Kamis, 06 Oktober 2022
Pemerintahan

BBM Mahal Nelayan Enggan Melaut, DPRD Banyuwangi : Keluhan Kita Kawal Sampai ke Pusat

profile
Ikhwan

10 September 2022 20:52

469 dilihat
BBM Mahal Nelayan Enggan Melaut, DPRD Banyuwangi : Keluhan Kita Kawal Sampai ke Pusat
Anggota DPRD Banyuwangi Fraksi PDI-P Anom Basori. (SJP)

BANYUWANGI - Persoalan pelik akibat kenaikan BBM yang dialami nelayan di Banyuwangi menjadi perhatian banyak kalangan.

Bukan tanpa sebab, kenaikan BBM membuat biaya operasional nelayan naik berkali-kali lipat. 

Hasil penjualan ikan tak mampu menutupi mahalnya biaya opersional. Buntutnya kini para nelayan enggan melaut.

Menggapi persoalan itu, Anggota DPRD Banyuwangi Fraksi PDI Perjuangan, Anom Basori bersama anggota fraksi lainnya akan melakukan segala cara agar kebijakan itu urung diterapkan.

Pasalnya, kata Anom, dengan tidak bisa melautnya para nelayan, akan menambah jumlah keluarga tidak mampu di Banyuwangi.

"Harus ada keseimbangan, bagaimana pemerintah mengontrol harga tangkapan nelayan. Karena di tengah minimnya tangkapan, modal yang dikeluarkan lebih besar. Ini harus mendapat solusi secepatnya," ujar Politisi PDI Perjuangan ini.

Menurut Anom, kenaikan harga BBM membuat keluarga nelayan kebingungan. Pasalnya, harga jual hasil tangkapan tidak sebanding dengan operasional yang dikeluarkan saat melaut.

"Mereka harus mengeluarkan modal lebih dari biasanya untuk membeli solar agar bisa melaut untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tapi disisi lain, harga jual tidak menentu. Ini memang menjadi permasalahan yang harus diselesaikan oleh pemerintah," cetusnya.

Persoalan yang dialami wong cilik, lanjut Anom, tidak bisa dianggap remeh. Apalagi ini berkaitan dengan nelayan. Bukan rahasia umum bila profesi itu jauh dari kata sejahtera. 

Kebanyakan di Banyuwangi adalah nelayan kecil. Mereka bergantung pada hasil tangkapan untuk menyambung kehidupan sehari-hari.

"Kami akan terus bela persoalan kenaikan BBM ini. Kita akan lakukan langkah-langkah sistematis hingga ke pusat," kata pria asal Muncar tersebut.

Anom meminta masyarakat turut menyuarakan protes kenaikan BBM, baik itu melalui medsos atau platform media lainnya.

"Ayo sama-sama bersuara agar keluhan kita semakin kencang dan didengar. Kami di dewan tidak diam, kami akan melakukan langkah sistematis hingga ke pemerintahan pusat," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan kenaikan BBM membuat nasib nelayan di Banyuwangi kian merana.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Cabang Banyuwangi, Hasan Basri.

Hasan mengatakan dalam beberapa dekade terakhir sumber daya ikan di Muncar menipis karena ekosistem yang rusak.

Nelayan yang biasanya jarak 1 mil sudah mendapatkan ikan dalam dekade terakhir sudah sulit. Nelayan harus menempuh jarak 5 mil baru bisa mendapatkan ikan.

"Saat ini sekali berangkat perahu 5 ribu GT kebawah itu butuh 45 liter. Dulu 1 mil sudah dapat ikan saat ini lebih sulit dan harus menempuh jarak yang lebih jauh. Itu sudah terasa sejak 2010," kata Hasan.

Disatu sisi meski sudah menempuh jarak yang cukup jauh hasil tangkapan nelayan juga tidak menentu. Kadang cukup banyak kadang juga tak memperoleh hasil sama sekali.

"Kadang pulang dapat ikan dijual cuma laku paling Rp 500 ribu. Itu belum dipotong solar dan biaya untuk makan dan lain-lain. Hasilnya sangat nipis," ujarnya.

Oleh sebab itu ditengah kondisi kenestapaan yang dialami nelayan, kebijakan pemerintah menaikkan BBM bagi Hasan hanya akan menambah deretan penderitaan nelayan. 

"Naik seribu rupiah saja sudah terasa bagi nelayan. Lha ini hampir dua ribu kenaikkannya ini menyengsarakan," pungkasnya.

Pihaknya sangat berharap agar Pemerintah mencabut kebijakan tersebut. Agar kesejahteraan bagi masyarakat kecil seperti nelayan itu benar-benar terwujud.

"Kami minta pemerintah untuk meninjau kembali kebijakan tersebut. Karena kebijakan itu sekali lagi sangat tidak mensejahterakan masyarakat kecil," tandasnya.

Salah seorang nelayan Mansur, saat ini mengaku enggan melaut karena tidak mampu membeli solar. 

Melaut ditengah mahalnya BBM bagi Mansur sama halnya seperti pepatah Besar Pasak daripada Tiang.

"Lebih besar operasionalnya daripada penghasilannya. Makanya saya tidak melaut," ujarnya.

Sebagai informasi pada 3 September lalu Pemerintah resmi menaikkan harga BBM. Pertalite yang sebelumnya Rp7.650 per liter naik menjadi Rp10 ribu per liter.

Kemudian, Solar subsidi naik dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter. Pertamax nonsubsidi kini harganya menjadi Rp 14.500 hingga Rp 15.200 per liter. (Ikhwan)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

BBM Mahal Nelayan Enggan Melaut, DPRD Banyuwangi : Keluhan Kita Kawal Sampai ke Pusat

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT