Sabtu, 29 Januari 2022
Ekonomi

Petani Lokal Malang Keluhkan Kebijakan Impor Gula Rafinasi dengan Harga Lebih Murah

profile
Senopati

13 Februari 2021 13:29

280 dilihat
Petani Lokal Malang Keluhkan Kebijakan Impor Gula Rafinasi dengan Harga Lebih Murah
Ilustrasi gambar gula import

MALANG - Petani gula lokal Malang mengeluhkan gula rafinasi impor yang masuk ke dalam negeri. Apalagi gula rafinasi impor yang masuk ke Indonesia bahkan Malang Raya ini memiliki harga jual yang lebih murah, dengan pengemasan yang lebih menarik.

Itu pula yang membuat para petani gula lokal di Malang raya khawatir produk gula lokal miliknya tak laku di pasaran dalam negeri.

Menurut Ketua Umum Pusat Koperasi Primer Tebu Rakyat (PKPTR) Malang, Hamim Kholili, dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 1 tahun 2019 yang mengatur peredaran gula rafinasi impor, disebutkan gula kristal rafinasi seharusnya tidak diperjualbelikan, namun yang terjadi sebaliknya.

"Memang gula rafinasi di peruntukan sebagai bahan mamin (makan minum), namun peredarannya diatur oleh peraturan Menteri Perdagangan atau Permendag Nomor 01 Tahun 2019 tentang Perdagangan Gula Kristal Rafinasi (GKR). Permendag tersebut merupakan penyempurnaan dari Permendag Nomor 74 Tahun 2015 tentang Perdagangan Antar Pulau Gula Kristal Rafinasi," kata Hamim saat dihubungi pada Sabtu (13/2/2021).

Hamim menjelaskan, bila seharusnya gula ratifikasi yang diimpor ke dalam negeri, berdasarkan aturan tersebut tidak boleh diperjualbelikan pada pasar eceran maupun distributor.

"Gula rafinasi hanya dapat diperdagangkan oleh produsen GKR kepada industri pengguna sebagai bahan baku atau bahan penolong dalam proses produksi dan dilakukan melalui kontrak kerja sama serta dilarang diperdagangkan di pasar eceran. Produsen GKR juga dilarang menjual GKR kepada distributor, pedagang pengecer, dan atau konsumen," terangnya. 

Di pasaran disebut Hamim, gula lokal kalah bersaing dengan gula impor, saat ini gula lokal banyak mengendap di gudang penyimpanan. 

"Sudah ada aturan distribusinya terkait gula rafinasi , tapi juga harus dipantau peredarannya di pasaran, jangan sampai produk yang di peruntukkan untuk menopang keberlangsungan industri makanan dan minuman yang memang harganya jauh lebih murah bersaing dengan gula lokal dari pertanian tebu rakyat," tegasnya.

Hamim menerangkan, harga gula rafinasi impor bisa lebih murah karena diimpor dari negara dengan pertanian maju yang didukung teknologi pengolahan pertanian modern, sehingga bisa menekan ongkos produksi.

"Tentu saja berbeda dengan pertanian tebu lokal kita, saat ini masih di dominasi pengerjaan secara tradisional dengan melibatkan tenaga manusia, sehingga ongkosnya pun juga mengikuti kebutuhan pokok para pekerja," imbuh sosok pengasuh salah satu ponpes ternama di malang

Tercatat saat ini di pasar, harga gula eceran tetinggi pada gula lokal tidak sesuai yang diharapkan. Harga eceran tertinggi di tingkat petani saja hanya dihargai Rp 9.100 per kilogramnya, sementara HET di tingkat konsumen sebesar Rp 12.500 yang dianggap tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan para petani.

"Biaya produksi gula saat ini sudah lebih dari harga patokan petani (HPP) gula yaitu Rp 14.000 per kilogramnya. Sementara dalam aturan harga di tingkat petani diatur Rp9.100 per kg dan di tingkat konsumen sebesar Rp12.500 per kg Usulan tersebut karena adanya penyesuaian kenaikan biaya produksi dan kenaikan harga berbagai komoditas akibat dampak situasi pandemi virus corona 19," paparnya.

Dengan biaya produksi di atas Harga Patokan Petani ( HPP ) menjadi ketentuan yang sulit untuk di ikuti, kelangsungan industri gula lokal bersama petani tebu akan terpuruk.

"HET diharapkan 14.000 minimal 13.500, dengan demikian masih ada ruang bagi kami untuk bertahan, saya berharap hal tersebut bisa merangsang petani tebu menuju swasembada gula," tutupnya. (nes) 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Petani Lokal Malang Keluhkan Kebijakan Impor Gula Rafinasi dengan Harga Lebih Murah

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT