Sabtu, 29 Januari 2022
Ekonomi

HKTI Lumajang Edukasi Petani Bercocoktanam Secara Organik

profile
achmad fuad

31 Januari 2021 09:59

59 dilihat
HKTI Lumajang Edukasi Petani Bercocoktanam Secara Organik
Panen padi di persawahan Lumajang

LUMAJANG - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Lumajang menggandeng kelompok tani (Poktan) untuk proses pemupukan. Hal ini demi meningkatkan produktivitas tanaman padi di Kabupaten Lumajang.

Menurut Ketua HKTI Kabupaten Lumajang, Iskhak, kepada media ini mengatakan kalau pihaknya mencoba mencarikan solusi dari kondisi kelangkaan pupuk yang saat ini dilamai para petani, sebab pupuk sangatlah dibutuhkan oleh petani.

"Kami memberikan solusi kepada petani untuk bercocok tanam dengan menggunakan pupuk organik, agar tidak terlambat pada musim tanam bulan ini," kata Iskhak, pada Minggu (31/1/2021)

Sebab itu, dikatakan Iskhak, jika petani masih mengandalkan pupuk kimia saja, akan menunggu persoalan kelangkaan pupuk terpecahkan dulu, dan waktu musim tanam bisa mundur dari jadwal.

"Maka dari itu, kami mencoba mengedukasi petani dengan memberikan cara menanam pola pertanian organik, agar hasil produk menjadi produk yang sehat," ungkapnya.

Dan untuk merealisasikan hal tersebut, Iskhak telah mencoba dan sudah mengaplikasinya di lahan pertanian padi milik Khotimah seluas 1,1 hektar (Ha), di Desa Sukosari, Kecamatan Jatiroto, yang merupakan areal lahan kelompok tani (Poktan) Sumber Tani Sukosari.

“Alhamdulillah, pola tanam organik ini sudah kami aplikasikan dan hasilnya lumayan bagus bisa 7 ton per hektarnya,” jelas pria berkaca mata ini.

Dalam penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) ini, menurut Iskhak, petani sangat diuntungkan dari segi biaya atau hasil produksi panennya. Ini sebenarnya, kata Iskhak, juga sebagai wujud program pengenalan POC yang asli besutan warga Lumajang, dengan mengusung tema pupuk organik yang murah dan tidak ribet dapat menghemat biaya pupuk sampai dengan 50 persen.

Hal ini dibenarkan oleh pemilik lahan yang menyatakan, bahwa apabila menggunakan pupuk kimia non subsidi pengeluaran pupuknya mencapai Rp 3,7 juta, karena pupuk subsidi sudah dibatasi. 

Menurut putra pemilik lahan, Tedy, mengulas jika biasanya total pemupukan habis 8 kwintal pupuk berjenis Urea dan NPK. Lahan ini, menurut tim ahli dari HKTI Kabupaten Lumajang, sudah memiliki keasaman yang cukup tinggi, akibat pupuk kimia terus menerus. 

“Saat awal tanam padi kelihatan normal, saat umur 15 hari padi ini sudah hampir mati, akarnya sudah busuk, dan kami sudah mau membongkarnya. Namun secara kebetulan bertemu dengan Ketua HKTI, dan meminta waktu 15 hari untuk mengembalikan kondisi padi yang kami tanam dan alhamdulillah, pagi ini bisa kami panen,” ujar Tedy. 

Tedy juga menerangkan jika pihaknya, masih memakai teknik pemupukan semi organik dengan menggunakan pupuk NPK Phonska subsidi 75 kg dan ZA 50 kg plus 7 jerigen POC ini. 

“Biaya uang yang kami keluarkan untuk pupuk tersebut sebesar Rp 1,7 jutaan. Alhamdulillah mas, kita tidak jadi rugi sebesar Rp 4 jutaan apabila lahan ini kami bongkar,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Tim Analisa Usaha Tani (AUT) HKTI Kabupaten Lumajang, Pepeng, yang menyinggung tentang tersebut, menyatakan bahwa telah terjadi penghematan biaya yang cukup signifikan dengan menggunakan POC ini. Dia membandingkan dengan demplot yang dilakukkan oleh PT Petrokimia Gresik, dengan menggunakan persetengah hektarnya mencapai Rp 1,519.000,- dengan rincian, Petroganik Rp 224 ribu, NPK NS Rp 675 ribu, Phonska Oca Rp 60 ribu, Urea NS Rp 560 ribu. 

“Petani diuntungkan, dengan pupuk kimia pengeluaran pupuknya mencapai Rp 3.038.000,-, namun dengan POC ini dengan luas 1,1 Ha pengeluaran pupuknya hanya Rp. 1.670.000,- saja,” bebernya.

Pepeng berharap, ini jelas sebuah penghematan yang cukup besar, dan petani harus segera mengaplikasikannya biar tidak bergantung dengan pupuk kimia bersubsidi saja. 

Sementara itu, Koordinator PPL Kecamatan Jatiroto, Adi juga menyatakan, bahwa dari hasil ubinan di lahan seluas 2,5x2,5 m2 dapat menghasilkan padi sebanyak 4,470 kg, sehingga produktifitasnya mencapai 6,9 - 7,3 ton Gabah Kering Panen (GKP).

Dan disini, kata Adi, petani tidak boleh ragu untuk mencoba aplikasi POC ini, karena menguntungkan dan hasil panennya nyaris sama dengan pupuk kimia, namun   keunggulan POC ini bisa segera mengkonversi lahan sawah yang ada menjadi lahan pertanian yang berbasis organik.

Tags
Anda Sedang Membaca:

HKTI Lumajang Edukasi Petani Bercocoktanam Secara Organik

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT