Kamis, 09 Februari 2023
Lifestyle

Mengenal Desa Banjar di Banyuwangi, Komplek Industri Gula Aren di Lereng Pegunungan Ijen

profile
Ikhwan

01 Desember 2022 14:43

667 dilihat
Mengenal Desa Banjar di Banyuwangi, Komplek Industri Gula Aren di Lereng Pegunungan Ijen
Suroso saat menyadap nira aren (istimewa).

KABUPATEN BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi dikenal memiliki potensi sumber daya alam yang kaya. Selain terkenal karena destinasi wisatanya yang ciamik, produk pertanian dan perkebunannya juga patut diacungi jempol.

Salah satunya berada di Desa Banjar, Kecamatan Licin. Wilayah di Lereng Ijen yang bisa dikatakan menjadi komplek produsen gula aren terbesar di Banyuwangi.

Berada tepat di lereng Gunung Ijen, Desa Banjar memiliki luas wilayah mencapai 4,36 km² dengan geografi perbukitan berketinggian sekitar 500 mdpl.

Padi adalah komoditi yang dominan ditanam oleh masyarakat Banjar. Namun, tidak semua lahan di Desa Banjar menjadi sawah padi. Beberapa lahan juga ditanami komoditas buah-buahan dan kopi.

Selain itu, tanaman yang juga banyak ditemui di desa ini adalah pohon aren. Hal inilah yang kemudian mendorong maraknya produsen gula aren di wilayah Banjar.

Kepala Desa Banjar, Sunandi mengatakan produsen gula aren hampir merata di 4 dusun yakni di Dusun Krajan, Dusun Putuk

Dusun Rembang, Dusun Salakan. Total ada puluhan produsen yang hingga kini masih rutin melakukan aktivitas produksi.

Namun yang paling banyak ada di Dusun Rembang. Produksi sudah sejak lama dilakukan dan biasanya berlangsung secara turun temurun.

"Namun skala produksinya masih kecil. Skala industri rumahan," kata Sunardi. 

Melalui gula aren ini Desa Banjar kemudian tumbuh menjadi desa otentik lewat tradisi dan berbagai sajian kulinernya. Beberapa sajian yang terinspirasi dari gula aren adalah Kopi Uthek dan Cimplung.

Diawali dari Kopi Uthek. Mengapa disebut Kopi Uthek? Jadi masyarakat Desa Banjar biasanya menyajikan secangkir kopi pahit dengan gula aren yang terpisah. 

Pertama, gula aren digigit. Begitu gula sudah di dalam mulut, kopi pun disruput. Perpaduan keduanya akan menghasilkan cita rasa kopi yang unik nan nikmat.

Bunyi "thek" saat menggigit gula aren itulah yang menjadi dasar penamaan Kopi Uthek.

Kemudian ada Cimplung. Bahan dasar kudapan ini adalah singkong atau ketela. Proses pembuatannya biasa dilakukan sembari memasak nira menjadi gula aren.

Proses cukup sederhana yakni, saat nira sudah mulai mendidih dan hampir menjadi pasta gula aren, barulah singkong dicemplungkan.

Ketika sudah dirasa matang, kemudian ditiriskan. Diangin-anginkan sebentar hingga gula aren pada permukaan singkong mengeras atau terkaramelisasi.

Foto : Cimplung Banjar (ikhwan/SJP)

Di daerah lain, Cimplung cenderung lebih berkuah seperti kolak. Umumnya juga eneg karena menggunakan gula merah biasa sebagai bahan pemanisnya. 

Tapi hal itu tidak pada Cimplung Banjar. Karena secara tampilan lebih kering. Rasanya juga pas, karena rasa manisnya murni didapat dari gula aren. 

"Masih banyak yang bisa dinikmati ketika berkunjung ke Desa Banjar, Areal persawahan terasiring yang ada di Desa Banjar mirip seperti Ubud di Bali, sehingga menjadi daya tarik wisata tersendiri," tegasnya.

Sementara itu salah satu produsen gula aren, Suroso (57) mengaku sudah menggeluti usaha ini sejak usia remaja. Ia mewarisi ilmu ini secara turun temurun dari orang tuanya.

Namun memproduksi guka aren bukanlah pekerjaan utama. Ini adalah pekerjaan sampingan, sembari kesehariannya sebagai petani. 

"Saya punya beberapa pohon aren, ini yang kemudian saya manfaatkan," ujar Suroso.

Setiap pagi sembari berangkat menuju ladang. Suroso selalu menyempatkan untuk nderes atau dalam kata lain menyadap nira.

Calon buah aren diiris lalu airnya ditampung dalam wadah berbahan bambu petung, dengan panjang kurang lebih 1 meter dan dapat menampung sekitar 3 liter nira.

"Saya berangkat pagi sekitar jam 6 masang wadah lalu sore saya ambil," ujar pria yang beralamat di Dusun Rembang ini.

Nira yang sudah diambil tidak langsung diproses. Nira sementara dikumpulkan hingga jumlahnya cukup baru kemudian diolah.

Foto : Suroso saat menunjukkan produk gula aren miliknya.

Untuk pengolahan suroso memasrahkan semua pada sang istri bernama Isridah (55). Dari proses memasak di kuali hingga mencetak gula, semuanya ditugaskan kepada istrinya.

"Biasanya produksi dilakukan setiap tiga hari, saat nira yang terkumpul sudah banyak," beber bapak beranak dua ini.

Dalam sekali proses, mampu menghasilkan kurang lebih 20 log gula aren berbentuk tabung dengan panjang kurang lebih 15 cm.

"Jadi tidak dihitung kiloan. Jualnya dihitung bijian. Per log harganya Rp 10 ribu. Jadi 3 hari pendapatan dari gula aren Rp 200 ribu. Kita juga tidak perlu bawa ke pasar biasanya ada pengepul yang ngambil ke sini," tandasnya. (Ikhwan)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Mengenal Desa Banjar di Banyuwangi, Komplek Industri Gula Aren di Lereng Pegunungan Ijen

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT