Senin, 28 November 2022
Pemerintahan

DLH Banyuwangi Sebut Bau Busuk Bukan dari TPA Bangsring Tapi dari IPAL Pabrik Seafood

profile
Ikhwan

22 November 2022 15:08

541 dilihat
DLH Banyuwangi Sebut Bau Busuk Bukan dari TPA Bangsring Tapi dari IPAL Pabrik Seafood
Plt KadislhΒ  Dwi Handayani saat meninjau IPAL di pabrik seafood yang berdekatan dengan TPA Bangsring, Wongsorejo, Banyuwangi. (SJP)

KABUPATEN BANYUWANGI – Tempat pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi menuai polemik. 

Sejumlah warga yang bermukim di dekat lokasi melakukan aksi penolakan bila wilayahnya digunakan sebagai TPA. 

Buntutnya warga nekat menghadang 
Truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang hendak membuang sampah ke lokasi, Senin 21 November 2022 kemarin.

Penghadangan itu terekam video dan tersebar di aplikasi perpesanan WhatsApp. Dalam video itu, warga bergerombol dan memaksa dua armada truk muat sampah untuk putar balik. 

Saat dikonfirmasi, Plt Kepala Dinas Lingkungkan Hidup, Dwi Handayani membenarkan kabar adanya penghadangan tersebut. 

Menurut Dwi aksi penghadangan ini dipicu kesalahpahaman warga. Semula warga mengeluh adanya bebauan busuk dan menyengat yang diduga ditimbulkan dari proses di TPA.  

Warga kemudian meminta audiensi, melalui Pemdes Bangsring yang kemudian ditindak lanjuti dengan berkirim surat ke DLH pada 14 November 2022. Oleh DLH baru bisa ditindaklanjuti pada 16 November 2022.  

"Karena pada tanggal 14-15 kami masih ada acara, sehingga baru bisa ditindaklanjuti pada tanggal 16-nya," kata Dwi Handayani saat dikonfirmasi, Selasa (22/11/2022). 

Pada tanggal 16, pihaknya bersama, Forpimcam Wongsorejo dan Pemdes Bangsring melakukan sidak. Hasilnya bebauan busuk itu bukan berasal dari TPA. 

Melainkan bersumber dari air limbah pabrik pengolahan seafood yang lokasinya gandeng dengan TPA.  

"Dari hasil sidak ternyata sumber bau itu berasal dari industri pengolahan air limbah (IPAL) di pabrik coldstorage yang berdekatan dengan TPA," ujar Dwi. 

Menurut dwi, semula penanggungjawab pabrik tidak mengakuinya. Karena semula pabrik berdalih hanya melakukan pengalengan produk rajungan. Dimana seharusnya bila hanya pengemasan saja bau tidak sampai sesanter yang beredar. 

Namun setelah duduk bareng dan terjadi adu argumen, barulah terungkap bahwa pabrik beberapa minggu belakangan melakukan pengolahan gurita mentah. 

"Saya bersama perwakilan dari pihak kepolisian dan pemdes menuju ke lokasi IPAL. Setelah itu mereka (pemdes dan kepolisian) mengakui bahwa baunya adalah dari IPAL dan bukan berasal dari TPA. Mereka sampai tidak kuat mencium baunya. IPALnya tidak representatif, dan proses kinerjanya tidak dilakukan sebagaimana mestinya," pungkasnya. 

Pasca adanya penemuan itu, pihaknya meminta pemdes untuk meneruskan informasi itu kepada warga. Namun entah karena apa informasi itu tidak sampai. 

Sehingga warga masih berasumsi bahwa biang dari bau busuk bersumber dari TPA. Hingga kemudian warga memblokade truk sampah yang mau masuk ke TPA Bangsring. 

"Kemarin waktu ada penghadangan saya datang ke lokasi dan akhirnya saya jelaskan. Justru saya dianggap mengkambinghitamkan perusahaan dan cari-cari kesalahan. Kami mengakui bahwa proses di TPA mungkin masih belum maksimal. Tapi hasil tinjauan kami bahwa bau tak sedap yang akhir-akhir ini tercium warga bukan dari TPA tapi dari IPAL pabrik," ujar Dwi. 

Foto : Dwi saat menemui massa yang menolak adanya TPA di Desa Bangsring, Senin (21/11/2022).

Dwi mengatakan pemilihan lokasi TPA di Desa Bangsring itu telah melalui proses negosiasi dengan pemangku wilayah setempat. Termasuk pendekatan kepada warga serta peninjauan lokasi untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dengan keberadaan TPA disana. 

Menurutnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo itu sifatnya hanya sementara sambil menunggu TPA Sidodadi siap difungsikan. 

DLH menyewa lahan bekas galian C milik warga. Dengan biaya sewa senilai Rp 17 juta per tahun. 

"Ini masih berjalan 3 bulanan. Jadi nanti bayarnya kita sesuaikan. Jadi tidak dihitung tahun tapi dikonversi sesuai lama penggunaan," bebernya. 

Semua proses dilakukan secara terukur dan dijalankan sesuai standart operasional pekerjaan (SOP). Sebelum diuruk, petugas terlebih dahulu melapisi media tanah dengan membran. 

Sampah diuruk secara berlapis dengan tanah. Sembari proses juga disemprot menggunakan Eco Enzym untuk mempercepat pembusukan dan mengurangi bau tak sedap.  

Terakhir pada lapisan teratas diuruk  dengan tanah dengan ketebalan urukan mencapai 2 meter. 

Namun saat ini warga masih kekeuh melakukan menolak. Sehingga dinas terpaksa harus mundur.  

"Oleh warga kami diberi waktu dan diperbolehkan membawa sampah ke Bangsring maksimal sampai hari Rabu. Tapi ini masih kami negosiasikan. Kami juga masih mencari alternatif tempat dan ini sudah ada beberapa opsi," tegasnya. (Ikhwan)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

DLH Banyuwangi Sebut Bau Busuk Bukan dari TPA Bangsring Tapi dari IPAL Pabrik Seafood

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT