Senin, 28 November 2022
Peristiwa Daerah

Disebabkan Pasien Meninggal, Keluarga Mengamuk Aniaya Perawat di Jember

profile
Rochul

21 November 2022 21:38

494 dilihat
Disebabkan Pasien Meninggal, Keluarga Mengamuk Aniaya Perawat di Jember
Ilustrasi penganiayaan. (istimewa)

KABUPATEN JEMBER – Salah satu perawat Puskesmas Ajung, Fransisko Redi warga Desa/Kecamatan Ajung, Jember, menjadi korban penganiayaan dari keluarga pasien.

Penganiayaan terjadi diduga sang perawat dinilai tidak memberikan pelayanan yang baik saat merawat pasien.

Frans mengaku mendapat tendangan dan pukulan di beberapa bagian tubuhnya. Dimana dugaan tindakan penganiayaan itu, dilakukan oleh salah seorang kakak pasien.

Kronologi yang diceritakan Frans, pasien itu saat mendapat perawatan dan akan dirujuk ke rumah sakit. Nahas, pasien meninggal di tengah perjalanan ke rumah sakit.

Saat dikonfirmasi sejumlah wartawan, Frans mengatakan tindakan penganiayaan itu terjadi sekitar Jumat sore 18 November 2022 lalu.

“Kejadian itu bermula, saat ada seorang pasien yang dengan kondisi tidak sadarkan diri dibawa ke Puskesmas Ajung. Saat itu, pasien diantar oleh kedua orang pemuda saya tidak tahu apakah masih keluarga pasien. Menyampaikan kondisi adiknya sedang sakit,” kata Frans, Senin (21/11/2022).

Saat dalam perawatan, lanjutnya, kondisi pasien tidak sadarkan diri. Kemudian dilakukan pemeriksaan oleh dokter jaga puskesmas, dan disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit.

“Saya sampaikan kepada dua pemuda yang mengantar ke puskesmas, agar menyiapkan dokumen pendukung jika dirujuk dengan menggunakan BPJS," katanya.

Kemudian kedua pemuda itu pulang, dan kembali lagi ke puskesmas bersama nenek pasien, dan seorang kakaknya yang merupakan pelaku yang menendang dirinya.

Saat diperiksa dokumennya, kata Frans, identitas pasien belum menjadi satu kartu keluarga (KK) dengan neneknya. Bapak pasien, lanjut Frans, sudah meninggal, ibunya sedang bekerja di Malaysia.

“Akhirnya saya arahkan untuk nantinya mendapat perawatan pasien jalur umum. Sebelum itu saya sudah menghubungi pihak rumah sakit, pertama RSD dr Soebandi tapi sudah penuh," ungkap Frans.

Tidak berhenti berupaya, Frans kemudian menghubungi RS Kaliwates dan ternyata juga sudah penuh.

"Terakhir saya hubungi RS Bina Sehat, dan bisa dirujuk ke sana. Saya menghubungi lewat telepon duduk yang ada di puskesmas,” katanya.

Saat sedang berkomunikasi dengan nenek pasien dan mencari rumah sakit rujukan, Kakak pasien yang notabene diduga pelaku penganiayaan, naik pitam dan minta agar pasien segera ditangani.

“Saya jelaskan jikankami masih mencari rumah sakit rujukan, tapi marah-marah. Akhirnya diputuskan kita bawa ke RS Bina Sehat, kita antar pakai mobil ambulans," imbuh dia.

Saat perjalanan ke rumah sakit, kondisi fisik pasien menurun, kemudian Frans menyarankan sopir ambulans untuk berhenti di Puskesmas Mangli. Disana korban dinyatakan meninggal.

“Saat itu saya koordinasi dengan Dokter Puskesmas Ajung, menyampaikan kondisi pasien. Saat masih telponan saya mendapatkan tendangan dari kakak pasien itu," paparnya.

Dalam kondisi itu, Frans memutuskan tidak melawan, ia tetap berusaha berkomunikasi dengan nenek pasien, terkait pengantaran jenazah.

"Karena nenek pasien meminta jika diantar ke rumah duka, sesuai permintaan kami antar,” sambungnya menjelaskan.

Ketika sampai di rumah duka, Frans menceritakan, tindakan penganiayaan oleh pihak keluarga pasien kembali dialami olehnya.

“Saat saya masih menurunkan jenazah dari mobil ambulans dibantu sopir. Saya dimaki-maki dan ada ucapan kotor, saya juga ditonjok (dipukul) bagian dada. Rusuk sebelah kanan saya juga ditendang,” ucapnya.

Frans dituding oleh kakak pasien, tidak becus menangani perawatan adiknya sehingga menyebabkan sampai meninggal.

“Bahkan kerasnya tendangan itu, juga masih membekas di baju APD saya. Karena kan saya posisi juga masih pakai baju APD sesuai prosedur. Tapi bukan APD untuk penanganan kasus Covid, hanya seragam biasa,” ujarnya.

Karena tindakan dugaan penganiayaan yang dialami, Frans kemudian didampingi pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jember, membuat laporan ke Mapolsek Ajung. Frans melaporkan tindakan penganiayaan yang dialami.

Terkait hal ini, Kapolsek Ajung Iptu Agus Idham Khalid membenarkan tentang adanya dugaan tindak penganiayaan yang dialami seorang perawat di Puskesmas Ajung itu.

“Untuk hal itu, hari ini kami panggil (korban dan terduga pelaku) ke Mapolsek Ajung. Benar memang ada laporan soal dugaan tindakan penganiayaan,” kata Idham saat dikonfirmasi di Mapolsek Ajung.

Ditanya identitas terduga pelaku, dan kronologi terkait tindakan dugaan penganiayaan yang dialami perawat itu, Idham masih enggan menjelaskan detail.

“Untuk lebih jelasnya, masih kami panggil ini. Nanti kami juga masih koordinasi dengan Reskrim. Mohin waktu nanti perkembangan saya sampaikan. Korban (perawat) sudah melakukan proses visum,” pungkas dia. (Ulum)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Disebabkan Pasien Meninggal, Keluarga Mengamuk Aniaya Perawat di Jember

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT