Jumat, 28 Januari 2022
Peristiwa Daerah

Perjuangan Pengajar UIN Malang yang Lolos Seleksi Imam Masjid di United Emirat Arab

profile
Avirista

08 Mei 2021 23:06

166 dilihat
Perjuangan Pengajar UIN Malang yang Lolos Seleksi Imam Masjid di United Emirat Arab
Muhammad Shohibul Huda saat seleksi tahap pertama imam masjid UEA (dokumen pribadi for SJP)

MALANG - Salah seorang pengajar di Ma'had UIN Malang bakal berangkat ke United Emirat Arab (UEA) setelah lolos seleksi imam masjid. Pria bernama Muhammad Shohibul Huda, lolos seleksi program imam masjid di UEA ini merupakan permintaan khusus dari Pangeran UEA Syeikh Mohammaed bin Zayed ke Presiden Joko Widodo. Dimana Pangeran UEA meminta setidaknya 200 orang Indonesia dapat menjadi imam di masjid - masjid di UEA.

Warga Perumahan Istana Bedali Agung, Blok U1 Nomor 6, RT 7 RW 6, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, ini awalnya hanya iseng - iseng didaftarkan sang istri mengikuti seleksi imam asal Indonesia yang bakal dikirimkan ke United Emirat Arab (UEA). Ia awalnya mendapat informasi tersebut dari website Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia pada 2020 lalu.

"Kalau nggak salah itu informasinya tahun lalu, sekitar bulan September. Sebetulnya saya sendiri juga melihat pengumumannya kayak nggak yakin juga, apakah memenuhi kriteria atau bukan. Kriterianya banyak, yang masuk kriteria saya kira di atas umur 25 tahun, ya itu yang akhirnya memberanikan diri mendaftar," ungkap Shohibul Huda, dikonfirmasi suarajatimpost, pada Sabtu (8/5/2021).

Ia pun akhirnya tetap mendaftarkan diri di hari terakhir pendaftaran calon imam besar masjid UEA. Pria 37 tahun ini masih ingat betul saat itu pendaftaran terakhir pada 20 Oktober 2020, sedangkan ia sendiri juga mengirimkan syarat dokumen pendaftaran pada 20 Oktober 2020, sore hari. "Sore hari itu baru daftar, kalau nggak salah ditutupnya malam jam 9 (21.00 WIB) atau jam 10an (22.00 WIB)," jawabnya.

 

Setelah dinyatakan lolos verifikasi dokumen, ia pun akhirnya diminta menuju Jakarta untuk menghadapi seleksi tahap pertama. Di sini penyeleksi dari Kemenag memberikan sejumlah materi seleksi, yang meliputi tahsin atau suara yang merdu, fikih salat, kebahasaan atau fasih dalam berbahasa Arab, hingga memiliki keilmuan islam moderat.

Saat itu ia harus bersaing dengan ratusan peserta seleksi lain, dimana tantangannya yakni harus bisa berkhutbah menggunakan bahasa Arab.

Betapa terkejutnya Shohib, panggilan akrabnya saat namanya dinyatakan lolos seleksi tahap kedua dari sekitar 150 peserta yang ikut di tahap pertama. Dirinya pun masuk ke seleksi tahap kedua dengan 100 orang lainnya. Dimana penyeleksi di tahap kedua ini langsung dari para syeikh dari UEA yang datang ke Indonesia.

"Di tahap kedua ini pengujinya langsung Syeikh-nya dari UEA ada lima orang. Pelaksanaannya Maret kemarin, pelaksanaannya sama tiga hari juga. Saat itu yang datang 90 orang dari 100 orang peserta," terangnya.

"Peserta yang ada itu dipanggil dites oleh para Syeikh itu. Materi tesnya sama sebenarnya, mengenai kebahasaan, tahsin (suara bacaan Alquran), hafalan Alquran, hingga pemahaman islam, kira - kiranya itu. Tapi hasilnya nggak langsung keluar hasilnya, baru beberapa hari kemudian keluar," tambahnya.

Setelah menjalani seleksi tahap kedua, nama Muhammad Shohibul Huda ternyata masuk 27 nama peserta seleksi imam yang bakal diberangkatkan ke UEA. Awalnya ia mengaku tak percaya ada namanya yang lolos, namun saat dikonfirmasi lagi ke pihak Kemenag RI benar ada namanya yang menjadi satu dari 27 peserta lolos.

 

"Nggak nyangka bisa lolos, karena semua tesnya berat. Nggak yang ada muda, yang paling besar porsinya di hafalan 30 juz, tilawahnya, tahfidz, lagu membacanya, sama kemampuan bahasa Arab, porsinya itu," jelasnya.

Ia mengaku saat menjalani tes pemahaman agama, ada keterbatasan bahasa Arab yang dimilikinya, sehingga beberapa kali terpaksa menjawab pertanyaan dengan Syekh-nya dengan menggunakan bahasa Inggris.

"Waktu di tes Syeikh di Bahasa Arab ada yang lupa, mungkin karena nervous atau grogi, akhirnya saya pakai bahasa Inggris, tapi Alhamdulillah yang sana juga paham. Waktu itu dites fikih moderat, semuanya sulit. Tapi saya kira ini semua bukan dari kemampuan saya, tapi karena ridho Allah saya bisa lolos," paparnya.

Kini setelah dinyatakan lolos dan akan diberangkatkan ke UEA, dirinya masih menunggu kepastian waktu keberangkatannya yang bakal dikonfirmasi lagi oleh Kemenag dan pihak UEA-nya. Segala dokumen mengenai pemberangkatan mulai paspor, ijazah terakhir, pas foto, hingga form yang dikirimkan pemerintah UEA, sudah dikirimkannya ke pihak Kemenag.

"Itu disetorkan maksimal 30 April kemarin. Semua sudah selesai. Selanjutnya menunggu info dari Kemenag atau dari UEA-nya kapan. Waktunya yang disampaikan dari Kemenag perkiraan Juni atau Juli, lebih jelasnya masih menunggu," bebernya.

Meski telah dinyatakan lolos ternyata belum banyak yang tahu kiprah Shohib yang lolos seleksi calon imam masjid di UEA. Bahkan pihak keluarga besarnya dan tempat kerjanya sendiri pun banyak belum mengetahui.

"Ketika awal tes nggak pernah cerita keluarga. Ketika ke Jakarta ditanya, saya bilang ceritanya mau ngaji, mau nyampaikan nggak tega juga. Kalau di UIN hanya kawan dekat yang tahu, kalau institusi belum tahu. Kalau nunggu kepastian berangkat. Kedua masih nunggu informasi jadwalnya kapan keberangkatannya, nanti kalau sudah ada informasi pasti kapan keberangkatannya rencana mau sowan (pamit) ke institusi dan menemui Pak Rektor (UIN Malang)," tukasnya. 
 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Perjuangan Pengajar UIN Malang yang Lolos Seleksi Imam Masjid di United Emirat Arab

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT