Sabtu, 22 Januari 2022
Peristiwa Daerah

Warga Korban Pungli Kepengurusan PTSL di Jember Bertambah

profile
Rochul

14 Oktober 2021 18:24

701 dilihat
Warga Korban Pungli Kepengurusan PTSL di Jember Bertambah
Posko pengaduan PTSL di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Jember

JEMBER - Dugaan pungutan liar (Pungli) di Jember pada program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) terus bergulir. Kali ini sejumlah warga yang diduga menjadi korban pungli oknum perangkat Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Jember mengadukan ke posko yang dibuat oleh masyarakat. 

Dua posko memang didirikan oleh tokoh masyarakat Desa Kepanjen yakni Wagiso dan Parno. Dua posko ini berlokasi di dua dusun berbeda yakni Dusun Panggul Melati dan juga Dusun Njeni, Desa Kepanjen. 

Terlihat pada Kamis sore (14/10/2021) terduga korban pungli kepengurusan PTSL mengadu ke dua posko itu. Artinya hingga Kamis sore, total terdapat 20 orang warga yang telah mengadukan dugaan pungli. 

Dari penuturan korban, mayoritas dikenakan tarif Rp 1,2 juta hingga Rp 3 juta per orangnya. 

 

"Hari ini kita buka posko pengaduan, ini kita lakukan lantaran warga banyak yang menjadi korban dugaan pungli pengurusan tanah yang dilakukan oleh oknum perangkat desa., Warga kita data alamat dan pengaduan seperti apa lalu nantinya kita serahkan ke kejaksaan Jember," kata Wagiso, tokoh penginisiasi Posko pengaduan.

Wagiso juga kaget saat dibuka Posko pengaduan, ternyata hari ini sudah ada 20 orang yang melapor dengan berbagai permasalahan. Ironisnya lagi ada yang dikasih tanda terima kwintasi oleh salah satu RT.

"Kami Senin kemarin sudah ke kejaksaan untuk permasalahan ini, dan kami akan melanjutkan proses kejelasan masalah ini biar oknum yang bermain main tentang pungli mutasi tanah di hukum, jika Kejaksaan Jember tidak lekas bertindak saya mohon maaf, jika langsung berangkat ke kejati provinsi Jawa timur untuk tindak lanjut masalah ini," tegasnya.

Sementara itu, pihaknya juga menyampaikan jika di Dusun Njeni, tepatnya di rumah Parno juga puluhan pengadu yang datang hingga saat ini.

Terpisah, Amir warga Dusun Panggul melati yang datang ke posko pengaduan sambil membawa dua bukti kwintasi. Ia mengaku juga ditarik uang sebesar Rp 3,8 juta untuk mutasi dua bidang tanah oleh seorang oknum RT

"Saya kena Rp 3,8 juta untuk dua bidang tanah. Dan anehnya di kwintasi ditulis Rp 300 ribu, dan sampai saat sertifikat saya juga belum jadi. Saya curiga tanah saya ini diikutkan program PTSL yang harusnya saya bayar Rp 300 ribu kok sampai bayar Rp 3,8 juta kan ini sudah menipu saya," ucapnya. 

Warga lain dari Dusun Krajan Nur Imam Syafi'i mengaku, juga ditarik uang Rp 6 juta untuk kepengurusan PTSL empat bidang tanah. Namun ia baru membayar Rp 1,5 juta karena tak memiliki uang. 

"Pas waktu sertifikat, jadi istri saya mengambil di desa dan tidak dikasihkan, namun dibawa Kasun bernama Giman. Karena saya butuh sertifikat akhirnya saya beranikan diri mengambil dua sertifikat yang sengaja ditahan oleh Kasun bernama Giman, dan pada saat mengambil saya masih dimintai uang Rp 2 juta, dan kebetulan saya punya uang Rp 1 juta, saya kasih kepada yang bersangkutan, dan sampai sekarang saya masih hutang istilahnya kepada Kasun tersebut, dan beberapa sertifikat saya lainya juga belum jadi sampai saat ini," ungkapnya.

Perlu diketahui, ketimpangan dan dugaan pungli program PTSL ini terkuak ke permukaan lantaran pada hari senin kemarin ada sekitar 7 orang yang datang ke sekretariat Desa Kepanjen. Namun tidak ada petugas yang menemui warga, hingga akhirnya pihak kepala desa meredam warga dan menampung keluh kesah warga tersebut.

Karena tak puas, membuat tokoh masyarakat desa setempat membuat posko pengaduan pungli PTSL. Hasilnya beberapa warga yang merasa ditarik uang untuk kepengurusan PTSL melaporkan ke posko pengaduan.(Lum)

Tags
Anda Sedang Membaca:

Warga Korban Pungli Kepengurusan PTSL di Jember Bertambah

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT