Jumat, 20 Mei 2022
Peristiwa Daerah

Mahasiswa Sumenep Geruduk Kantor Parlemen, Minta DPRD Tolak Kenaikan BBM

profile
Iruel

05 April 2022 22:24

225 dilihat
Mahasiswa Sumenep Geruduk Kantor Parlemen, Minta DPRD Tolak Kenaikan BBM
Aliansi BEM Sumenep saat melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPRD setempat. (Khoirul/suarajatimpost.com)

SUMENEP — Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Sumenep (BEMSU), Madura, Jawa Timur demo kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.

Mereka menolak kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM jenis pertamax. Diketahui, per tanggal 1 April 2022 kemarin, secara resmi pemerintah menaikkan harga BBM jenis pertamax dari Rp9.000 menjadi Rp12.500 per liter. 

Kenaikan pertamax yang notabene mayoritas dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas, ternyata juga berimbas pada konsumen menengah ke bawah. 

Pasalnya, kenaikan BBM jenis pertamax yang sangat signifikan membuat sebagian besar konsumen pertamax beralih pada pertalite, sehingga realitas di lapangan menunjukkan adanya kelangkaan BBM pada jenis pertalite.

Sebagaimana investigasi tim yang dibentuk Aliansi BEM Sumenep (BEMSU), bahwa ketidaktersediaan BBM jenis pertalite ditemui di beberapa POM Bensin area Kota Sumenep. 

"Bahkan di bensin eceran yang dijual di toko-toko pedesaan pun juga mengalami kelangkaan, sehingga mau tidak mau masyarakat harus membeli BBM jenis pertamax walaupun dengan harga sangat tinggi yaitu di angka Rp13.500 sampai Rp14.000 per liternya," ungkap Ketua BEM Sumenep, Nur Hayat kepeda media ini,  Selasa, 05/04/2022.

Hayat mengaku baru-baru ini juga melihat sinyal dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut  Binsar Panjaitan bahwa kenaikan harga tidak hanya untuk BBM jenis pertamax. Pertalite dan gas LPG 3 Kg juga akan mengalami kenaikan secara bertahap. 

"Narasi pahit yang bergulir secara terbuka ini tentu sangat meresahkan rakyat. Pada suatu kondisi di mana masyarakat masih berjuang dalam memulihkan ekonomi akibat pandemi covid-19, dipaksa mengkonsumsi kebutuhan pokok dengan harga yang tinggi," kesalnya.

BBM sendiri sebagai salah satu komoditas penting dalam aktifitas ekonomi, dikatakan Hayat akan berpengaruh besar terhadap harga pokok lainnya dan menciptakan inflasi.

Dengan kemampuan daya beli masyarakat yang lemah dan kebutuhan pokok yang melambung tinggi. Hal ini tentu akan meningkatkan angka kemiskinan masyarakat di Indonesia.

Ironinya, kenaikan harga BBM saat ini sangat berbeda dengan kenaikan BBM pada masa-masa sebelumnya.

Jejak digital menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM biasanya melahirkan protes dan gelombang penolakan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat. 

"Sedangkan hari ini kenaiikan BBM disetujui langsung oleh Komisi VI DPR RI dengan dalih penyesuaian dengan harga ke ekonomian minyak dunia," ujarnya.

"Bahkan sejumlah elit politik juga menganggap kenaikan harga BBM inni sudah memenuhih standar keadilan," ujarnya.

Atas dasar realitas, BEMSU meminta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk tetap pada fungsinya sebagai legislator dan tetap merepresentasikan kepentingan rakyat. Dengan itu agenda aksi turun jalan ini membawa beberapa tuntutan, yaitu:

1.    Menuntut DPRD Kabupaten Sumenep untuk menolak kenaikan harga BBM jenis pertamax dan wacana kenaikan BBM jenis pertalite dan Gas LPG 3 Kg.

2.    Menuntut DPRD Kabupaten Sumenep memberikan kritik dan pengontrolan terhadap harga minyak goreng yang melambung tinggi dan kenaikan kebutuhan pokok lainnya.

3.    Menuntut DPRD Kabupaten Sumenep menindak lanjuti tuntutan massa aksi dengan menyurati DPR RI selambat-lambatnya 3 x 24 Jam.

Editor: Doi Nuri

Tags
Anda Sedang Membaca:

Mahasiswa Sumenep Geruduk Kantor Parlemen, Minta DPRD Tolak Kenaikan BBM

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT