Kamis, 11 Agustus 2022
Peristiwa Daerah

Disinyalir Jadi Penyebab Banjir, 7 Bangunan di Libas SDA Provinsi 

profile
Rochul

05 Juli 2022 15:59

454 dilihat
Disinyalir Jadi Penyebab Banjir, 7 Bangunan di Libas SDA Provinsi 
Bangunan Yang Berada di Sempadan Aliran Sungai Jompo. (SJP)

JEMBER - Sebanyak 7 bangunan ruko di sebelah rumah Bupati Jember, Lingkungan Kampung Ledok, Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates. Ditertibkan dan dirobohkan oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur Wilayah Sungai Bondoyudo Baru. 

Penertiban itu dilakukan, pasalnya ketujuh bangunan itu berdiri di atas aliran Sungai Jompo.

Diketahui total panjang bangunan ruko yang dirobohkan kurang lebih 30 meter. 

Setelah dilakukan pembongkaran dan penertiban. Nantinya akan dikembalikan fungsi sebagai aliran sungai, tanpa bangunan di atasnya.

"Bangunan ini (berdiri) di atas sungai sehingga bisa menyebabkan banjir," jelas Kepala UPT Dinas SDA Pemprov Jawa Timur Wilayah Sungai Bondoyudo Baru, Prabowo. Selasa (5/7/2022).

Terlebih lagi, lanjut dia, penertiban bangunan yang berdiri di atas aliran sungai ini harus dilakukan, karena diprediksi akan mengalami kondisi yang sama. Seperti yang dialami sejumlah ruko Jompo (seberang jalan), yang ambruk sekitar tahun 2020 lalu.

Adanya bangunan di atas sungai, masih kata Prabowo, bukan menjadi penyebab langsung terjadinya banjir, akan tetapi sedikit banyak memang ada dampak dari bangunan tersebut yaitu bisa menjadi embungan dan menyebabkan luberan serta sebabkan genangan di beberapa titik.


"Tapi secara aturan memang tidak boleh ada bangunan yang berdiri di atas sungai. Jadi salah satu penyebab banjir. Karena jika ada debit air yang tinggi dengan kemudian ada bangunan di atasnya, aliran air terhambat. Maka banjir akan terjadi," jelasnya.

"Jadi upaya penertiban bangunan ini setidaknya meminimalisir terjadinya banjir. Karena kalau terjadi banjir akan meluap dan merugikan warga sekitar," terang Prabowo.

Untuk penertiban ini ada 7 bangunan, kata Prabowo, dengan total panjang bangunan kurang lebih 30 meter, dan penertiban juga dilakukan hingga 10 hari kebelakang dan juga melibatkan alat berat.

"Ke depan setelah dilakukan penertiban bangunan ini. Akan kami komunikasikan dengan pemerintah kabupaten setempat. Agar jangan sampai terjadi banjir lagi di wilayah Jember. Intinya fungsi sungai harus dikembalikan semestinya," ucap dia.

Untuk penertiban bangunan yang berada di bantaran sungai ataupun berdiri di atas sungai juga akan terus kita lakukan di beberapa titik lokasi lain. 

"Mulai dari bersurat juga menghimbau agar jangan ada bangunan berdiri di atas sungai. Seperti di daerah Lumajang, Jember, dan Banyuwangi yang menjadi wilayah kerja kami," ucapnya.

"Kami juga akan mengecek kondisi sungai, jika ada yang tergerus akan dilakukan dengan pembangunan plengsengan. Proses penertiban bangunan ini akan berlangsung kurang lebih selama 10 hari ke depan," imbuh dia.

Terpisah, menurut salah satu pemilik ruko Yeni, bangunan yang dirobohkan adalah toko miliknya, yang sudah ada sejak tahun 80 an.

"Kita dulu beli ruko ini, bangunan ini kan dibangun masih ada keluarga saya (bapak). Memang bangunan pemerintah. Tapi untuk bangunan ini (pengembangan), kan swasta. Dulu belinya dan bangunan sekitar tahun 80 an. Saya di sini 20 tahunan, sebelum itu sudah ada keluarga saya," kata Yeni.

Namun ditanya apakah ada bukti surat jual beli terkait ruko yang sudah puluhan tahun ditempatinya itu. Yeni tidak bisa menunjukkan.

Akan tetapi, lanjut Yeni, terkait pembongkaran dan penertiban bangunan. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan soal pembongkaran saluran air dan listrik.

"Kalau surat ada (pemberitahuan pembongkaran bangunan), diberi waktu itu. Tapi yang saya sayangkan, waktu mau bongkar saluran air atau listrik, itu tidak ada pemberitahuan. Gembok (toko) saya dirusak, listrik diambil. Mau suruh keluar kasih surat, tapi bongkar air dan listrik tidak. Itu kan gak benar," ucapnya.

Namun demikian, kata Yeni, sebelum dilakukan pembongkaran total bangunan ini. Dirinya sudah memindahkan barang-barang dari toko miliknya.

"Saya pemilik toko listrik di sini. Sebelumnya sudah kita lakukan (pemindahan barang-barang dagangannya). Karena seperti pintu harmonika ini kan punya kita sendiri," papar dia.

Namun terkait lokasi baru untuk tempat berdagang usahanya, Yeni mengaku sudah ada lokasi baru.

"Rencana ada lokasi lain untuk tempat toko baru. Tapi yang gitu, dari pemerintah tidak ada ganti rugi juga," ucapnya.

Disinggung soal bangunan ruko tempatnya berdagang berada di sebelah rumah Bupati Jember.

"Kebetulan di sebelah bangunan yang dibongkar ini juga ada bangunan bupati. Ya nilai sendiri lah gimana kira-kira. Saya mau ngomong juga takut salah," pungkasnya.(Lum)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Disinyalir Jadi Penyebab Banjir, 7 Bangunan di Libas SDA Provinsi 

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT