Rabu, 07 Desember 2022
Komunitas

Workshop Agroforestri Kaitannya dengan Mitigasi Bencana di Banyuwangi

profile
Ikhwan

13 November 2022 22:29

559 dilihat
Workshop Agroforestri Kaitannya dengan Mitigasi Bencana di Banyuwangi
Workshop Agroforestri oleh Kembang Galengan (Kalipuro Research Center). (SJP)

BANYUWANGI – Kembang Galengan (Kalipuro Research Center) mengadakan workshop berkaitan dengan optimalisasi upaya mitigasi bencana di Banyuwangi.

Workshop berlangsung di basecamp Kembang Galengan yang berada di Lingkungan Secang Kelurahan Kalipuro, Minggu (13/11/2022).

Dalam workshop ini tema yang diangkat cukup menarik. Yakni peranan konservasi hutan dan Agroforestri dalam upaya meminimalisir dampak kekeringan maupun banjir.

Diikuti puluhan peserta dari mahasiswa yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Banyuwangi. Pun juga dihadiri kelompok pemuda, pelaku seni dan sejumlah Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Pencetus Kembang Galengan yang juga menjadi Fasilitator, Prof Luchman Hakim mengatakan manusia dihadapkan dalam berbagai macam ancaman yang mempengaruhi kelangsungan hidup. 

Ancaman tidak hanya berasal dari bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan perubahan iklim. Akan tetapi, juga termasuk kepunahan spesies, turunnya produktivitas pertanian, dan ketahanan pangan. 

Dalam pandangannya, Indonesia berbeda bila dibandingkan dengan sejumlah negara maju. Negera lain berlomba membuat roket, dan lainnya. Akan tetapi, Indonesia berbeda dimana yang diharapkan adalah kesejahteraan. 

"Semua itu bisa di dapatkan tidak hanya dari perkembangan teknologi. Akan tetapi, juga dari kelestarian alam," kata Prof Luchman.

Menurut dia, Science memberikan pengalaman saintifik. Salah satunya adalah integritas Biologi yang membahas pemeliharan sistem komunitas yang mencakup struktur dan fungsi.

Jika terjadinya penurunan struktur ekosistem maka fungsi ekologis juga akan berkurang. 

"Kunci integrasi Biologi ada di vegetasi yang berperan sebagai konservasi tanah dan air, regulasi iklim, serapan CO2, dan penyimpanan karbon, habitat flora fauna, aneka ragam fungsi sosial, ekonomi, estetika, dan lingkungan lainnya," ujarnya.

Prof Luchman menegaskan, vegetasi merupakan mesin alami. Mesin ini harus memiliki keseimbangan sehingga tidak harus selalu di tebang dan akan menimbulkan kerusakan lainnya. 

Menurut dia, Spektrum tutupan vegetasi yang terbaik adalah Agroforestri yang berisi beragam tanaman. 

Alasannya sederhana, Agroforestri dapat mereduksi pukulan air hujan karena terdiri dari beragam bentuk daun, meningkatkan diversitas Arthropoda sehingga proses biologis dapat berjalan dengan seimbang, memberikan harmonisasi, serta meningkatkan keragaman sumber makanan untuk hewan yang hidup di dalamnya.

Indonesia memiliki hutan tropis yang terkadang terdegradasi, jika menjadi Agroforestri masih bagus tetapi, apabila terjadi open land perlu dilakukan rehabilitasi. 

"Sistem Agroforestri yang dikembangkan warga Secang disebut Keranjang Ekositem Agroforestri yang tanahnya dapat menyimpan karbon, dan bahan organik dalam jumlah yang tinggi sehingga tanaman dapat tumbuh besar dan tinggi," tegasnya.

Prof Luchman Hakim menegaskan bahwa kehadiran Kembang Galengan di Banyuwangi adalah untuk memperkaya wawasan masyarakat tentang alam berbasis kajian ilmiah secara berkelanjutan.

Kembang Galengan diharapkan dapat menjadi pusat berkumpulnya mahasiswa dan praktisi dari Banyuwangi untuk belajar bersama, berdiskusi, hingga healing. 

Termasuk juga menjadi ruang untuk mempertajam kesenian lokal yang ada di Banyuwangi. Karena kesenian tidak bisa jauh dari adanya alam dan lingkungan. Lingkungan yang baik dapat mendorong perkembangan kesenian. 

Nama Kembang Galengan terinspirasi dari tanaman Refugia. Dimana dalam ekologinya refugia berperan menjadi wadah jaring-jaring makanan yang saling berinterkasi membuat kestabilan. 

"Saya menginginkan mahasiswa agar selalu rendah hati seperti pematang yang ada di Kembang Galengan," tegas Prof Luchman.

Acara ini turut menghadirkan Abdillah Baraas selaku ketua Ijen Geopark yang mengangkat materi “Banjir dan siklus alam yang selalu di Nista”.

Indonesia terbentuk dari dua lempeng yakni Indo-Australia dan Eurasia yang membuat wilayah Indonesia memiliki jajaran gunung aktif.

Banjir merupakan siklus alami yang sudah ada di zaman lalu bahkan sejak zaman Nabi Nuh. Beliau mengatakan “Perbedaan dulu dan sekarang terkait siklus alam jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan zaman terdahulu," kutip Prof Luchman.

Jika dahulu sisklus banjir terjadi dalam kurun waktu 20 tahun, lanjut Prof Luchman, maka sekarang terjadi lebih cepat menjadi 2 tahun.

Hal ini diakibatkan karena ulah manusia yang membangun rumah di dataran banjir dan membuang sampah di aliran sungai.

Ketika alam mendapatkan serangan dari manusia pastilah akan melakukan pertahanan. Sama halnya dengan manusia yang mendapatkan serangan dari penyakit.

"Selama sudut pandang manusia masih sama maka siklus banjir akan terjadi jauh lebih cepat," imbuh dia.

Abdillah juga menjelaskan bahwa nenek moyang sudah memikirkan mitigasi bencana alam yang dituangkan dalam peraturan adat contohnya seperti yang ada di suku adat baduy.

"Alam ini terlalu baik bagi manusia semuanya telah diberikan kepada kita, baik yang secara sukarela ataupun akibat dipaksa, bahkan diperkosa oleh manusia, semoga alam segera sadar bahwa mereka sedang diperdaya oleh manusia dan begitu juga sebaliknya," bebernya.

Sementara itu, Ketua DKB (Dewan Kesenian Banyuwangi) beserta jajaran juga turut hadir dalam acara ini. 

Dalam sesi diskusi, Ketua DKB Hasan Basri menambahkan bahwa kebutuhan primer sebernarnya sudah tercukupi. Akan tetapi, kebutuhan sekunder dan tersier mendorong kita untuk berbuat lebih sehingga membuat hubungan kita dengan alam menjadi renggang. 

Salah satu contohnya lahan yang awalnya telah memiliki konsep Agroforestri berubah menjadi monokultur. 

"Alam jika dianggap sebagai aset ekonomi pastilah akan selalu diubah seperti ditebang untuk kebutuhan ekonomi. Kita perlu lebih dekat dan memahami alam melalui pendakatan secara spiritual dan edukasi. Konsep Banyuwangi terhadap alam sangat baik, contohnya ditunjukkan pada lagu Grigis, Umbul-Umbul Blambangan," tegasnya. (SJP)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Workshop Agroforestri Kaitannya dengan Mitigasi Bencana di Banyuwangi

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT