Rabu, 17 Agustus 2022
Kesehatan

SSGI Sebagai Tolak Ukur Perkembangan Status Gizi Balita

profile
Achmad

07 Juli 2022 07:45

516 dilihat
SSGI Sebagai Tolak Ukur Perkembangan Status Gizi Balita
dr Bayu saat ditemui awak media. (SJP)

LUMAJANG - Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) merupakan survei berskala nasional yang dilakukan untuk mengetahui perkembangan status gizi balita (stunting, wasting, dan underweight) tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

"Belum dilakukan survei SSGI pada tahun 2022, biasanya dilakukan pada akhir tahun," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang, Dr Bayu Wibowo Ignasius kepada media ini, Rabu kemarin 6 Juli 2022.

Dalam upaya meminimalisir kasus stunting di Kabupaten Lumajang, kata Bayu, pendekatan dan peningkatan akses pendidikan serta akses ketersediaan makanan sangat perlu.

Selain peningkatan dan pengaturan anggaran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang melalui Bappeda.

"Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu, bayi anak dan remaja juga sangat penting dalam menurunkan angka stunting," tambahnya.

Selain itu, upaya Dinkes, menurut Dr Bayu juga melalui pencegahan pernikahan anak melalui berbagai pihak, seperti  Kemenag dan Pengadilan Agama.

"Pemberdayaan masyarakat, LSM dan pihak swasta, semua harus bersama-sama ikut berperan dan berupaya, khususnya peran aktif dari media massa juga diharapakan," imbuhnya.

Data kasus stunting, melalui studi status gizi nasional, dengan mengambil sampel 300 balita, menurut Kadinkes, dapat diketahui pada tahun 2019, angka stunting 34 persen, dan menurutnya sangat tinggi.

"Di Jatim hanya 27 persen dan secara nasional 24 persen, jadi waktu itu angka stunting di Lumajang sangat tinggi, dibandingkan propinsi atau nasional. Target nasional pada tahun 2024 yaitu 14 persen," paparnya.

Data tahun 2021, diungkapkan Dr Bayu, turun menjadi 30 persen. Angka stunting dari bulan timbang Agustus 2021 sebesar 8 persen dengan sasaran semua balita ditimbang sekitar 45 ribuan balita.

"Ada perbedaan data, namun kesepakatan, data SSGI yang dipakai," pungkasnya.

Memang seperti yang telah disampaikan diawal, upaya yang dilakukan guna menurunkan angka stunting di Kabupaten Lumajang, kalau pihaknya tidak bisa berjalan sendiri, butuh komponen lain yang untuk berkolaborasi dalam penanganannya.

"Jelas tidak bisa sendiri.
Kerja kolaberasi lintas sektor lintas program. Banyak OPD terkait, seperti BAPPEDA, BKKBN, DINKES, bahkan TNI POLRI, Pertanian, Kemenag dan Pengadilan Agama harus dilibatkan," pintanya.

Menurut Dr Bayu, ada intervensi sensitif dan spesifik, melalui kebijakan daerah dan nasional dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) percepatan penurunan stanting.

"Pengurangan resiko tinggi stunting harus dilakukan oleh berbagai pihsk terkait, dimulai dari hulu seperti anak remaja sampai hilir seperti ibu hamil melahirkan dan bayi balita," tutupnya. (Fuad)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

SSGI Sebagai Tolak Ukur Perkembangan Status Gizi Balita

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT