Sabtu, 29 Januari 2022
Ekonomi

Industri Gula Merah dan Kerupuk Puli di Lumajang Masih Tak Kantongi Izin

profile
Admin

20 Oktober 2020 19:38

321 dilihat
Industri Gula Merah dan Kerupuk Puli di Lumajang Masih Tak Kantongi Izin
Produksi Gula Merah.

LUMAJANG - Ternyata sampai saat ini, pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang tidak pernah mengeluarkan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) untuk gula merah.

Hal ini disampaikan Kabid Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinkes Kabupaten Lumajang, Indah Kusumawati, saat ditemui diruang kerjanya.

Memang banyak yang mengajukan perizinan untuk PIRT gula merah, namun kata Indah tidak semuanya memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) nya.

Selain gula merah, yang ditolak dalam pengajuan perizinan PIRT adalah usaha kerupuk puli. Yang mana kata Indah, dalam pengolahan kerupuk puli menggunakan formalin, dan itu ada aturan khusus untuk makanan. 

"Memang sudah sering yang mengajukan perizinan PIRT untuk gula merah dan kerupuk puli, namun mereka belum bisa memenuhi standar SNI, jadi kami tidak bisa mengeluarkan izin," jelasnya kepada media ini.

Dan diterangkan Indah, bahwa industri gula merah yang ada di Kabupaten Lumajang menggunakan gula rafinasi, dan penjualannya tidak menggunakan lebel perusahaan.

"Jadi itu yang bisa mengelabuhi produksi gula merah, kalau mereka menggunakan lebel perusahaan, maka mereka wajib berizin SNI," terangnya lagi.

Pada pemberitaan sebelumnya, seperti dikutip wartapos.id, bahwa banyak perusahaan industri gula merah mendatangkan gula rafinasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kasi Kefarmasian Dinkes Kabupaten Lumajang, Sri Lestari, Kamis (19/3) lalu.

Sri Lestari juga menyampaikan bahwa memang ada beberapa PIRT yang mengajukan izin namun karena belum memenuhi syarat dan ketentuan, maka pihaknya belum mengeluarkan izin.

“Sampai sejauh ini belum ada yang kami keluarkan izin untuk PIRT gula merah, pengajuan ada, tapi belum memenuhi ketentuan yang ada pada instrumen kami,” ungkapnya.

Kalau misalnya ada yang mengajukan izin pembuatan gula merah yang menggunakan gula rafinasi, kata dia, nanti definisinya bukan gula merah. Kalau dia bilang mengajukan izin edar untuk gula merah, yang pakai adalah definisi dari gula merah. Maka keluar nama sebagai gula merah.

“Tapi kalau misalnya itu tidak seperti ketentuan definisi gula merah, ya kita tidak bisa mengeluarkan izin pengajuan produk itu sebagai produk gula merah. Makanya masyarakat kita himbau agar ketika membeli produk pangan kalau bisa yang ada nomornya. Nomor izin PIRTnya atau nomor izin MDnya, intinya seperti itu. Karena itu sudah melalui proses verifikasi, seperti itu,” ujarnya.

Ditempat terpisah Sekretaris Dinas Perdagangan Kabupaten Lumajang, Aziz Fahrurrozi, saat dikonfirmasi wartawan juga menyampaikan, bahwa sesuai aturan, gula rafinasi boleh digunakan oleh industri untuk bahan campuran makanan dan minuman. 

“Jadi menurut Balai Konsumen, (gula rafinasi) itu diperbolehkan tapi hanya untuk usaha mamin (makanan dan minuman),” terangnya.

Aziz menjelaskan, tidak sembarang orang bisa mendatangkan gula rafinasi. Segala perizinan harus dipenuhi. Untuk industri makanan dan minuman, salah satunya harus punya izin dari Dinas Kesehatan. 

“Kalau izinnya sudah, silahkan,” ungkapnya.

Sementara itu, temuan dilapangan disinyalir ada PIRT gula merah yang sengaja mendatangkan gula rafinasi, hal itu terpantau di wilayah selatan Lumajang ada aktifitas pembongkaran yang diduga gula rafinasi dari sebuah truk trailer beberapa waktu yang lalu, namun aktivitas tersebut berlangsung singkat dan tanpa jejak, entah siapa yang mendatangkan dan dari mana pasokan gula rafinasi tersebut belum diketahui.

Sekedar informasi, Berdasarkan SK Menperindag NO 527/MPT/KET/9/2004, gula rafinasi hanya diperuntukkan untuk industri dan tidak diperuntukkan bagi konsumsi langsung karena harus melalui proses terlebih dahulu. (Fuad)

Tags
Anda Sedang Membaca:

Industri Gula Merah dan Kerupuk Puli di Lumajang Masih Tak Kantongi Izin

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT