Senin, 28 November 2022
Pemerintahan

Pemerataan Tugas Multistakeholder dalam Upaya Menekan Kasus Stunting di Banyuwangi

profile
Ikhwan

03 November 2022 18:32

296 dilihat
Pemerataan Tugas Multistakeholder dalam Upaya Menekan Kasus Stunting di Banyuwangi
Kegiatan lokakarya peningkatan kapasitas Multistakehilder pencegahan dan penurunan stunting di banyuwangi

BANYUWANGI - Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (United States Agency for International Development/USAID) mendukung Banyuwangi dalam menekan kasus stunting. 

Salah satunya, lewat Lokakarya Peningkatan Kapasitas Peran Multistakeholder dalam Pencegahan dan Penurunan Stunting di Banyuwangi.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Kookon ini dihadiri sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), akademisi dan sejumlah pengusaha di wilayah Bumi Blambangan, Kamis (3/11/2022).

Hadir sebagai, narasumber Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi, Amir Hidayat.

Amir mengatakan perkara stunting atau kasus kekurangan gizi kronis pada anak menjadi fokus yang coba ditangani oleh Pemkab Banyuwangi.

Melalui lokakarya yang difasilitasi oleh Usaid Erat ini, OPD bersama sejumlah stakeholder berupaya menyamakan langkah.

"Stunting merupakan perkara kompleks, dalam kegiatan ini kami memperjelas tugas yang harus dikerjakan. Agar kami para stakeholder memiliki langkah yang sama untuk percepatan penurunan stunting," kata Amir.

Amir menyebut penugasan terperinci sesuai bidang dan keahlian masing-masing stakeholder. 

Tenaga kesehatan, yang diberikan tugas untuk memantau kondisi kesehatan anak-anak penderita stunting secara berkelanjutan. 

Stunting umumnya terjadi karena dipicu oleh kurangnya nutrisi yang dipengaruhi oleh rendahnya kesejahteraan keluarga. Disini OPD terkait harus berperan untuk memberikan solusi.

"Misalnya keluarga itu dari kalangan petani atau nelayan pendapatannnya minim. Disini Dinas Pertanian ataupun Dinas Perikanan harus berperan bagaimana agar pendapatan keluarga tersebut bisa meningkat," ujarnya.

Kemudian, masih Amir, peran pengusaha dan korporasi. Guna pemerataan kesejahteraan, korporasi harus memprioritaskan keluarga tersebut sebagai penerima CSR. 

Selanjutnya peran dari Dinas PU CKPP dalam memberikan sanitasi yang layak bagi penderita stunting. Ketersediaan air bersih, hal itu merupakan tugas dari Pudam.

Selain pemenuhan nutrisi, Stunting juga dipicu oleh salahnya pola pengasuhan. Sehingga dalam upaya ini, pemkab turut menggandeng organisasi profesi seperti, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang nantinya ditugaskan untuk memberikan adavokasi dan edukasi.

"Ini PR menyeluruh, kita sudah siapkan by name by adress anak-anak penderita stunting. Hal itu yang menjadi rujukan," tegas Amir.

Terpisah Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Henik Setyorini mengatakan Pemkab selama ini kerja keroyokan dalam upaya penurunan angka stunting.

Dikerjakan lewat Program Banyuwangi Tanggap Stunting (BTS) yang resmi dilaunching tahun lalu.

Kerja keroyokan yang dilakukan Pemkab Banyuwangi membuahkan hasil. Lebih dari 1.500 anak penderita stunting dipulihkan.

Catatan Dinas Kesehatan setempat di tahun 2021, kasus stunting di Banyuwangi masih relatif tinggi yakni 4.371 kasus. Per Agustus 2022, hanya tinggal 2.704 kasus saja.

"Notabene ini terjadi penurunan. Hasil ini merupakan buah dari kerja keras kita selama ini," kata Henik.

Dalam program BTS, semua dilakukan terperinci. Program BTS terbagi menjadi sekup-sekup bagian. Pertama adalah tahap pencegahan dimulai dari saat pernikahan.

Calon pengantin diwajibkan mengisi aplikasi 'elsimail' (elektronik siap nikah dan siap hamil). Ada beberapa quisioner yang harus dilengkapi oleh calon pengantin.

"Sebelum akad nikah dipastikan calon pengantin harus sudah mengisi data-data di aplikasi itu," bebernya.

Hasil dari pendataan menjadi indikator kesiapan calon ibu untuk menjalani proses kehamilan. Calon ibu akan mendapatkan sebuah sertifikat elektronik yang memiliki kode warna. Diantaranya merah perlu pendampingan intens dan warna hijau pendampingan ringan.

"Ketika masuk ke aplikasi nanti akan otomatis ngelink ke masing-masing pendamping yang ada di Kecamatan. Pendamping berperan sentral memastikan kesiapaan kehamilan dan kondisi saat hamil. Mulai dari 270 hari saat hamil dan 730 hari pasca melahirkan," ujar Henik.

Salah satu yang dijaga oleh pendamping adalah pemenuhan nutrisi bagi calon ibu maupun bumil. 

Pemkab juga memilki program lanjutan untuk pemenuhan nutrisi guna menekan angka stunting.

Salah satunya adalah lewat program 'Belanja Tanggal Cantik ASN' yang dilakukan setiap satu bulan sekali. 

Dimana pada setiap tanggal cantik (angka tanggal yang sama dengan angka bulan) ASN akan memborong bahan makanan bernutrisi untuk dibagikan kepada anak penyitas stunting, calon ibu berpotensi stunting dan bumil. Pembagian bahan makanan merujuk by name by adress dari data penderita stunting. 

"Meski saat ini angkanya sudah menurun, capaian ini tidak serta merta membuat kami berbangga. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus menekan kasus, sehingga Banyuwangi bisa Zero Stunting," tegas Henik.

Publisher : Syahrul

Tags
Anda Sedang Membaca:

Pemerataan Tugas Multistakeholder dalam Upaya Menekan Kasus Stunting di Banyuwangi

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT