Rabu, 07 Desember 2022
Lifestyle

Cerita Gandrung Lilik di Banyuwangi Pilu, Hingga Jadi Korban Perbudakan Juragannya

profile
Ikhwan

13 November 2022 18:33

590 dilihat
Cerita Gandrung Lilik di Banyuwangi Pilu, Hingga Jadi Korban Perbudakan Juragannya
Gandrung Lilik saat hadir dalam acara bedah buku Isun Gandrung yang berlangsung di Aula Pelinggihan Disbudpar Banyuwangi.

BANYUWANGI – Pilu, begitulah cerita hidup Aliyah alias Lilik, asal Dusun Gayam Lor, Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

Perempuan yang kini berumur 63 tahun ini adalah salah satu dari sekian banyak tokoh legenda Gandrung di Tanah Blambangan.

Namanya cukup tenar di tahun 1970an. Dia terkenal memiliki nama panggung Gandrung Lilik.

Dalam menjalani profesi Seniwati khususnya Gandrung, setiap dari mereka pasti memiliki cerita masing-masing. Tapi mungkin kisah hidup Gandrung Lilik adalah yang paling tragis.

Mengapa demikian? Anggapan kebanyakan orang menjadi Gandrung terkenal sudah pasti memiliki penghasilan melimpah. 

Alasan lumrah memang. Umumnya saat Gandrung terkenal undangan tampil akan kian padat. Jelas penghasilan yang diperoleh juga akan banyak.

Belum lagi, terkadang mereka juga mendapatkan uang saweran. Biasanya uang sawer justru lebih besar nilainya dari sekedar uang undangan.

Namun apa yang dirasakan Gandrung Lilik ini jelas berbeda 180 derajat. Selama menjalani profesi ini Lilik bahkan mengaku sama sekali tidak menikmati buah manisnya.

Kala masih muda, sekitar belasan tahun dan masih energik dalam menggandrung, Lilik hanya seperti sapi perah. Dia tak ubahnya budak, yang terus dimanfaatkan hanya untuk memperkaya tuannya.

Seperti dikutip pada buku Isun Gandrung karya Budi Osing, Lilik bercerita bahwa ia tercebur di dunia Gandrung sesaat setelah menikah. Entah tahun berapa, namun kala itu usia perkawinan masih belum genap 1 bulan.

Kala itu dia didatangi oleh tetangganya yang berinisial B. Pria itu yang kemudian menjadi juragannya.

"Saya diajak bapak itu, awalnya dia tahu qiroah saya. Kata dia suaranya enak. Terus katanya mau dijadikan Gandrung," ujar Lilik.

Saat pertemuan itu Lilik kemudian disuguhi buah nangka. Selepas memakan itu Lilik mengaku hilang kesadaran. Disitu keanehan mulai dirasakan Lilik.

Hal aneh pertama, dia lupa dengan suaminya. Bahkan tak lama berselang rumah tangga yang masih seumur jagung akhirnya hancur. Kuat dugaan bahwa Lilik telah diguna-guna.

"Kaya dibuat bodoh gitu. Sampai saya cerai ya juga ulah dia (pria berinisial B)," kata Lilik.

Pasca perceraian itulah perjalanan Gandrung Lilik dimulai. Oleh B, Lilik selanjutnya dibawa ke Desa Mangir, Rogojampi.

Di situ Lilik kemudian diserahkan kepada perempuan berinisial M. Sosok yang kemudian turut memberi warna kelam bagi kehidupan Lilik. Disitu kemudian Lilik diharuskan belajar Nggandrung.

Proses yang dijalani Lilik terbilang cepat. Kurang lebih 1 bulan latihan, Lilik sudah menjalani tradisi peras dan pupuh. Sebuah tradisi yang wajib dilalui ketika siswa hendak beranjak menjadi Gandrung Profesional. 

"Emak (panggilan untuk M) kalau ngajari keras. Kalau salah saya dipukuli. Nama asli saya kan Aliyah itu diganti Lilik, katanya biar cepat tenar," bebernya.

Dirasa sudah profesional, Lilik mulai dipromosikan. Lilik kemudian memulai debutnya dengan banyak tawaran undangan.

Ia langsung mentas dalam ajang Gandrung Terob, seni pertunjukan tradisi berupa tari dan vokal yang nyaris digelar semalam suntuk.

Namun semua undangan termasuk bayaran, diatur oleh B dan M. Lilik sama sekali tidak boleh tahu.

Bahkan uang hasil saweran saat manggung pun turut dirampas oleh para juragan.

"Setiap manggung diikuti dan ditunggu. Pas istirahat uang saweran itu direbut semua. Kalau saya ngeluh capek langsung disiksa, dipukuli," kata Lilik.

Mulai dari situ, batin Lilik pun terkoyak. Dia memberontak dan berupaya kabur dari cengkraman bengis para juragan.

Lilik berhasil lolos dan pulang ke rumah keluarganya yang berada di Gumirih. Tahu, mesin penghasil uangnya kabur, B lantas mencoba menjemput paksa.

Kala itu, Lilik disembunyikan oleh pamannya. Sempat terjadi cekcok antara B dengan Paman Lilik. Hingga narasi dan ancaman saling bunuh pun terlontar. Beruntung kala itu amarah keduanya berhasil diredam.

Merasa sudah terlepas dari cengkeraman para Juragan, Lilik pun masih meneruskan dan menerima undangan mentas. Dia sudah mulai mengatur sendiri jadwal manggungnya.

"Ada mungkin waktu dua puluhan undangan yang masih saya teruskan," ujarnya.

Namun lagi-lagi kenyataan pahit masih harus diterima Lilik. Diam-diam Lilik masih dipantau oleh B dan M. Uang-uang hasil undangan semuanya lagi-lagi diserobot.

Disitulah kemudian Lilik merasa nasibnya sudah di ujung tanduk. Semenjak itu, ia memutuskan berhenti dan enggan lagi menggandrung hingga saat ini.

"Kadang saya curahkan semua isi hati pada saat nggending (membawakan gending). Kalau pas gendingnya sedih saya pasti nangis, merasakan penderitaan," tegasnya.

Di usia senjanya Lilik kini tinggal sendiri di rumahnya yang berada di Gumirih. Ia sudah beberapa kali menikah. Untuk menyambung hidup Lilik kini hanya bisa bekerja serabutan. Terkadang menjadi buruh sapu dan cuci maupun berdagang sayur- sayuran.

"Dulu kalau masih tenaganya kuat ya nyari sisa-sisa padi di sawah. Sekarang sudah tidak kuat. Sekarang kerja yang mudah-mudah saja," tandasnya. (Ikhwan)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Cerita Gandrung Lilik di Banyuwangi Pilu, Hingga Jadi Korban Perbudakan Juragannya

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT