Selasa, 27 September 2022
Peristiwa Daerah

"Asal Usul Kasada" : Pengorbanan Kusuma, Demi Kemaslahatan Keluarga dan Masyarakat

profile
Achmad

31 Agustus 2022 07:33

367 dilihat
"Asal Usul Kasada" :  Pengorbanan Kusuma, Demi Kemaslahatan Keluarga dan Masyarakat
Pawai karnaval Roro Antheng dan Joko Seger SDN Citrodiwangsan 02 Kabupaten Lumajang. (SJP)

LUMAJANG – Memperingati HUT RI ke - 77  SDN Citrodiwangsan 02 Kabupaten Lumajang, kalau tema 'Asal Usul Kasada' dalam pawai kebudayaan.

Seperti diketahui, Kasada adalah sebuah tradisi yang bertujuan untuk menghormati Sang Hyang Widhi dan para leluhur.

Menurut Kepala Sekolah SDN Citrodiwangsan 02 Lumajang, Ida Husnia mengatakan, 'Asal Usul Kasada'.

Hikayat ini, mengisahkan tentang Roro Antheng dan Joko Seger, sampai muncul nama suku Tengger, di pegunungan Bromo, Kabupaten Probolinggo.

Disini, kata Ida Husnia, ada sebuah nilai-nilai moral dari cerita ini, yaitu berkenaan dengan seorang anak yang ingin membahagiakan kedua orang tuanya dan menyelamatkan orang lain dari bencana walaupun dirinya sendiri yang dikorbankan. 

Hal itu ditunjukkan oleh salah satu anak, yang bernama Kusuma, yang berani mengorbankan dirinya sendiri untuk keselamatan keluarga dan masyarakat. 

"Kusuma merupakan pahlawan bagi keluarga dan suku Tengger," kata Ida kepada suarajatimpost.com . Selasa sore, 30 Agustus 2022 kemarin.

Bukan hanya itu, Ida Husnia, ada juga nilai ketuhanan yang dapat dipetik, yaitu meminta kepada Tuhan jika mempunyai suatu keinginan, pasrah akan takdir Tuhan, dan menunaikan janji yang telah diikrarkan. 

"Yang ketiga yaitu ada nilai kebudayaan, yaitu adanya seserahkan sesajen ke kawah Gunung Bromo untuk menghindari bencana," ungkapnya.

Seperti diceritakan dalam hikayat, pada zaman dahulu, hiduplah gadis cantik bernama Roro Anteng, seorang putri bangsawan anak dari Raja Majapahit dan permaisurinya. 

Roro Anteng tumbuh menjadi gadis cantik, pun dengan Joko Seger yang tumbuh menjadi pemuda tampan.

Banyak pemuda yang ingin meminang Roro Anteng, namun mereka semua ditolak olehnya.

Roro Anteng jatuh cinta pada Joko Seger, dan keduanya kemudian menikah. 

Mereka hidup berdua dan membangun pemukiman baru di wilayah Gunung Bromo.

Desa ini dinamakan Tengger, sebagaimana gabungan nama keduanya, Roro An(teng) dan Joko Se(ger).

Setelah menikah selama bertahun-tahun, sayang sekali bahwa mereka belum juga dikaruniai anak.

Karena keinginannya yang sangat kuat tersebut, Joko Seger kemudian memutuskan untuk bertapa di Watu Kuta, dengan tujuan memohon diberikan keturunan oleh Sang Hyang Widhi. 

Tekadnya sudah bulat, Joko Seger bahkan besumpah pada Dewa jika ia diberikan 25 anak, maka salah satunya akan dipersembahkan di kawah Gunung Bromo.

Seketika itu juga muncullah jilatan api dari kawah, dan Roro Anteng pun mengandung.

Roro Anteng kemudian melahirkan sepasang bayi lelaki kembar. Begitu pula di tahun-tahun berikutnya, ia melahirkan bayi-bayi kembar.

Bertahun-tahun berlalu, keduanya kini telah memiliki 25 orang anak. 

Namun seperti terlena akan kebahagiaan yang diimpikan selama ini, Joko Seger lupa janjinya kepada sang Dewa bahwa ia akan mempersembahkan salah satu anaknya.

Suatu malam, Joko Seger ditegur oleh Dewa melalui mimpi. Dewa mengingatkan akan janjinya dahulu jika telah memiliki 25 anak, maka ia akan mempersembahkan salah satunya ke kawah Gunung Bromo. 

Joko Seger kemudian bercerita pada Roro Anteng. Ia bimbang, sebab pada satu sisi Joko Seger ingin menepati janji, tapi ia sangat menyayangi semua anak-anaknya.

Setelah bercerita pada istrinya, Joko Seger kemudian menyampaikan hal ini pada ke-25 anaknya. 

Semuanya terkejut mendengar pernyataan ayahandanya yang ingin menumbalkan anaknya. Sontak saja mereka menolak.

Kecuali Kusuma, si bungsu yang rela menjadi persembahan pada Dewa. Tepat di tanggal 14 bulan Kasada, Jaya Kusuma akhirnya menceburkan diri ke kawah Gunung Bromo untuk memenuhi janji ayahnya, Joko Seger. 

Sebelum melakukan hal ini, ia berpesan pada penduduk untuk mempersembahkan sesaji hasil bumi mereka di tanggal yang sama setiap tahun. 

Hal inilah yang menjadi alasan masyarakat Tengger mempersembahkan hasil bumi ke kawah Gunung Bromo setiap tangga 14 bulan Kasada.

Tradisi untuk menghormati arwah leluhurnya tersebut, maka tradisi ini disebut Yadnya Kasada. 

Yadnya Kasada alias upacara oleh masyarakat Tengger di Gunung Bromo adalah upacara sesaji hasil bumi kepada Sang Hyang Widhi. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun, di hari ke-14 bulan Kasada dalam kalender Jawa.  (Fuad)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

"Asal Usul Kasada" : Pengorbanan Kusuma, Demi Kemaslahatan Keluarga dan Masyarakat

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT