang digunakan adalah mekanisme kekuasaan. Apa yang diminta pemilik kuasa harus dituruti. Sehingga jelas sangat rawan bagi anak itu sendiri," tegasnya.

Oleh sebab itu Veri meminta agar Kemenag segera menyusun aturan yang memuat pencegahan kekerasan seksual di lingkup ponpes. Salah satunya dengan membuat skema pelaporan yang bisa dilakukan para santri bila mengalami dugaan kekerasan seksual.

Dalam skema itu, menurutnya peran dari kepolisian juga sangat diperlukan.

"Kalau anak kena dugaan pelecehan harus bagaimana, lapor kemana, data pribadi harus dijaga. Maka ini butuh sistem. Karena kalau laporannya di internal pesantren saja itu gak akan jalan juga. Jadi objektif lintas. Jadi anak bisa lapor. Polisi juga harus berperan disini," tegasnya.

"Tidak hanya pada institusi yang berada di bawah naungan Kemenag tapi juga berlaku untuk yang di bawah naungan Kemendikbud," imbuhnya.

Veri pun berharap Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tidak tinggal diam menyikapi kasus kejahatan seksual yang ada di wilayahnya. 

Pemkab harus berkomitmen memberantas segala bentuk kejahatan pada anak, khususnya kejahatan seksual. 

"Pemerintah Kabupaten Banyuwangi wajib turun tangan, wajib. Apalagi Banyuwangi menyandang status Kabupaten ramah anak, ya dibuktikan dong," pinta Veri.

Sebelumnya, Polresta Banyuwangi mendapat laporan dari salah seorang wali siswa tentang adanya dugaan pemerkosaan dan pencabulan yang terjadi di salah satu ponpes di Kecamatan Singojuruh.

Kasus itu sudah dilaporkan ke Polresta Banyuwangi sejak seminggu lalu. Terlapor dalam kasus ini adalah pria berinisial Fz.

Kapolresta Banyuwangi AKBP Deddy Foury Millewa melalui Kasat Reskrim Kompol Agus Sobarnapraja membenarkan adanya pelaporan dugaan tindak pidana persetubuhan dan pencabulan tersebut.

Dalam keterangannya, Kompol Agus menyebut ada 5 santriwati masih berusia di bawah umur yang mengaku telah digagahi oleh Fz. 

"Sementara yang melapor masih satu orang santriwati," kata Kompol Agus, Kamis (23/6/2022) kemarin.

Berdasarkan keterangan para santriwati tindakan tak senonoh itu dilakukan diluar jam aktif sekolah. Masing-masing santriwati dipanggil oleh Fz. Mereka lalu dipaksa untuk menuruti nafsu bejat pria hidung belang tersebut. 

"Mereka pelajar aktif di lembaga pendidikan tersebut. Sementara dari pengakuan mereka, pencabulan dilakukan diluar jam aktif sekolah. Dipanggil kemudian dicabuli," cetusnya.

Kasus ini, lanjut Kompol Agus, saat ini sudah masuk ke tahap penyidikan. Polisi telah memeriksa sebanyak 8 santriwati untuk dijadikan saksi.

"Polisi masih mengumpulkan alat bukti untuk memperkuat kasus ini. Polisi juga telah mengantongi bukti visum dari rumah sakit," ujarnya.

Terkait kebenaran identitas terlapor adalah Fz pengasuh pondok sekaligus mantan DPRD Banyuwangi, Kompol Agus, masih belum berani bersuara.

"Masih kita dalami, tentu siapapun itu pelakunya sepanjang alat buktinya cukup kita pasti proses sesuai ketentuan. Terlapor sudah kita kirim surat dan kita panggil pekan depan kita mintai keterangan," tandasnya.

Editor : Syahrul

Tags
Anda Sedang Membaca:

Perkosaan di Lingkup Ponpes Banyuwangi, Pengamat Minta Kemenag Rancang Skema Pengawasan dan Asesmen Rutin

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT